Edisi: 1.191
Halaman 2
Integritas |Independen |Kredibel
KUPANG TIMES - tulisan ini dibuat khusus untuk menjawab berbagai pertanyaan yang datang kepada penulis, terkait GMIT dan Calvinisme.
Penulis sekaligus Pendeta dan Sejarawan, membuat penulisan sangat singkat dan ringkas • tentu dengan harapan bisa menjawab pertanyaan tersebut.
Penulis mulai dengan pernyataan: 'GMIT lahir dari berbagai latar belakang ajaran dan teologi, tidak hanya teologi Calvinis.'
Pernyataan tersebut, mungkin mengganggu banyak orang, tapi itulah faktanya.
Sejak semula GMIT tidak pernah hanya berpedoman pada teologi Calvinis.
pada periode 1613-1799, Lembaga Negara Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) sebagai yang bertanggung jawab terhadap pekerjaan pekabaran Injil di Hindia Belanda, memang berusaha menanamkan Kekristenan Hervormd (Calvinis) di Wilayah Kekuasaan Hindia Belanda.
tapi itu pun tidak semua teologi Calvinis berhasil diterapkan.
model liturgi, nyanyian, tata gereja dan jabatan gereja, mungkin bisa dikatakan Calvinis • tapi soal lain, seperti; relasi gereja dan negara tidak sama sekali.
pada periode 1613-1799, gereja-gereja di Timor membangun • baik karena sukarela maupun paksaan • sikap ketertundukan gereja terhadap negara (d.h.i VOC) /teologi penjajahan.
Gereja pada waktu itu menjadi alat pemerintah.
Gereja bahkan menjadi “Pusat” yang mempertemukan kepentingan kolonial VOC dan kepentingan raja-raja lokal.
Teologi atau sikap seperti itu, tentu berlawanan dengan teologi Calvinis mengenai relasi gereja dan negara.
tapi apa mau dikata, gereja pada masa itu sanggup menjadikan teologi Calvinis sebagai dasar pada beberapa hal (liturgi, tata gereja, nyanyian) dan pada saat yang sama tidak menjadikan teologi Calvinis sebagai dasar dalam hal relasi gereja dan negara (sampai di sini jangan kaget yah).
Setelah VOC bubar pada tahun 1799, Lembaga Zending, Nederlandsch Zendeling Genootschap melanjutkan pekerjaan pekabaran Injil di wilayah Timor dan sekitarnya.
di Timor dan Rote NZG melayani sejak 1820 hingga 1850-an, sedangkan di Sabu NZG melayani dari tahun 1873 hingga 1901.
berbeda dengan pada masa VOC di mana tradisi hervormd (teologi Calvinis sangat dijunjung tinggi), pada masa NZG tidak ada bentuk aliran denominasi yang unggul.
Hal ini dikarenakan NZG bukanlah lembaga zending yang terikat dengan satu denominasi atau dengan kata lain NZG itu adalah lembaga yang bersifat non-denominasi.
para misionarisnya pun adalah orang-orang Kristen yang datang dari berbagai latar belakang Gereja dan denominasi.
sebagai lembaga zending yang lahir karena semangat pietisme, NZG tidak ingin melanjutkan pertikaian doktrinal yang waktu itu marak terjadi antara gereja-gereja di Eropa.
bagi NZG sederhana: 'orang-orang menjadi percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.'
Bertolak dari keadaan tersebut, 'selama NZG bekerja di wilayah yang sekarang dikenal sebagai NTT, • NZG tidak mengampanyekan bentuk denominasi tertentu.'
Jika pada masa VOC pendeta-pendeta yang diutus ke Timor dan sekitarnya • juga di Hindia Belanda, harus menandatangani formulir yang menyatakan bahwa; mereka “akan menegakan” tradisi hervormd, • pada masa NZG, itu tidak berlaku lagi.
NZG hanya menekankan pada pertobatan dan kesalehan pribadi. • 'selama seseorang percaya kepada Yesus,' bagi NZG itu sudah cukup.
Pietisme yang dianut oleh misionaris-misionaris NZG cenderung membuat mereka melihat dunia secara dikotomi: 'Gereja (Baik) • Dunia (Jahat).'
