Waspadai Bank dengan NPL /Kredit Macet Tinggi, Ini Langkah Strategis OJK.?

Edisi: 1.171
Halaman 1
Integritas |Independen |Kredibel

      Potret: JK|Properti

JAKARTA, KUPANG TIMES - Kualitas Aset Industri Perbankan di Indonesia, perlu untuk dicermati. 

secara keseluruhan, Rasio Kredit Bermasalah /atau Non Performing Loan (NPL) Industri Perbankan masih rendah di awal tahun 2025.

Namun, terdapat sejumlah Bank, dengan NPL tinggi, bahkan ada yang diatas 5%

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) rasio NPL gross perbankan per-Maret 2025, hanya ada di level 2,17% meski sedikit naik dari 2,08% pada Desember 2024.

Rasio kredit beresiko /atau Loan At Risk (LAR) ada di level 9,86% • naik 9,28% dari akhir tahun 2024.

sejumlah bank mencatatkan Tingkat Kredit Bermasalah /atau Non Performing Loan (NPL) yang tinggi bahkan di atas 9%, setidaknya hingga kuartal I-2025.

salah satu bank yang masih memiliki rasio NPL tinggi adalah PT Bank Amar Indonesia (AMAR). 

Emiten bank digital tersebut, mencatatkan NPL Gross di level 10,89% per Maret 2025, naik 63 basis poin (bps) dari periode sama tahun sebelumnya sebesar 10,26%.

meski demikan, NPL net AMAR berada di level 1,48% per Maret 2025, naik dari 0,84% per Maret 2024. 

lalu, PT KB Bukopin Tbk. (BBKP) /atau KB Bank mencatatkan NPL gross 9,10% per Maret 2025. 

angka tersebut, turun dari periode sama tahun sebelumnya 9,92% • sementara, NPL net naik tipis menjadi 5,00% dari 4,93%.

PT Bank of India Indonesia juga terlihat mencatatkan NPL Gross yang tinggi di kuartal I-2025 sebesar 7,09% • NPL ini secara yoy masih berada di level yang sama dengan kuartal I-2024. 

adapun NPL net tercatat meningkat dari 3,96% menjadi 4,15% • NPL gross PT Bank MNC Internasional terlihat hampir mendekati 5% /atau berada di level 4,34% di kuartal I-2025 dari 4,23% di kuartal I-2024. 

Sementara NPL net-nya berada di level 2,94% naik dari 2,86% di Maret 2024.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengatakan, tingginya rasio kredit bermasalah /atau NPL pada sejumlah bank di kuartal pertama 2025, antara lain: terkait dengan dinamika kenaikan suku bunga yang berdampak pada kenaikan biaya pinjaman.

sementara disisi lain, daya bayar debitur terutama UMKM dan sektor padat modal menurun.

"Namun, pertumbuhan kredit, masih sejalan dengan rencana bisnis Bank, 

hal ini dapat disebabkan juga siklus bisnis di awal tahun yang dapat berubah seiring dengan perkembangan ekonomi kedepan."|Dian (Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK), dikutip dari Kontan, Selasa, (27/05/25). 

Dian, menjelaskan, NPL yang tinggi pada prinsipnya dapat berdampak pada risk appetite Bank dalam memberikan kredit serta peningkatan pembentukan cadangan yang berpotensi berdampak terhadap perlambatan pertumbuhan kredit untuk sektor-sektor yang berisiko tinggi.

Namun, di sisi lain dampak positif yang dapat timbul adalah terbukanya penyaluran kredit baru, yang fokus pada sektor-sektor yang memiliki prospek pemulihan yang kuat dan risiko yang lebih terukur.

dalam rangka mitigasi peningkatan NPL perbankan, OJK dalam hal ini mengambil langkah penguatan pengawasan baik on maupun off supervision khususnya terkait kecukupan CKPN, permodalan Bank serta meminta Bank melakukan strategi penyelesaian kredit bermasalah yang tepat.

"adapun bank dalam hal ini terus melakukan penguatan sistem manajemen risiko, meningkatkan kualitas analisis kredit."|Dian (Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK),

Dian, menegaskan, OJK terus mencermati dan melakukan tindakan yang terukur terkait dengan NPL perbankan, dengan tetap mengedepankan, menjaga stabilitas sektor keuangan, sekaligus memastikan bahwa kredit tetap tumbuh secara sehat dan berkelanjutan.

cukup tahu • sebelumnya, David Wirawan, SVP Finance, Amar Bank, mengatakan, tingginya rasio NPL Gross tersebut, dikarenakan, penyaluran kredit Bank Amar ke segmen UMKM memiliki porsi yang besar, yang sekitar 50% dari total kredit Bank Amar pada Kuartal I-2025.

