Edisi: 1.561
Halaman 1
Integritas |Independen |Kredibel
KALABAHI, KUPANG TIMES – Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPC GAMKI) Kabupaten Alor menyoroti dampak El Nino yang menyebabkan krisis air bersih yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.
Dampak kekeringan dilaporkan dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah, termasuk yang terparah di wilayah Kepala Burung, Otvai, Kecamatan Kabola, Mataru, Lembur, Pantar Timur, hingga Pulau Tereweng dan Pulau Pura.
berdasarkan laporan yang disampaikan pada rapat bersama DPD GAMKI NTT dan DPC GAMKI se-NTT, Minggu (11/10/2026), GAMKI Alor mengungkapkan, sebagian masyarakat harus mengeluarkan biaya hingga IDR 500.000 untuk membeli satu truk tangki air berkapasitas sekitar 5.000 liter.
Kondisi tersebut dinilai menjadi beban ekonomi yang berat, terutama bagi keluarga berpenghasilan rendah. • di tengah kekeringan berkepanjangan, air bersih yang merupakan kebutuhan dasar masyarakat justru semakin sulit diperoleh dan membutuhkan biaya besar.
Ketua DPC GAMKI Kabupaten Alor, Dematrius Mautuka, melalui laporan organisasi tersebut menekankan, perlunya langkah konkret pemerintah untuk menjamin ketersediaan air bersih bagi masyarakat, baik di wilayah daratan maupun kepulauan.
"Kita semua perlu memikirkan dampak El Nino yang mengakibatkan kriris air bersih di sejumlah wilayah Alor. • misalnya di Otvai, terjadi krisis air yang luar biasa. • Bayangkan masyarakat harus membeli air dengan harga IDR 500 ribu/tengki berkapasitas 5000 liter."|Dematrius Mautuka (Ketua DPC GAMKI Alor), Minggu (11/10/2026) di Kalabahi, Alor.
Warga Pulau Harus Mencari Air ke Wilayah Lain,
Krisis air bersih tidak hanya terjadi di wilayah daratan Kabupaten Alor.
masyarakat di pulau-pulau kecil juga menghadapi tantangan berat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
di Pulau Tereweng, masyarakat dilaporkan harus mengambil air hingga ke wilayah Kecamatan Pantar Timur.
Sementara itu, masyarakat Pulau Pura mulai mengalami kesulitan air bersih dan sebagian warga dilaporkan mencari air hingga ke wilayah Kecamatan Alor Barat Laut.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa; persoalan air bersih di Alor tidak semata-mata berkaitan dengan berkurangnya ketersediaan air saat musim kemarau.
Kondisi geografis kepulauan turut menjadi tantangan dalam mengakses sumber air yang layak dan terjangkau.
GAMKI Alor menilai, masyarakat di wilayah kepulauan perlu mendapatkan perhatian khusus melalui penyediaan sumber air setempat, pembangunan sarana penampungan air hujan, teknologi penyulingan air laut menjadi air tawar, serta sistem distribusi air yang sesuai dengan kondisi geografis masing-masing wilayah.
selain Pulau Tereweng dan Pulau Pura, laporan GAMKI juga menyoroti kondisi kekeringan pada sejumlah desa di Kecamatan Mataru, Kecamatan Lembur, Kecamatan Pantar Timur, serta wilayah Kepala Burung, Otvai, Kecamatan Kabola, dan sekitarnya.
GAMKI mendorong pemerintah melakukan pendataan secara menyeluruh terhadap desa dan keluarga yang terdampak agar penyaluran bantuan air bersih dapat dilakukan secara tepat sasaran.
GAMKI Soroti Pembangunan Infrastruktur Air,
di tengah persoalan kekeringan, GAMKI Alor turut menyoroti pembangunan infrastruktur air dan irigasi yang dilaporkan belum memberikan manfaat optimal bagi masyarakat.
Salah satu proyek yang menjadi perhatian berada di kawasan hutan di Kecamatan Lembur.
Berdasarkan informasi yang dihimpun GAMKI, proyek air tersebut berada pada posisi ketinggian dan dilaporkan belum memiliki saluran irigasi yang menjangkau areal persawahan masyarakat.
Kondisi tersebut, memunculkan pertanyaan mengenai kesesuaian perencanaan teknis, penentuan lokasi, sistem distribusi air, serta manfaat proyek bagi masyarakat penerima.
GAMKI Alor mendorong, proyek-proyek infrastruktur air yang diduga belum berfungsi optimal dievaluasi oleh instansi teknis terkait, termasuk instansi pengelola sumber daya air di tingkat provinsi.
Evaluasi tersebut dinilai perlu mencakup kesesuaian lokasi dengan kebutuhan masyarakat, kondisi geografis dan elevasi, ketersediaan jaringan distribusi, kualitas pekerjaan, serta manfaat nyata bagi petani dan warga.