Teologi Kesalehan yang dikembangkan pada masa NZG, membuat orang-orang Kristen “melarikan diri” dari dunia dan bukannya “berkarya di dalamnya," sebagaimana yang diajarkan dalam teologi Calvinis (lagi-lagi di sini berbeda).
dalam konteks kehidupan GMIT masa kini, “wajah pietisme NZG," banyak ditemui dalam kelompok-kelompok do'a atau yang Kita kenal saat ini dengan "Persekutuan Do'a" yang sekarang hidup dan berkarya dalam GMIT.
Persekutuan Do'a, merupakan, warisan dari teologi pietisme yang ditanamkan NZG. • Warisan ini nantinya semakin menguat, ketika “GMIT pra-Kemandirian” berada pada masa gereja-negara (Indische Kerk).
Pada masa Indische Kerk (1860-an -1942 di Timor dan Rote; 1901-1942 di Sabu; kurang lebih 1910-1942 di Alor, Flores dan Sumbawa), gereja resmi menjadi bagian dari negara atau pemerintahan.
Gereja berada di bawah sistem negara, sehingga semua pejabat gereja, seperti; Pendeta, Guru, dll, disebut sebagai pegawai pemerintahan.
Karena itu, tidaklah mengherankan jika para guru dan pendeta pada masa Indische Kerk menerima gaji dari kas negara. • tidak hanya itu, semua pembiayaan gereja berasal dari kas negara.
Pada masa IK, gereja bisa dibilang kembali menganut tradisi hervormd, tetapi juga mulai mengembangkan teologi yang berbeda.
Pada masa IK, untuk memuluskan kepentingan kolonial, maka pemerintah Hindia-Belanda “memenjarakan” gereja dengan hanya mengizinkannya mengurus hal-hal spiritual-gerejawi. • Hal-hal terkait ekonomi, hukum dan apalagi politik, tidak boleh disentuh gereja.
lagi-lagi ini bertentangan dengan teologi Calvinis tentang tugas gereja dalam dunia.
Teologi yang demikian juga melahirkan orang-orang Kristen yang apatis terhadap persoalan dunia. • Akibatnya, saat ini kita bisa melihat bahwa; secara umum orang-orang Kristen di GMIT ada yang setuju kalau gereja juga mengurusi hal-hal ekonomi, politik, hukum, dll.
Namun, ada juga yang berpandangan bahwa; tugas gereja “hanya berdo'a." • Ini warisan teologi dari periode Indische Kerk.
Nah ini hanya gambaran singkat mengenai sejarah doktrin dan ajaran di GMIT.
GMIT itu mewarisi teologi calvinis, teologi kolonial, teologi pietis, dll. • Ini belum lagi bicara soal GMIT dan warisan Teologi Kontekstual, GMIT dan warisan Teologi Penginjil Tukang. • ada terlalu banyak. • Kalau sederhananya Penulis petakan begini:
Calvinisme menyumbang bagi Tata Gereja, Model Liturgi, Jabatan Gerejawi (walau tidak semua) dan ajaran-ajaran lain (kalau sebut nanti tambah panjang. • harus cerita langsung).
Teologi Pietisme menyumbang bagi munculnya kelompok-kelompok do'a dalam GMIT. Teologi ini menyumbang bagi kuatnya doktrin dualisme (baik-jahat; gereja-dunia; orang Kristen-non Kristen, dll), tapi pada saat yang bersamaan menjadi semacam dasar bagi teologi "kesalehan" dalam GMIT.
Teologi Kolonial/Model gereja kolonial menyumbang bagi relasi GMIT dan Pemerintah yang “cenderung” bersahabat, dll.
Frederik van de Watering, Pieter Middelkoop, Krayer van Aalst, Jan K. Wijngaarden, dll, menyumbang bagi perkembangan kontekstualisasi teologi (perjumpaan Injil dan Budaya) di GMIT.
dari penjelasan-penjelasan di atas jelas bahwa; Gereja Masehi Injili di Timor lahir dari berbagai latar belakang teologi.
berbagai latar belakang teologi itulah yang membentuk GMIT saat ini.
Benar bahwa; 'GMIT punya corak Calvinis dan mendapat pengaruh dari corak itu, tapi itu bukan satu-satunya yang membentuk GMIT.'|Pdt. CJ (Sejarawan)
Lanjut Ke PART II • Tanggapan Teolog dan Tanggapan Sejarawan,
BERSUARA KERAS untuk Demokrasi dan Keadilan dan Kejujuran.
• Informasi Artikel:
| Konteks: Sejarah, Religius,
| Penulis: W.J.B
| Sumber: CJ,
| Penerbit: Kupang TIMES
