Edisi: 1.182
Halaman 4
Integritas |Independen |Kredibel
KUPANG TIMES - 'sementara banyak kalangan menilai kasus keracunan MBG sebagai bom waktu dan alarm keras, Badan Pangan Gizi Nasional menganggapnya masih batas wajar.'
sejumlah lembaga mendesak Pemerintah, untuk menghentikan sementara program Makan Bergizi Gratis (MBG), karena kasus keracunan pada siswa yang semakin meningkat dan meluas belakangan.
salah satu kejadian keracunan MBG adalah puluhan siswa-siswi dan guru di SDN 12 Benua Kayong, Ketapang, Rabu, (24/09/25)
para siswa-siswi dan guru, diduga, alami keracunan akibat mengonsumsi ikan hiu goreng yang menjadi menu MBG hari itu.
Tanggapan JPPI,
Berdasarkan data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), jumlah korban keracunan MBG per-21 September 2025 mencapai 6.452 orang.
angka tersebut meningkat 1.092 kasus dibandingkan data JPPI sepekan sebelumnya.
Berdasarkan data tersebut, Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji, mengatakan, pemerintah seharusnya menghentikan sementara program MBG.
“Kondisi ini tidak normal,
Pemerintah seharusnya segera menetapkan kejadian luar biasa dan menghentikan sementara MBG untuk evaluasi menyeluruh."|Ubaid Matraji (JPPI) Rabu, (24/09/25)
Tanggapan INDEF,
Institute for Development of Economics and Finance (Indef) juga mendesak Presiden Prabowo Subianto menghentikan sementara Program MBG.
Indef berharap program dengan alokasi anggaran IDR 333 Triliun tersebut bisa dievaluasi secara menyeluruh.
Program MBG dinilai sudah menimbulkan banyak masalah meski baru delapan bulan berjalan.
Kepala Pusat Ekonomi Digital dan UMKM Indef, Izzudin Al Farras, mencatat, hingga 28 Agustus 2025, MBG telah menjangkau 23 juta penerima manfaat.
Namun, di sisi lain, lebih dari 4.000 orang menjadi korban keracunan.
"Sayangnya, persoalan ini hanya dipandang sebagai angka statistik tanpa evaluasi serius."|Izzudin (Indef) dalam diskusi daring Menakar RAPBN 2026: 'Arah Kebijakan UMKM, Koperasi dan Ekonomi Digital.' Kamis, (04/09/25).
Tanggapan YLKI,
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), menyarankan, pemerintah menghentikan sementara jalannya program MBG.
Ketua YLKI, Niti Emiliana, mengatakan ada beberapa poin penting yang harus dilaksanakan segera oleh pemerintah untuk membenahi kualitas program MBG.
mulai dari; pembenahan pelatihan, standar dan jaminan sanitasi pada sarana dan prasarana dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), termasuk memperketat standar jaminan keamanan pangan MBG yang merupakan hak mutlak bagi penerima manfaat.
“Jika tidak ada perbaikan secara menyeluruh dan komprehensif, MBG akan menjadi bom waktu bagi para penerima manfaat."|Niti (YLKI) keterangan tertulis, Kamis, (25/09/25)
Tanggapan ICW,
Indonesia Corruption Watch (ICW) mendesak Pemerintahan Prabowo Subianto, menghentikan, seluruh dapur MBG yang sudah beroperasi.
ICW menilai sederet permasalahan program MBG saat ini sudah tidak bisa lagi dimaklumi.
"dalam kondisi seperti ini, pemerintah harus segera menghentikan MBG agar tidak terus menimbulkan kerugian lebih besar bagi masyarakat."|Eva Nurcahyani (ICW), saat di Kantor ICW, Jakarta, Selasa, (23/09/25)
ICW membuka kanal pengaduan MBG sejak April 2025.
Berdasarkan laporan yang dihimpun, ICW menemukan berbagai macam persoalan, antara lain: adanya ketimpangan kualitas pada menu dan peralatan makan, porsi yang tidak sesuai, dan banyaknya makanan yang tidak tersantap oleh siswa karena tidak selera.
Selain itu, inklusivitas menu makanan juga bermasalah, khususnya menu untuk siswa di sekolah luar biasa (SLB) yang masih diseragamkan dengan siswa di sekolah reguler.
ICW juga mendapatkan keluhan dari para guru yang mendapatkan beban tambahan tanpa ada insentif.
Kemudian ditemukan pula keterlibatan anggota dewan, kepolisian, hingga anggota militer yang ikut bermain dalam proyek program makan bergizi gratis ini.
Tanggapan TII,
The Indonesian Institute Center for Public Policy Research atau TII juga mendesak hal serupa.
Peneliti bidang sosial TII, Made Natasya Restu Dewi Pratiwi, mengatakan maraknya kasus keracunan ini harus dijadikan alarm keras bagi pemerintah untuk segera melakukan evaluasi total MBG.
