Mama Sinta MINTA Pemutaran Film 'Pesta Babi' Dihentikan.!

Edisi: 1.428
Halaman 3
Integritas |Independen |Kredibel

      Picture: Pesta Babi|Properti

JAKARTA, KUPANG TIMES - Tokoh Perempuan Adat dan Pejuang Lingkungan dari Kota Merauke, Papua Selatan, Yasinta Moiwend atau yang lebih akrab disapa Mama Sinta, meminta penayangan film Pesta Babi garapan Dandhy Laksono dihentikan. 

Mama Sinta menegaskan, akan menempuh jalur hukum jika film tersebut masih diputar dan beredar luas.

dihentikan (film Pesta Babi).. Mulai hari ini (29 Mei) dihentikan.! 

seandainya ada yang putar film itu, tolong proses orang itu."|Mama Sinta (Pejuang Lingkungan Hidup), dikutip dari KompasTV, Sabtu (30/05/26). 

Mama Sinta mengungkapkan, dirinya tidak pernah diajak terlibat dalam pembuatan film tersebut. 

Mama Sinta bahkan terkejut saat pertama kali menontonnya. 

Tidak Pernah (diajak main film itu), saya kaget pada saat nonton itu."|Mama Sinta (Pejuang Lingkungan Hidup)

Karena hal itu, Mama Sinta merasa sakit hati, ketika melihat wajahnya ditampilkan dalam film tanpa izin maupun persetujuannya. 

Film yang diputar di Jayapura tanpa izin dari saya, 

Mereka putar film Pesta Babi itu di mana-mana,

Saya sakit hati, saya kecewa sekali.! 

tanpa izin dan tanpa pembicaraan.. mereka putar film ini di mana-mana, saya sakit hati."|Mama Sinta (Pejuang Lingkungan Hidup)

Mama Sinta yang didampingi kuasa hukumnya, Hamonangan Daulay, turut melaporkan Ketua LBH Merauke, Johnny Teddy Wakum, ke Polda Metro Jaya, Jum'at (29/05/26). 

Laporan tersebut teregistrasi dengan nomor LP/B/3843/V/2026/SPKT/Polda Metro Jaya tertanggal 29 Mei 2026.

Johnny diketahui berperan sebagai penanggung jawab dalam peluncuran film berjudul Pesta Babi. 

ini yang kami laporkan adalah perorangan, yakni: Ketua LBH Merauke,

Ketua LBH Merauke dengan inisial JTW."|T.S. Hamonangan Daulay (Kuasa Hukum), saat ditemui di Mapolda Metro Jaya, Jum'at (29/05/26). 

tentang Film Pesta Babi,

Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita merupakan film dokumenter investigatif Indonesia yang dirilis pada 2026 dan disutradarai oleh Dandhy Laksono serta Cypri Paju Dale.

Film tersebut mengangkat perjuangan masyarakat adat di Papua Selatan, terutama suku Malind, Yei, Awyu, dan Muyu, dalam mempertahankan tanah leluhur mereka dari ekspansi proyek strategis nasional seperti perkebunan sawit, tebu untuk bioetanol, dan kawasan industri pangan skala besar. 

Film Dokumenter berdurasi sekitar 95 menit itu menyoroti rencana konversi 2,5 juta hektar hutan Papua menjadi perkebunan industri yang disebut sebagai salah satu deforestasi terbesar dalam sejarah dunia modern.

Film tersebut pertama kali diputar dalam gala premiere pada 12 April 2026 di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.

Setelah itu, film tersebut diputar dalam sejumlah forum diskusi publik hingga agenda akademik di beberapa negara. 

Judul Pesta Babi diambil dari tradisi lokal masyarakat Papua yang kerap menggelar ritus penyembelihan babi sebagai simbol kebersamaan. 

Namun, istilah tersebut digunakan para sutradara sebagai metafora terhadap eksploitasi pembangunan yang dinilai hanya menguntungkan kelompok tertentu.

Film Pesta Babi kini dapat disaksikan secara gratis melalui kanal YouTube resmi Redaksi JubiTV.

BERSUARA KERAS untuk Demokrasi dan Keadilan dan Kejujuran.

Informasi Artikel:

| Konteks: Politik, Sosial, Hukum, 

| Penulis: W.J.B

| Sumber: Humas Polda Metro Jaya, 

| Penerbit: Kupang TIMES

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

Copyright © 2022 The Kupang Times Newsroom.com ™ Design By The Kupang Times Newsroom.com ®