ENSIKLOPEDI: Mengenal Kongsi Sen Tiong (Kongsi Macan) di Kota Kupang.!

Edisi: 1.322
Halaman 2
Integritas |Independen |Kredibel

      Potret: G.P. Rouffaer|Properti

KUPANG TIMES - Tahukah anda, di abad Ke-18, Kota Kupang memiliki wilayah yang ditempati penduduk asli Negara China. 

dan G.P. Rouffaer adalah orang pertama yang melakukan dokumentasi dan mempublikasi potret atau gambar wilayah pemukiman penduduk China. 

selain pengambilan gambar wilayah pemukiman penduduk, G.P. Rouffaer juga memotret mengambil gambar tempat pemujaan warga Tionghoa (Klenteng) di Kupang dari sisi eksterior. 

Potret atau Gambar tersebut diambil (captured) oleh Rouffaer pada Minggu 3 April 1910.

kemudian Rouffaer menuliskan nama bangunan Klenteng tersebut dengan nama “Kongsi Sen-Tiong” [Rouffaer 1937:63]. 

pada paruh kedua abad Ke-18, Kongsi Sen Tiong dibangun dengan Konstruksi Kayu, dibawah Kepemimpinan Li Jingtang alias Chengyou sebagai Kapten China di Kupang atau sebelum kematian seorang wanita dari Keluarga Kaya pada tahun 1783 yang merupakan salah satu Pendiri Klenteng tersebut. 

Peristiwa, 

Klenteng (tempat pemujaan warga Tionghoa) hancur akibat gempa bumi dashyat yang melanda Kupang pada tahun 1793 [A.J. Lombard & C.S. Lombard 1998:396]. 

Namun, berdasarkan kesaksian Misionaris Heijmering, peristiwa gempa dahsyat tersebut terjadi pada tahun 1795, dimana banyak rumah beratap genteng dan bangunan umum, termasuk gereja dan rumah tinggal roboh atau hancur [Heijmering 1847:197]. 

Kemudian pada bulan Juni tahun 1797, rumah penduduk • kantor residen • gereja dan klenteng yang terletak disekitar pantai Kupang, kembali hancur akibat agresi militer Inggris di Kupang [Heijmering 1847:196-199; Milles 150:33; dan Farram 2007:459]. 

pada hari Sabtu 04 Agustus 1827, terjadi kebakaran hebat disekitar pemukiman baru dekat klenteng tersebut, dan dalam 4 (empat) jam menghanguskan seratus rumah, dimana rumah-rumah yang terbakar adalah rumah batu dan klenteng [Milles 150:33]. 


Tata Kota, 

Kampung China (sebutan zaman itu) terletak bersebelahan dengan Benteng Concordia dan dipisahkan oleh sebuah sungai Noelnino (Kali Kaca). 

di Kampung China tersebut, dibangun rumah-rumah mewah dan elit, sedangkan disekitar klenteng tersebut dibangun tempat tumpukan barang-barang (sejenis gudang) dan di perkampungan tersebut dibangun 400 rumah gubuk dengan pagar bambu [A.J. Lombard & C.S. Lombard 1998:401]. 

Pada tahun 1818, lokasi disekitar klenteng tersebut, berkembang menjadi pemukiman besar, sehingga Kampung China yang dahulunya hanya dikenal bersebelahan dengan benteng Concordia, kemudian meluas hingga ke pemukiman baru di kampung Boni (saat ini dikenal dengan kelurahan Bonipoi) dan kampung Solor. 

menurut penjelasan Nji Tae Ho pemilik Toko Baroe-Baroe, sekitar tahun 1910, jalan raya yang melintasi klenteng tersebut bernama Kampoeng Baroestraat atau Jl. Kampung Baru [KITLV 2008: 1402818], yang saat ini, dikenal dengan Jl. Siliwangi.

