Hitung Anggaran Per-Porsi MBG, Akademisi UGM: 'MBG Sulit Penuhi Standar Gizi.!'

Edisi: 1.183
Halaman 3
Integritas |Independen |Kredibel


KUPANG TIMES - 'Pemerintah Prabowo terutama Badan Gizi Nasional atau BGN semestinya segera mengevaluasi program MBG ini.'

para akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, menilai, anggaran per-porsi Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dipatok saat ini, sulit memenuhi standar gizi yang diharapkan. 

"Apakah penentuan nominal itu sudah melibatkan ahli gizi.?"|Muhsin Al Anas (ahli Peternakan UGM), Sabtu, (27/09/25)

Muhsin, mengatakan, dari perhitungan kasar yang telah dilakukan, anggaran per porsi MBG sekitar IDR 10.000 per-anak, terutama di wilayah Pulau Jawa adalah sangat mepet, bahkan kurang dengan standar minimum kebutuhan asupan protein hewani pada menu makan yang dibagikan pada siswa sekolah.

harga telur ayam, misalnya; harga komoditas itu saat ini per-kilogramnya IDR 26.000 - IDR 27.000 dengan isi sekitar 16 butir. 

artinya; harga satu butir telur mentah atau belum diolah sekitar IDR 1.600.

anggaran untuk menyediakan susu di MBG • harga susu sapi mentah di kalangan peternakan rakyat berkisar IDR 8.000 - IDR 9.000 per-liter dan setelah diproses menjadi siap minum cukup, harga termurah sekitar IDR 15.000 per-liter.

"untuk anak-anak mungkin kebutuhannya ideal 100-150 mililiter, jadi per porsi susu katakanlah per-anak kebutuhannya IDR 1.500 - IDR 2.000."|Muhsin Al Anas (ahli Peternakan UGM),

Muhsin, mengatakan, sedangkan jika dalam menu itu diselipkan menu daging unggas, seperti; ayam • harga per-kilogramnya berkisar IDR 35 ribu dengan bobot karkas 1,5 kilogram. 

dari ayam tersebut, biasanya dipotong kecil bisa mencapai 14 potong. 

sehingga per-porsi potongan bobotnya sekitar 100-105 gram-an dengan alokasi anggaran perkiraan sekitar IDR 2.500-an.

dari 3 (tiga) item protein hewani itu saja jika semua diolah dan dimasak untuk disajikan diperkirakan sudah memakan biaya sekitar IDR 6.500 - IDR 7.500.

Sedangkan sisanya untuk alokasi nasi dan sayur.

"harga ini tentu saja belum termasuk keuntungan yang disediakan penyedia MBG, jadi biasanya dari IDR 10.000 per-porsi itu akan ditekan lagi untuk mendapatkan keuntungan, dengan variasi menu lain yang lebih murah dan masuk."|Muhsin Al Anas (ahli Peternakan UGM)

Muhsin pun menyangsikan dengan anggaran itu penyedia bakal memasukkan protein hewani seperti daging sapi ke dalam menu MBG. 

apalagi harga daging sapi sudah di kisaran IDR 100.000 per-kilogramnya.

Muhsin, mengatakan, oleh sebab itu, sejak awal dirinya tidak yakin program andalan Presiden Prabowo Subianto itu bisa memenuhi standar kebutuhan minimum gizi anak-anak. 

hitung-hitungan anggaran per-porsi tersebut juga sangat jauh dari realitasnya di lapangan. 

"menurut kami, soal nominal itu sudah tidak rasional.!sehingga para eksekutor teknis di lapangan akhirnya memutar berbagai cara bagaimana anggaran itu bisa masuk, 

makanya kita kemudian menemukan menu-menu MBG seperti yang ada saat ini."|Muhsin Al Anas (ahli Peternakan UGM)

sementara itu, akademisi Fakultas Peternakan UGM lainnya, Muhlisin, mendesak pemerintah terutama Badan Gizi Nasional atau BGN semestinya segera mengevaluasi program MBG. 

Sebab, program tersebut, belakangan ini, memicu ribuan kasus keracunan para penerima program itu di Tanah Air.

"seharusnya dari awal pemerintah melibatkan kalangan akademisi dan swasta, bagaimana menentukan nominal dengan jumlah gizi yang masuk."|Muhlisin (Akademisi Fapet UGM) 

Sedangkan Ketua Komisi D DPRD DIY, Dwi Wahyu, mengatakan, sebenarnya konsep kebijakan MBG sudah bagus. 

Namun, program tersebut terlalu cepat dilaksanakan sehingga mengabaikan kajian maupun riset sehingga perlu dievaluasi. 

untuk menjaga agar program ini efektif, Wahyu mengusulkan pengelolaan dapur umum MBG tidak ditangani oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG, yang merupakan dapur umum dan pelaksana program MBG. 

"MBG harus tetap jalan, tetapi diserahkan ke sekolah yang dikoordinir Dinas Pendidikan sesuai dengan tingkatannya."|Wahyu (Legislator DIY) 

Wahyu, mengatakan, dengan begitu, Dinas Pendidikan memiliki RAD (Rencana Aksi Daerah) sehingga bisa dikolaborasikan dengan Dinas Pertanian yang memiliki daging, sayur dan telur maupun Dinas Kelautan dan Perikanan. 

"Untuk distribusi bahan diserahkan ke Dinas Perdagangan terkait dengan rantai pasok."|Wahyu (Legislator DIY) 

cukup tahu • sejak program MBG diluncurkan, sejumlah sekolah di berbagai daerah kabupaten Yogyakarta diduga mengalami keracunan akibat menu yang disantap. 

terbaru, bulan September ini, puluhan siswa di sejumlah sekolah di Kecamatan Wonosari dan Semin Gunungkidul juga dilarikan rumah sakit diduga keracunan menu MBG.

Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul mengungkap hasil uji laboratorium dugaan keracunan itu, setelah menemukan adanya temuan bakteri Klebsiella pneumoniae, Staphylococcus aureus,dan Kapang/Khamir dalam sisa makanan dan muntahan siswa.

BERSUARA KERAS untuk Demokrasi dan Keadilan dan Kejujuran.

Informasi Artikel:

| Konteks: Kesehatan, 

| Penulis: W.J.B

| Sumber: Fakultas Peternakan UGM, 

| Penerbit: Kupang TIMES

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

Copyright © 2022 The Kupang Times Newsroom.com ™ Design By The Kupang Times Newsroom.com ®