Sejarah Ideologi NASAKOM, Tujuan dan Efeknya.!

Edisi: 1.186
Halaman 1
Integritas |Independen |Kredibel

      Potret: Arsip Nasional|Properti

KUPANG TIMES - Apa yang dimaksud dengan NASAKOM.? 

NASAKOM adalah singkatan dari Nasionalisme, Agama, dan Komunisme. 

Ideologi NASAKOM pernah mewarnai Pemerintahan Indonesia pada masa Demokrasi Terpimpin, yaitu; tahun 1959-1965 silam.

lalu, apa yang dimaksud dengan NASAKOM.? untuk mengetahui maksud tersebut, kita dapat melihat terlebih dahulu bagaimana sejarah pemerintahan serta perkembangan ideologi di Indonesia.

Konsep NASAKOM pada dasarnya memfokuskan pilar Demokrasi Terpimpin kepada 3 (tiga) Komponen Utama, antara lain: Nasionalisme, Agama dan Komunisme. 

berikut, Penjelasan tentang Sejarah Ideologi NASAKOM, Tujuan dan Efeknya.

apa maksud dari Istilah NASAKOM dan Bagaimana Sejarahnya.?

Apa itu NASAKOM.? 

Ideologi NASAKOM dicetuskan oleh sang Proklamator, Ir. Soekarno, meski baru dikenal luas oleh masyarakat jelang berakhirnya dekade 1950-an.

latar belakang NASAKOM sudah terpikirkan jauh sebelum Bung Karno menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia Pertama. 

Konsep NASAKOM kemudian diusulkan Sukarno pada Februari 1956.

Konsep ini disebut oleh Bung Karno sebagai 3 (tiga) pilar utama Demokrasi Terpimpin dalam pemerintah Republik Indonesia atau tepatnya sebagai pilar Nasionalis, pilar Agama dan pilar Komunis.

pada masa pergerakan nasional, dalam pikiran Bung Karno, ada 3 (tiga) aliran politik yang bisa dijadikan sebagai pilar utama kekuatan rakyat beserta wadah atau organisasi yang bisa menaungi masing-masing tiga pilar tersebut.

Pilar PERTAMA • Golongan Nasionalis yang diwakili Indische Partij (IP). 

IP sendiri adalah Organisasi Pergerakan yang dibentuk pada 1912 oleh 3 (tiga) Serangkai, yakni; Tjipto Mangoenkoesoemo, Douwes Dekker dan Soewardi Soerjaningrat atau Ki Hajar Dewantara.

Pilar KEDUA • Kelompok Agamis yang diwakili oleh umat Islam sebagai golongan agama terbesar. 

Bung Karno, mengatakan, Sarekat Islam (SI) yang dipimpin oleh H.O.S. Tjokroaminoto layak menjadi representasi kalangan agama ini.

Pilar KETIGA • Marxisme yang saat itu sepatutnya diemban oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). 

waktu itu, komunisme belum menjadi ideologi terlarang, begitu pula dengan PKI yang terbentuk belum terlalu lama.

pada tahun 1926, Jelang Pergantian Tahun Baru 1927, PKI melakukan perlawanan terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda di Sumatera Barat. 

Namun, perlawanan tersebut bisa digagalkan dan tokoh-tokoh komunis menjadi target penangkapan oleh pemerintah kolonial.

di sisi lain, pada Pemilu 1955 silam, partai-partai politik yang mewakili 3 (tiga) Ideologi besar menjadi pemenangnya.

tiga Ideologi tersebut, antara lain: PNI, Masyumi, Nahdlatul Ulama (NU) dan PKI.

Mengapa Presiden RI, Soekarno Mengeluarkan Ajaran NASAKOM.?

Gagasan tiga pilar utama sudah terbesit dalam pikiran Bung Karno, pada tahun 1926 atau pada tahun yang sama ketika dirinya mendeklarasikan berdirinya Partai Nasional Indonesia (PNI). 

mengenai embrio NASAKOM, Bung Karno menulisnya dalam surat kabar Soeloeh Indonesia Moeda edisi 1926.

“dengan jalan yang kurang sempurna, kita mencoba membuktikan bahwa; paham Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme itu dalam negeri jajahan pada beberapa bagian menutupi satu sama lain."|Soekarno Muda 

dari pernyataan tersebut, Soekarno, mengatakan bahwa; tiga pilar utama itu, bisa saling melengkapi, Khususnya bagi setiap negara-negara yang menjadi korban jajahan.

Tiga pilar utama ideologi NASAKOM ini juga diklaim sebagai jiwa bagi pergerakan-pergerakan negara terjajah di seluruh Asia. 

hal itu disampaikan oleh Soekarno lewat lanjutan pernyataan berikut ini:

“Nasionalisme, Islam dan Marxisme, inilah asas-asas yang dipegang teguh oleh pergerakan-pergerakan rakyat di seluruh Asia,

inilah paham-paham yang menjadi rohnya pergerakan-pergerakan di Asia,

Rohnya pula pergerakan-pergerakan di Indonesia kita ini."|Soekarno Muda


Partai NASAKOM Apa Saja.?

Jika kita berbicara tentang partai-partai yang termasuk NASAKOM, berarti hal itu merujuk kepada partai yang sesuai dengan ideologinya atau tepatnya untuk mewakili paham nasionalisme, agama dan komunisme.