Klenteng Kongsi Sen-Tiong, 

Louis de Freycinet seorang warga Perancis dalam perjalanan traveling keliling dunia [Voyage autour du monde sur les corvettes de S. M. l'Uranie et la Physicienne], tiba di Kupang, Pulau Timor pada tahun 1818. 

setibanya di Kupang,p Freycinet mengunjungi Klenteng Kongsi Sen-Tiong yang dalam kondisi rusak pada waktu itu.

Freycinet melihat beberapa altar yang penuh dengan simulakra dewa-dewa dalam porselen, dan semacam tabernakel dari kayu berukir dan disepuh emas, patung berbentuk manusia yang lebih besar dari yang lain. 

di malam hari, Kuil yang terletak di dekat tepi laut tersebut, diterangi dengan lentera kasa besar yang dicat. 

disebelah kiri dan kanan dalam lokasi Klenteng itu terdapat pohon nunuh besar (pohon beringin).

dan di sebelah Klenteng tersebut, terdapat sebuah sekolah bagi anak-anak China, dan sekitar puluhan murid bersekolah disekolah tersebut [A.J. Lombard & C.S. Lombard 1998:409-410;414]. 

setelah mendapat sejumlah informasi dari warga setempat, Freycinet kemudian mengetahui bahwa; Agama dari warga Tiongkok, terdiri dari 3 (tiga) sekte. 

Sekte PERTAMA adalah sekte Cendekiawan, sekte ini didirikan oleh Konfusius 500 tahun sebelum masehi (SM). 

Sekte KEDUA adalah sekte yang dikenal sebagai sekte Penyihir, yang menangani penyembuhan orang sakit melalui praktik magis. 

Sekte KETIGA terdiri dari "Penyembah Fo" dan melekat pada agama Buddha India [A.J. Lombard & C.S. Lombard 1998:408].


Dibangun Ulang, 

Kongsi Sen-Tiong kemudian dibangun kembali (rebuilding) pada tahun 1856 dengan konstruksi pasangan batu. 

Pembangunan klenteng tersebut meliputi 3 (tiga) tahap, antara lain: tahap PERTAMA adalah pembangunan gedung induk pada tahun 1856 • tahap KEDUA adalah penambahan aula belakang pada tahun 1857-1860 • dan tahap KETIGA pembangunan serambi, yang sudah tidak ada lagi pada tahun 1874. 

cukup tahu • proses pembangunan infrastruktur Kongsi Sen-Tiong didukung oleh Kontributor (Pengusaha, Warga). 

diantara kontributor yang mendukung proyek pembangunan Klenteng Kongsi Sen-Tiong pada tahun 1856 tersebut adalah Tjam Sie yang diangkat sebagai Kapten China di Kupang pada tahun 1849 [Dutch East Indies 1849:96].

Kemudian Kapten China di Bangka hingga kematiannya pada tahun 1876 dan Lay Hok Ko alias Li Xueke sebagai Kapten China di Kupang pada tahun 1860 [Dutch East Indies 1860:130], dimana keduanya menyumbangkan 36 dun. 

lalu di antara mereka yang berkontribusi dalam pembangunan serambi, antara lain: mayor Zhong Yixuan dan Tang Yiming sebagai kapten China di Dili dan 2 (dua) kapten di Kupang, yaitu: Li Xueke alias Lay Hok Ko dan Zhong Jinsheng alias Tjoeng Kang Soe [C. Salmon and G. Xiao 1998:729]. 

Lay Hok Ko digantikan Tjoeng Kang Soe sebagai Kapten China (kapitein der Chinezen) di Kupang pada 12 Agustus 1866 (Dutch East Indies 1882:186).

Timeline, 

sebelum Kongsi Sen-Tiong hancur karena gempa dahsyat di Kupang pada tahun 1795 dan agresi Inggris di Kupang pada tahun 1797 serta kebakaran hebat yang melanda kampung China di Kupang pada tahun 1827, tidak pernah digambarkan secara jelas dan rinci tentang eksistensi kedua patung macan sesuai foto atau gambar yang beredar saat ini, terutama bersumber dari koleksi digital universitas Leiden (KITLV) dan Tropen Museum.

