Edisi: 1.379
Halaman 2
Integritas |Independen |Kredibel
Potret: KT|Properti • Prabowo Subianto (kanan) berjabat tangan dengan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh (kiri) saat memberikan keterangan pers usai melakukan pertemuan tertutup di NasDem Tower, Jakarta, Jum'at (22/03/24)
KUPANG TIMES - Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh bertemu empat mata dengan Presiden RI, Prabowo Subianto, di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, pada pertengahan bulan Februari 2026 lalu.
obrolan Surya Paloh dan Prabowo Subianto, menciptakan gagasan, untuk menggabungkan Partai NasDem dan Gerindra.
Jika terwujud, 'pecahan' Partai Golkar tersebut, mengumpulkan hampir 35 Juta Suara Nasional atau sekitar 23% berdasarkan hasil Pemilu 2024.
Pengaruh Surya Paloh dalam Internal Partai menurun, sejak NasDem memutuskan untuk berada diluar Pemerintahan Prabowo-Gibran.
efek dari keputusannya, Surya Paloh tidak punya akses ke kekuasaan, yang membuat bisnis media, tambang dan kateringnya menurun drastis.
apalagi kader-kader kuncinya pindah ke PSI, dan Kader yang masih bertahan, mulai kasak-kusuk menggantikannya.
Penjelasan DPP Partai NasDem,
Wakil Ketua DPR-RI sekaligus Wakil Ketua Umum DPP Partai NasDem, Saan Mustopa menanggapi isu “merger” atau "fusi" antara Partai NasDem dan Partai Gerindra.
Saan mengatakan, wacana tersebut masih sebatas ide yang normal dalam politik.
namun, hal tersebut tidak mudah untuk direalisasikan.
“Ya, ini juga saya baru kaget juga ya, baru apa mencuat terkait dengan soal isu fusi ya.? bahkan dalam bahasa politik itu kan fusi ya, bukan merger bukan akuisisi ya.! Fusi, apa, Gerindra NasDem."|Saan (Waketum DPP NasDem) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (13/04/26).
Saan menjelaskan, dalam sejarah politik Indonesia, konsep fusi partai pernah terjadi, seperti pada 1973 ketika sejumlah partai dilebur menjadi tiga partai.
“tapi juga terkait dengan isu itu, banyak hal dalam kalau tahun 73 situasi dan konteks kebangsaannya dulu kan memang iklimnya, situasinya, konteksnya mungkin memungkinkan."|Saan (Waketum DPP NasDem)
Saan menegaskan, meski ide fusi merupakan hal yang wajar, realisasinya membutuhkan pertimbangan, pengkajian yang matang, terutama terkait ideologi, identitas, dan eksistensi masing-masing partai.
“Karena membangun atau mendirikan partai itu para pendiri partai masing-masing tentu punya idealisme, punya ide, punya gagasan ideologi dalam konteks yang berbeda-beda."|Saan (Waketum DPP NasDem)
Saan mengatakan, faktor-faktor tersebut menjadi tantangan besar dalam mewujudkan fusi partai.
“bahwa; yang namanya partai itu kan refleksi dari idealisme, gagasan, cita-cita, bahkan ideologi dari para pendirinya,
dan itu sekali lagi tidak gampang ya untuk difusikan."|Saan (Waketum DPP NasDem)
Saan menilai, dalam konteks demokrasi Indonesia saat ini yang terus berkembang, wacana fusi tetap sah-sah saja, namun perlu kajian mendalam.
“Jadi sekali lagi sebagai sebuah ide atau wacana ya atau gagasan itu hal yang biasa saja,
tapi ketika kita mau wujudkan, banyak hal yang harus dipikirkan ya, harus dipikirkan, harus didiskusikan, harus direncanakan."|Saan (Waketum DPP NasDem)
Prabowo dan Paloh Bertemu Bahas Rencana Fusi.?
terkait wacana tersebut, disebut mencuat setelah adanya kabar pertemuan antara Ketua Umum NasDem, Surya Paloh dan Presiden sekaligus Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto di Hambalang pada bulan Februari lalu, Saan mengatakan, dirinya tidak mengetahui secara pasti.
“Saya tidak tahu persis ya terkait dengan soal pertemuan, apalagi terkait dengan soal substansi dari pertemuan tersebut apa saja yang dibicarakan."|Saan (Waketum DPP NasDem)
Namun, Saan mengakui, pertemuan antara pimpinan partai koalisi dan Presiden merupakan hal yang lazim terjadi, mengingat NasDem merupakan bagian dari koalisi pemerintahan.
“Karena memang NasDem bagian dari partai koalisi,
Partai ini kan bagian dari koalisi pemerintahan."|Saan (Waketum DPP NasDem)
Saan mengatakan, komunikasi politik tersebut penting untuk menyamakan persepsi dan mendukung program pemerintah.
“Nah karena itu untuk bisa memaksimalkan dukungan NasDem terhadap pemerintah maka yang namanya komunikasi dalam bentuk silaturahmi atau pertemuan itu hal yang lazim dilakukan antara pimpinan partai koalisi dengan Presiden,
tadi untuk menyamakan berbagai pandangan, persepsi, bahkan juga untuk memberikan dukungan yang lebih maksimal lagi."|Saan (Waketum DPP NasDem)
Saan menjelaskan, bisa saja berbagai isu politik turut dibahas dalam pertemuan tersebut, termasuk soal ambang batas parlemen.
“mungkin saja misalnya kan selain soal bagaimana pemerintah ini sukses, pemerintah ini satu periode ke depan sampai 2029 sukses,
di mana juga kalau dari berbagai survei ya tingkat kepuasan terhadap pemerintah ini sangat tinggi tingkat kepuasan publiknya,
maka tingkat kepuasan publik yang tinggi ini NasDem berusaha untuk tetap menjaga agar tingkat kepuasan semakin tinggi dan masyarakat atau rakyat bisa merasakan dari apa yang dilakukan oleh pemerintah,
itu pasti dibicarakan.. Nah selain itu pasti juga mungkin ada pembicaraan-pembicaraan yang lain mungkin saja juga terkait dengan soal ambang batas dan sebagainya karena Presiden juga pasti concern terkait dengan soal pembangunan politik."|Saan (Waketum DPP NasDem)
Kasak-Kusuk Internal NasDem,
terkait kasak-kusuk isu untuk menggantikan KeTum Partai NasDem, Surya Paloh, Saan memilih untuk tidak menanggapi.
BERSUARA KERAS untuk Demokrasi dan Keadilan dan Kejujuran.
• Informasi Artikel:
| Konteks: Politik,
| Penulis: W.J.B
| Sumber: DPP NasDem,
| Penerbit: Kupang TIMES