GAMKI menegaskan, pembangunan infrastruktur tidak boleh hanya berorientasi pada penyelesaian fisik proyek.
Infrastruktur yang dibangun menggunakan anggaran negara harus dapat berfungsi sesuai tujuan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
meski demikian, dugaan ketidaksesuaian proyek tersebut perlu ditindaklanjuti melalui pemeriksaan lapangan dan dokumen teknis, agar kesimpulan yang diambil didasarkan pada hasil evaluasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Tanam 5.000 Pohon dan Kampanyekan Penghematan Air,
di tengah situasi tersebut, GAMKI Alor menyatakan, terus mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan dan mengantisipasi dampak kekeringan.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah kampanye penghematan air bersih, edukasi agar masyarakat tidak menebang pohon secara sembarangan, serta gerakan penghijauan.
dalam laporan tersebut, GAMKI menyebut telah melakukan penanaman sekitar 5.000 anakan pohon sebagai bagian dari komitmen organisasi terhadap pelestarian lingkungan hidup.
GAMKI juga mengajak pemerintah, gereja, lembaga pendidikan, organisasi kepemudaan, dan masyarakat untuk memperluas gerakan penanaman pohon serta memastikan anakan yang telah ditanam dipelihara hingga tumbuh.
Upaya penghijauan tersebut dipandang sebagai bagian dari langkah jangka panjang untuk menjaga keseimbangan lingkungan dan mendukung perlindungan kawasan resapan air.
Namun, penanaman pohon perlu berjalan bersama pengelolaan sumber daya air dan pembangunan sarana penyediaan air bersih yang memadai.
GAMKI Minta Pemerintah Siapkan Langkah Antisipatif,
dalam laporan yang disampaikan pada forum GAMKI se-NTT, DPC GAMKI Kabupaten Alor merekomendasikan sejumlah langkah penanganan, mulai dari distribusi air bersih darurat hingga pembangunan infrastruktur air yang berkelanjutan.
GAMKI meminta Pemerintah Kabupaten Alor dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur segera memetakan wilayah terdampak, mendata jumlah keluarga yang mengalami kesulitan air, serta memprioritaskan masyarakat yang paling membutuhkan bantuan.
Selain penanganan darurat, pemerintah didorong mengembangkan sarana penampungan air hujan, jaringan perpipaan, sumber air yang layak, dan sistem distribusi yang sesuai dengan karakteristik geografis wilayah daratan maupun kepulauan.
GAMKI mendorong DPRD Provinsi NTT dan instansi teknis terkait untuk memberi perhatian terhadap evaluasi proyek-proyek irigasi yang dilaporkan belum berfungsi optimal.
menurut GAMKI, penanganan kekeringan perlu dirancang dalam program jangka pendek, menengah, dan panjang.
Langkah tersebut penting agar masyarakat tidak terus-menerus menghadapi persoalan yang sama setiap musim kemarau.
"Transparansi informasi mengenai wilayah terdampak, penggunaan anggaran, dan perkembangan program penanganan juga dinilai penting untuk memastikan kebijakan pemerintah berjalan sesuai kebutuhan masyarakat."|Dematrius Mautuka (Ketua DPC GAMKI Alor),
Air Bersih sebagai Kebutuhan Dasar,
GAMKI Alor menilai, krisis air bersih harus ditempatkan sebagai persoalan pelayanan dasar yang membutuhkan kerja sama pemerintah, masyarakat, gereja, organisasi kepemudaan, dan seluruh pemangku kepentingan.
Kondisi masyarakat yang harus membeli air dengan biaya besar atau mencari sumber air hingga ke wilayah lain memperlihatkan pentingnya sistem penyediaan air yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Bagi GAMKI, persoalan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa pembangunan harus direncanakan berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat dan kondisi geografis daerah.
Melalui laporan yang disampaikan dalam rapat bersama DPD GAMKI NTT dan DPC GAMKI se-NTT, GAMKI Alor berharap aspirasi masyarakat mengenai krisis air bersih dapat menjadi perhatian pemerintah dan ditindaklanjuti melalui langkah nyata.
“Air bersih adalah kebutuhan dasar rakyat. Pembangunan harus menghadirkan manfaat. • Lingkungan harus dijaga. • Masyarakat yang mengalami kesulitan harus menjadi prioritas pelayanan."|Dematrius Mautuka (Ketua DPC GAMKI Alor)
GAMKI Alor kembali menegaskan komitmennya untuk terus mendorong kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab iman dan sosial.
'Pemuda Beriman, Gereja Bertumbuh, Alor Dipulihkan.'
BERSUARA KERAS untuk Demokrasi dan Keadilan dan Kejujuran.
• Informasi Artikel:
| Konteks: Hukum, Politik, Birokrasi,
| Penulis: Humas GAMKI Alor (tim)
|Editor: DM
| Sumber: Humas, DPC GAMKI Kabupaten Alor,
| Penerbit: Kupang TIMES