Ketika Kongsi Sen-Tiong sebagai tempat pemujaan orang-orang Tionghoa dibangun kembali (rebuilding) dari 1856-1874, juga tidak disebutkan atau terlihat eksistensi dari kedua patung macan sebagai penjaga gerbang bangunan Kongsi Sen-Tiong, terutama pada tahap pembangunan dibagian serambi pada tahun 1874. 

oleh karena itu, kemungkinan besar atau diduga peletakan kedua patung macan di serambi Kongsi Sen-Tiong terjadi setelah (pasca) tahun 1874. 

Peletakan kedua patung macan sebagai penjaga gerbang bangunan Kongsi Sen-Tiong kemungkinan besar terjadi diantara tahun 1874 sampai 1910. 

sejak eksistensi kedua patung macan ini, maka oleh penduduk setempat menyebut nama klenteng tersebut dengan “Kongsi Macan” dan ada pula yang mengatakan “Kong Shi Macan."


Patung Singa, 

Eric Thake salah satu tentara Angkatan Udara Royal Australia (RAAF) yang semula bekerja sebagai juru gambar, dan karena bakatnya, Thake diangkat sebagai seniman perang (warartist) di tahun 1944 pada liputan sejarah Perang Dunia II di Kupang, Timor. 

Thake juga mengunjungi Kongsi Sen-Tiong, dimana dindingnya dilapisi porselen indah berwarna hijau. 

terdapat dua patung singa penjaga gerbang bangunan Kongsi Sen-Tiong di tepi Pantai Koepang. 

menurut Thake patung-patung tersebut terlihat menawan walaupun sederhana. 

Patung singa ditutupi seluruhnya dengan pecahan porselin China. 

sisi dari patung tersebut berwarna cokelat tua yang terbuat dari potongan mangkuk besar, dada dan perut ditutupi dengan sisik yang terbuat dari batu giok hijau dari piring. 

sedangkan pada surai dan ekor berwarna hijau dan biru. 

mata singa terbuat dari cangkir putih bulat dengan lubang di tengah, sepotong kaca hitam membentuk pupil mata, kaki kanan dari satu singa dan kaki kiri dari singa yang lain bertumpu pada bola hitam yang dihias dengan pola bunga putih. 

dibelakangnya terdapat dinding porselen panjang berwarna hijau (Thake 2012). 

Pada tahun 1960-an, bangunan klenteng tersebut di robohkan untuk dibuat barisan pertokoan di sekitar lokasi tersebut (A.J. Lombard & C.S. Lombard 1998:409). 

Prasasti, 

Epigrafi China, Prasasti yang tergantung di Dinding Kongsi Sen-Tiong pada Tahun 1818,

Epigrafi adalah temuan arkeologi yang berisi tulisan, yang berasal dari masa lampau, salah satu contohnya adalah prasasti. 

dan Louis de Freycinet seorang warga Perancis dalam perjalanannya keliling dunia [Voyage autour du monde sur les corvettes de S. M. l'Uranie et la Physicienne], tiba di Kupang, Timor pada tahun 1818. 

Ketika Freycinet mengunjungi klenteng Kongsi Sen-Tiong yang dalam keadan rusak pada waktu itu, dirinya melihat bingkai-bingkai prasasti yang tergantung pada dinding klenteng tersebut. 

Namun, arti dari tulisan pada bingkai-bingkai tersebut, belum diketahui olehnya. 

Kemudian Louis menyalin tulisan-tulisan tersebut sesuai dengan aslinya dalam buku catatannya. 

sekembalinya ke Perancis, Louis mengusulkan kepada seorang temannya yang bernama Abel Rémusat untuk memeriksa tulisan-tulisan tersebut. 

ini adalah upaya pertama mereka untuk mengetahui epigrafi China pada klenteng Kongsi Sen-Tiong di Kupang, Timor. 

ternyata berdasarkan hasil dari pemeriksaan terhadap epigrafi China tersebut, tulisan-tulisan tersebut menggambarkan tulisan pada batu nisan di makam atau kuburan. 