Paham nasionalisme dianut oleh Partai Nasional Indonesia atau PNI, sehingga mereka bisa dianggap sebagai pilar pertama. 

adapun pilar agama diwakili oleh Masyumi dan Nahdlatul Ulama.

terdapat pula pilar ketiga yang menganut paham komunisme, yaitu; PKI. 

sebelum adanya peristiwa G30S/PKI, partai PKI menjadi salah satu organisasi yang cukup eksis di masa pemerintahan Demokrasi Terpimpin.

Apa Tujuan Dibentuknya NASAKOM.?

Konsep tiga pilar utama yang sempat terabaikan kembali didengungkan Presiden RI, Soekarno setelah Indonesia merdeka, tepatnya pada 1956. 

alasan dan tujuan Presiden RI, Soekarno saat itu adalah karena menilai sistem Demokrasi Parlementer tidak cocok untuk negara Indonesia.

Zulfikri Suleman dalam tulisannya; 'Demokrasi untuk Indonesia: Pemikiran Politik Bung Hatta (2010),' Bung Karno, mengatakan, Demokrasi Parlementer melindungi sistem kapitalisme karena parlemen dikuasai oleh kaum borjuis dan tidak akan bisa memakmurkan rakyat.

“di dalam Demokrasi Parlementer, tiap-tiap orang bisa menjadi raja, tiap-tiap orang bisa memilih, tiap-tiap orang bisa dipilih, tiap-tiap orang bisa memupuk kekuasaan untuk menjatuhkan menteri-menteri dari singgasananya."|Soekarno (Presiden RI)

sebagai pengganti Demokrasi Parlementer, Presiden RI, Soekarno menawarkan sistem pemerintahan baru yang disebutnya Demokrasi Terpimpin. 

Presiden RI, Soekarno, mengatakan, Demokrasi Terpimpin ini berpondasi kepada tiga pilar utama yang dimiliki bangsa Indonesia, yaitu; Nasionalisme, Agama dan Komunisme atau NASAKOM.

Apa Efek dari Konsep NASAKOM yang diberlakukan oleh Presiden RI, Soekarno.? 

meski sempat terlaksana, tidak semua kalangan sepakat dengan sistem Demokrasi Terpimpin beserta NASAKOM ala Presiden RI, Soekarno itu. 

salah satunya adalah Wakil Presiden RI, Mohammad Hatta.

Rosihan Anwar dalam tulisannya: 'In Memoriam: Mengenang yang Wafat (2002)' mengungkapkan, NASAKOM berarti; bekerja sama dengan PKI dan Hatta kurang cocok dengan itu. 

bagi Hatta, Demokrasi Terpimpin membuat kekuasaan negara kian terpusat kepada sosok presiden.

seperti diungkapkan Syafii Maarif melalui bukunya; 'Demokrasi dan Nasionalisme: Pengalaman Indonesia (1996),' Hatta kemudian mundur dari wakil presiden karena Presiden RI, Soekarno semakin otoriter.

Sistem Demokrasi Terpimpin akhirnya diterapkan juga, begitu pula dengan konsep NASAKOM. 

Presiden RI, Soekarno, menyatukan tiga kekuatan politik terbesar di Indonesia kala itu untuk memperkuat posisinya sebagai presiden.

Presiden RI, Soekarno bahkan menyatakan bahwa; NASAKOM merupakan perwujudan Pancasila dan UUD 1945 dalam politik. 

dalam pidatonya pada peringatan Hari Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1961, Presiden RI, Soekarno, menegaskan:

“Siapa yang setuju kepada Pancasila, harus setuju kepada NASAKOM; siapa yang tidak setuju kepada NASAKOM, sebenarnya tidak setuju kepada Pancasila, 

sekarang saya tambah: Siapa setuju kepada Undang-Undang Dasar 1945, harus setuju kepada NASAKOM; Siapa tidak setuju kepada NASAKOM, sebenarnya tidak setuju kepada Undang-Undang Dasar 1945."|Soekarno (Presiden RI) dengan suara lantang, dikutip dari Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia (2004) karya: Jan S. Aritonang.

terjadinya peristiwa berdarah Gerakan 30 September (G30S) 1965 membuat kepemimpinan Ir. Soekarno mulai digoyang. 

G30S PKI merupakan awal runtuhnya rezim Orde Lama yang dipimpin Presiden RI, Soekarno.

setelah kekuasaan Presiden RI, Soekarno terkikis dan kepemimpinan negara mulai diambil-alih oleh Soeharto, segala hal yang berbau komunis menjadi terlarang. 

Penerapan NASAKOM pun berakhir, begitu pula dengan sistem Demokrasi Terpimpin.

Mengapa NASAKOM Bertentangan dengan Pancasila.?

Jika kita telisik ideologinya, konsep NASAKOM pada dua pilar utama memang tidak memiliki pertentangan dengan Pancasila.

hal ini disebutkan, karena nasionalisme dan agama tertera juga dalam sila-sila.

Namun, pilar ketiga, yakni; komunisme dianggap berbahaya dan bertentangan dengan ideologi Pancasila. 

sebut saja terkait prinsip "kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan."

Berbeda dengan prinsip sila Ke-4 tersebut, komunisme justru berawal dari kasus pertentangan antar golongan atau kelas. 

dengan begitu, pilar ketiga ini tidak cocok bagi Indonesia yang bijaksana dan mengutamakan musyawarah.

BERSUARA KERAS untuk Demokrasi dan Keadilan dan Kejujuran.

Informasi Artikel:

| Konteks: Sejarah, Politik, Hukum, Sosial, 

| Penulis: W.J.B

| Sumber: Arsip Nasional, sumber lainnya, 

| Penerbit: Kupang TIMES

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

Copyright © 2022 The Kupang Times Newsroom.com ™ Design By The Kupang Times Newsroom.com ®