Per kuartal I-2025 Amar Bank, mencatat, pertumbuhan penyaluran kredit sebesar 15,8% secara tahunan dengan total kredit yang disalurkan mencapai IDR 3,18 Triliun, meningkat dari IDR 2,74 Triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

"Kami menyalurkan kredit ke segmen ritel dan UMKM yang memang risikonya lebih tinggi, maka meski NPL gross tinggi, 

namun, apabila provisi yang mencukupi dan menghasilkan profit, sebenarnya ini tidak masalah."|David (SVP Finance Amar Bank) 

walau NPL Gross masih tinggi tapi hingga Maret 2025, NPL Net Amar Bank berada di kisaran 1%.

David, menjelaskan, pihaknya terus menjaga agar NPL tetap berada di bawah batas maksimum yang telah ditetapkan oleh OJK. 

David, mengatakan, ini menunjukkan bahwa; meskipun bergerak di segmen yang menantang, Amar Bank mampu menavigasi risiko dengan efektif.

terkait ruang ekspansi kredit, Amar Bank juga melihat peluang yang tetap terbuka luas. 

dengan sistem penilaian risiko berbasis data dan teknologi, perusahaan menyalurkan kredit secara selektif, berbasis profil risiko masing-masing nasabah.

"hal ini memungkinkan pertumbuhan kredit yang berkelanjutan tanpa mengorbankan prinsip kehati-hatian."|David (SVP Finance Amar Bank)

David, mengatakan, sementara dalam hal pengelolaan risiko, Amar Bank telah membentuk pencadangan kerugian kredit secara memadai dan konservatif. 

Pencadangan tersebut, disusun, berdasarkan prinsip manajemen risiko berbasis risiko dan sesuai dengan ketentuan dari OJK dan standar akuntansi yang berlaku.

"Perusahaan melakukan peninjauan rutin atas portofolio untuk memastikan bahwa seluruh eksposur risiko telah dicadangkan secara proporsional."|David (SVP Finance Amar Bank)

Direktur Bisnis Bank Banten, Bambang Widayatmoko, menjelaskan, penyebab NPL terbesar adalah di segment Komersial dengan sektor bisnis di konstruksi dan pengadaan barang dan jasa dan sejak tahun 2022 pemberian di segmen komersial ini untuk sementara dihentikan.

"sebetulnya NPL Gross Bank Banten cenderung menurun secara tahunan yang diiringi dengan ketersediaan CKPN dalam jumlah memadai sehingga NPL Net Bank Banten kurang dari 2% yang menunjukkan upaya dan komitmen Bank Banten dalam menyelesaikan NPL."|Bambang (Dir. Bisnis Bank Banten) 

Bambang, mengatakan, Bank terus melakukan upaya penyelamatan dan penyelesaian kredit, baik melalui proses litigasi maupun non litigasi, termasuk di dalamnya dengan melakukan kerjasama dengan pihak Kejaksaan Tinggi Provinsi Banten yang sudah terjalin sejak tahun 2022.

"dengan angka NPL Net di bawah 2% menunjukkan bahwa; Bank Banten telah menyediakan CKPN dalam jumlah yang memadai sesuai regulasi yang berlaku."|Bambang (Dir. Bisnis Bank Banten) 

Per kuartal I-2025, BEKS membukukan kredit sebesar IDR 3,99 Triliun /atau tumbuh 7,84% dari IDR 3,70 Triliun di periode sama tahun sebelumnya.

Bambang, mengatakan, dengan mitigasi yang dilakukan perseroan maka tidak ada kendala khusus bagi Bank Banten dalam menyalurkan kredit yang di fokuskan ke konsumer, kepada ASN yang pay-rollnya di Bank Banten, serta Kredit Pensiun sebagai mitra Taspen yang di pandang relatif low risk.

"serta kredit Kontarktor yang pembayarannya bersumber dari APBD yang RKUD nya dikelola Bank Banten, sehingga relatif aman karena termonitor source of payment-nya dengan akurat."|Bambang (Dir. Bisnis Bank Banten) 

BERSUARA KERAS untuk Demokrasi dan Keadilan dan Kejujuran.

Informasi Artikel:

| Konteks: Keuangan, Bisnis, Manajemen, 

| Penulis: W.J.B

| Sumber: Amar Bank, Bank Banten, OJK, 

| Penerbit: Kupang TIMES

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

Copyright © 2022 The Kupang Times Newsroom.com ™ Design By The Kupang Times Newsroom.com ®