Tulisan tentang 3 (tiga) batu nisan dari pemakaman China di Kupang, pertama kali dipublikasi pada Voyage découvertes au Terres australes, 2nd ed. [1824]. 

Berikut ini Adalah arti atau terjemahan dari Epigrafi China pada prasasti yang tergantung pada dinding Kongsi Sen-Tiong, antara lain:

No. 1 • [1783]

“Makam mendiang ibu kami, wanita Zhang Cihui, née Guo, memiliki gelar ruren dan yang hidup selama dinasti Qing • didirikan pada hari yang baik di pertengahan musim gugur tahun guimao era Qing dari Qianlong oleh kedua putranya yang saleh; Feilong dan Rong (?) dan oleh kedua putrinya Zhenniang dan (?) Niang."

No. 2 • [1803] 

“Makam mendiang Tuan Wang Shunxing, alias [Ya] Ying, penduduk asli Jiangpu (distrik Nanhai, Guangdong) dan putrinya Binniang, (?) pada hari yang menyenangkan di bulan musim semi pertama tahun kedelapan era Jiaqing • didirikan oleh menantunya Li Senliu dan putrinya Baoniang."

No. 3 • [1813]

Makam mendiang ayah kami, Tuan Li Jingtang, alias Chengyou, memiliki jabatan Kapten dan gelar daxuesheng • didirikan pada hari yang baik di bulan pertama musim panas di tahun Ke-18 era Qing dari Jia [Qing] olehnya putra, termasuk Kairong. 

almarhum pernah tinggal di wilayah selatan Jiaying (Guangdong) (?) Senliu (?). 

Catatan: tanda dalam kurung (?) menunjukkan karakter yang bacaannya diragukan atau karakter yang sama sekali tidak dapat dipahami dengan karakter wei sesuai dengan penggunaan epigraf China.

Ketiga Prasasti tersebut menarik, karena beberapa alasan, antara lain:

Makam PERTAMA, mereka menunjukkan bahwa; orang Tionghoa di Kupang, seperti orang-orang di pulau-pulau lain di Nusantara, sangat terikat dengan adat-istiadat negara asal mereka, dan orang-orang terkaya di antara mereka memiliki batu nisan yang terukir dalam tradisi terbaik; karakter, seperti yang ditunjukkan oleh pernyataan, termasuk beberapa warna seperti yang kadang-kadang masih dilakukan sampai sekarang. 

Kemudian, mereka memberikan gambaran sekilas tentang asal geografis para emigran. 

dan akhirnya, mereka membuktikan ikatan keluarga antara keluarga makam 2 dan 3.

yang pertama milik seorang wanita China yang, mungkin tanpa pangkat tinggi, setelah kematiannya, diberikan gelar kehormatan ruren. 

secara teoritis dikaitkan dengan istri pejabat peringkat ketujuh atau di bawah, kadang-kadang juga ditemukan di China di makam wanita yang tidak ada gelar yang diberikan selama hidup mereka. 

itu adalah cara memberi mereka status sosial setelah kematian. 

Makam KEDUA menunjukkan bahwa; almarhum adalah penduduk asli provinsi Guangdong dan makam ketiga menunjukkan bahwa Li (Lay) berasal dari distrik Jiaying di timur laut Guangdong, oleh karena itu tentu saja Hakka. 

Kita juga tahu bahwa; pada abad Ke-20 masih ada di Timor, terutama di bagian timur (Timor Leste), komunitas Hakka yang besar. 

Kapten China, Li Jingtang, bagi warga Tionghoa di Kupang adalah yang tertua yang namanya dilestarikan. 

lalu timbul Pertanyaan, mengapa ada bingkai-bingkai prasasti yang tergantung pada dinding klenteng (tulisan-tulisan pada batu nisan) tersebut.? ternyata nama dari 3 (tiga) batu nisan tersebut adalah orang-orang yang mendirikan Klenteng Kongsi Sen-Tiong. 

