Pulang Demo, Mantan Ketua BEM UGM temukan Alat Pelacak di Mobilnya, ini Kronologinya.?

Edisi: 1.442
Halaman 1
Integritas |Independen |Kredibel


YOGYAKARTA, KUPANG TIMES - 'Mantan Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto menilai dugaan penguntitan menggunakan alat pelacak oleh orang tidak dikenal ini tidak lazim.'

Tiyo Ardianto baru selesai mengikuti demonstrasi 'Gejayan Memanggil' bersama mahasiswa dan gerakan sipil di Yogyakarta, Sabtu (13/06/26). 

hari itu eks Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada atau BEM UGM berkendara menggunakan mobil.

Tiyo mengatakan, dirinya merasa kurang aman dalam bepergian.

Tiyo meminjam mobil saudaranya sebagai alat transportasi, 

saat di tengah perjalanan seusai aksi, Tiyo mendapati satu notifikasi yang tidak biasa tampil di smartphone-nya.

alat pelacak bernama PBX Finder ditemukan bergerak bersama saya."|Tiyo (aktivis) usai periksa isi notifikasi tersebut.

Tiyo memutuskan turun dari mobil untuk mencari keberadaan alat pelacak tersebut. 

tak lama, satu unit PBX Finder ditemukan Tiyo, tepat di bawah kerangka bodi mobil berwarna hitam tersebut.

Tiyo menghubungi sejumlah teman dekatnya.

teman-temannya menyarankan Tiyo merendam perangkat pelacak tersebut ke air. 

saya tidak tahu siapa yang pasang alat pelacak itu.?"|Tiyo (aktivis) 

Tiyo menduga, dirinya telah dikuntit oleh orang tidak dikenal.

Mahasiswa S-1 Filsafat UGM itu, menilai, penguntitan menggunakan alat pelacak oleh orang tidak dikenal, tidak normal. 

Tiyo menyoroti cara rezim kekuasaan yang kerap meneror rakyat yang mengkritik kebijakan pemerintah.

Tiyo mengungkapkan, belakangan ini, dirinya menerima kabar dari rekan-rekannya di BEM UGM yang juga diganggu melalui pesan dari pengirim tidak dikenal. 

Tiyo mengatakan sudah ada puluhan pesan yang diterima teman-temannya dari nomor yang sama sejak 13 Juni 2026. 

Belum didata berapa banyak, tapi ada kemungkinan 30-an."|Tiyo (aktivis) 

Tiyo menyesalkan cara-cara teror dan intimidasi dipakai untuk menekan masyarakat yang vokal bersuara kritis. 

Padahal, kritik dari masyarakat sipil ditujukan untuk perbaikan bangsa. 

Kritik tersebut, dilakukan atas dasar ketulusan cinta kepada Tanah Air. 

Namun, kepedulian tersebut justru dibalas dengan ancaman dan marabahaya. 

Tiyo menganalogikan kritikan sebagai obat untuk pemerintah yang kini dilanda penyakit akibat kebijakan tidak pro-rakyat. 

“betapa berbahayanya menjadi manusia Indonesia yang mencintai bangsanya,

Kita beri obat untuk penyakit-penyakitnya, tapi ia (?) justru mencoba meracuni kita."|Tiyo (aktivis) 

BERSUARA KERAS untuk Demokrasi dan Keadilan dan Kejujuran.

Informasi Artikel:

| Konteks: Hukum, Kriminal, 

| Penulis: W.J.B

| Sumber: TCO, 

| Penerbit: Kupang TIMES

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

Copyright © 2022 The Kupang Times Newsroom.com ™ Design By The Kupang Times Newsroom.com ®