Natasya, berharap, program MBG dihentikan terlebih dahulu untuk mendalami akar masalah terulangnya keracunan di lapangan, sehingga tidak meningkatkan jumlah korban.
“merujuk teori keamanan pangan dan epidemiologi, pemerintah tidak boleh menoleransi satu pun kasus keracunan."|Natasya (TII) dalam keterangan tertulis, Jum'at, (19/09/25)
Natasya, nol kasus harus menjadi target mutlak karena setiap kejadian keracunan adalah indikator kegagalan sistem keamanan pangan yang berisiko menelan korban lebih luas.
Tanggapan FSGI,
Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mendesak pemerintah segera melakukan moratorium atau penghentian sementara program MBG.
Program unggulan Prabowo itu dinilai tidak disertai perencanaan matang, sehingga menimbulkan risiko kesehatan bagi siswa, menambah beban bagi guru dan sekolah, sekaligus membuka potensi kerugian negara.
Sekjen FSGI, Fahriza Marta Tanjung mengatakan, kasus keracunan massal menjadi bukti lemahnya pengawasan MBG.
“ini soal menunggu giliran keracunan saja setiap daerah karena memang program MBG lemah perencanaan dan pengawasannya."|Fahriza (FSGI) dalam keterangan tertulis, Rabu, (24/09/25)
FSGI mencatat persoalan MBG terjadi di 14 provinsi, mulai dari Aceh, Bangka Belitung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Jakarta, hingga Nusa Tenggara Timur dan Kalimantan Utara.
masalah yang muncul beragam, mulai dari; makanan basi, ber-belatung, berbau tidak sedap, porsi minimalis, hingga temuan kecoa.
Penjelasan BGN,
Badan Gizi Nasional (BGN) menolak desakan berbagai pihak untuk menghentikan sementara program MBG.
Kepala BGN, Dadan Hindayana, mengatakan, BGN akan melakukan perbaikan sembari tetap mengejar target penerima manfaat MBG.
Pemerintah dilema antara melengkapi sumber daya manusia agar program berjalan dengan lancar atau mengejar target jumlah penerima manfaat.
Dadan, memilih, mendahulukan mengejar target jumlah penerima manfaat.
"Utamanya adalah bagaimana target bisa dipenuhi."|Dadan (BGN) di kantornya, Jakarta, Senin, (22/09/25)
terkait makin meluasnya kasus keracunan MBG, Dadan, mengatakan, dirinya memahami, banyak pihak yang khawatir.
Dadan, mengaku, setiap hari, dirinya tidak bisa tidur nyenyak karena risau, takut ada siswa yang keracunan.
meski demikian, kasus keracunan yang saat ini terjadi masih dalam batas wajar.
Dadan, mengatakan, total sajian makanan keracunan hanya 4.711 porsi dari 1 miliar porsi yang sudah dimasak selama sembilan bulan program unggulan Presiden Prabowo Subianto ini berjalan.
"Jadi, alhamdulillah sebagian besar anak memang senang dengan program makan bergizi."|Dadan (BGN)
Dadan, menjelaskan, sejumlah perbaikan, segera dilakukan, untuk mengatasi terulangnya kasus keracunan.
beberapa di antaranya, seperti; membentuk tim investigasi kasus keracunan MBG, menghentikan sementara setiap dapur yang bermasalah dan memperpendek jangkauan pemantauan.
BGN akan membuka kantor di setiap kabupaten dan kota guna memperpendek jarak pemantauan.
Kantor ini ditargetkan akan beroperasi mulai 2026.
saat ini, pengawasan masih dilakukan terpusat oleh Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN.
"Kami setiap hari berkomunikasi langsung dengan SPPG."|Dadan (BGN)
Tanggapan Kemensesneg,
Wakil Menteri Sekretaris Negara, Juri Ardiantoro, mengatakan, pemerintah mendengar masukan dari berbagai elemen masyarakat mengenai pemberhentian sementara hingga evaluasi total MBG.
Pemerintah, berupaya menanggulangi masalah keracunan.
Namun, Juri menekankan, pemerintah tidak bisa menghentikan program unggulan Presiden RI, Prabowo Subianto secara total.
"Sambil jalan kami perbaiki, tapi tidak perlu menghentikan secara total,
Kata Presiden Prabowo Subianto, MBG harus betul-betul menjadi program yang memang dibutuhkan anak-anak."|Juri (Wamensesneg)
Juri, mengatakan, pemerintah tidak mau program MBG mengalami demoralisasi akibat kasus keracunan makanan.
"Pasti akan kami cari jalan keluar untuk mengatasi kejadian yang tidak diharapkan ini."|Juri (Wamensesneg)
BERSUARA KERAS untuk Demokrasi dan Keadilan dan Kejujuran.
• Informasi Artikel:
| Konteks: Politik, Hukum, Kesehatan, Sosial,
| Penulis: W.J.B
| Sumber: JPPI, INDEF, YLKI, ICW, TII, FSGI, BGN, Kemensesneg,
| Penerbit: Kupang TIMES