Klenteng tersebut pada awalnya didirikan dengan konstruksi kayu pada paruh kedua abad Ke-18.

Kini lokasi Kongsi Sen Tiong atau Kongsi Macan telah berubah menjadi sebuah toko, yaitu: Toko Arjuna dan sekitarnya di Jl. Siliwangi.

BERSUARA KERAS untuk Demokrasi dan Keadilan dan Kejujuran.

Informasi Artikel:

| Konteks: Sejarah, Budaya, 

| Penulis: SP

| Editor: W.J.B

| Sumber: 1847 • G.Heijmering. Geschiedenis Van Het Eiland Timor. Tijdschrift Voor Nederland’s Indie. Deerde Deel.

1849 • Dutch East Indie. Almanak En Naamregister Van Nederlandsch-Indie, Voor 1849.

1850 • .H.C. Millies. De Chinezen In Nederlandsch Oost-Indie En Het Christendom.

1860 • Dutch East Indie. Almanak En Naamregister Van Nederlandsch-Indie, Voor 1860.

1882 • Dutch East Indies. Regerings-Almanak voor Nederlandsch-Inde. Tweede Gedeelte. Kalender en Personalia.

1937 • G.P. Rouffaer. Koninklijk Instituut voor de Taal-Land-en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië.

1998 • J.A. Lombard & S.C. Lombard. Les Chinois de Kupang (Timor), aus alentours de 1800.

1988 • Claudine Salmon and Guojian Xiao. Chinese Epigraphic Materials in Indonesia, Volume II, Part 2. South Seas Society.

2007 • Steven Farram. Hazaart and the British interregnum in Netherlands Timor, 1812-1816.

2012 • Eric Thake. Kupang in Sketch. 

Judul Gambar: 'Batu Nisan diambil dari makam China di Kupang, Timor.'

digambar oleh: A. Taunay 1824, dilukis oleh E. Olivier dan Coutant. 

direproduksi dalam Edisi Ke-2, Voyage découvertes au Terres australes, 1824.

Sumber: 1998 • J.A. Lombard & S.C. Lombard. Les Chinois de Kupang (Timor), aus alentours de 1800 (page 426). 

Judul Gambar: 'Transkripsi tiga tulisan nisan dari pernyataan yang direproduksi di edisi Ke-2, Voyage découvertes au Terres australes, 1824.'

Sumber: 1998 • J.A. Lombard & S.C. Lombard. Les Chinois de Kupang (Timor), aus alentours de 1800 (page 427). 

Judul Gambar: 'Chinees Kongsi-bedehuis te Koepang (Tempat Ibadah Kongsi Tionghoa di Koepang).'

Publikasi : sekitar 1927

Sumber: Koleksi Digital Universitas Leiden, KITLV.

Judul Gambar : 'Gezicht op den gevel van het kongsi-huis der Kongsi Sen-Tiong (uit Canton), aan den zekant van Koepang (Timor), met 2 leeuwen in ruw mozaïek.' 

Terjemahan: 'Pemandangan tampak depan rumah kongsi Kongsi Sen-Tiong (dari Kanton), di sisi Koepang (Timor), dengan 2 ekor singa dalam mozaik kasar.'

Publikasi : 1910

Sumber : Koleksi Digital Universitas Leiden, KITLV.

Creator : G.P. Rouffaer, 3 April 1910.

Judul Gambar: 'Gezicht op de Kampong Baroe”. Groet uit Koepang. (“Pemandangan Kampong Baroe.” Salam dari Kupang").'

Publikasi: sekitar1910

Sumber: Koleksi Digital Universitas Leiden, KITLV.

Creator: Toko Baroe Baroe, Nji Thae Ho.

Sonny Pellokila (Sejarawan). 

| Penerbit: Kupang TIMES

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

Copyright © 2022 The Kupang Times Newsroom.com ™ Design By The Kupang Times Newsroom.com ®