Pengamat Politik: "Purbaya Dicopot bukan karena Kerja Tidak Becus, Tapi..."

Edisi: 1.536
Halaman 3
Integritas |Independen |Kredibel


KUPANG TIMES – Pengamat Politik BH memberikan pandangannya, Purbaya Yudhi Sadewa dicopot dari Jabatan Menteri Keuangan bukan karena dirinya kerja tidak becus, bukan karena terjerat korupsi, dan jelas bukan karena dirinya tidak paham ekonomi. 

Justru sebaliknya.! Purbaya itu terlalu berani, terlalu blak-blakan, dan terlalu agresif buat sistem birokrasi dan politik ekonomi Indonesia yang sudah puluhan tahun terbiasa sama zona nyaman, kompromi lambat, dan mentalitas akuntan yang cuma peduli neraca seimbang. 

Ketika saya baca dokumen Ringkasan Eksekutif soal investigasi pencopotannya, Senin (14/09/26), saya tidak kaget. 

Saya cuma merasa sedih dan dapat validasi atas satu kenyataan pahit: 'republik ini belum siap punya Menteri Keuangan yang mentalnya adalah seorang pendobrak (maverick).

​buat saya yang selalu ikuti rekam jejaknya, mencopot Purbaya cuma setahun enam hari setelah dirinya dilantik, itu ibarat copot mesin Ferrari dari mobil yang lagi balapan, cuma gara-gara suaranya terlalu berisik buat penonton di tribun. 

saya mencoba kesampingkan dulu bahasa-bahasa diplomatis Istana soal 'penyegaran kabinet' atau 'menjaga kredibilitas APBN.'

berdasarkan dokumen investigasi ini, saya mau mengajak anda bedah pelan-pelan anatomi kejatuhan seorang menteri yang runtuh, karena mencoba menjalankan apa yang selama ini cuma berani diangankan orang: 'mendobrak status quo.'

​Kita mulai dari akar filosofis kebijakannya.! anda harus paham bedanya mazhab Purbaya sama mazhab Kemenkeu era sebelumnya. 

Kalau menteri-menteri sebelumnya itu bertindak kayak kasir perusahaan—yang penting pembukuan rapi, defisit aman di bawah 3%, dan dipuji sama lembaga rating internasional kayak S&P—Purbaya ini beda. 

Purbaya masuk ke Lapangan Banteng bukan buat jadi kasir, tapi buat jadi economic engineer. 

Purbaya ingin ngebongkar 'kutukan pertumbuhan 5%' yang sudah mengikat Indonesia selama bertahun-tahun.

​bagaimana caranya.? Ya harus agresif.! Dokumen mencatat di September 2025, Purbaya langsung tancap gas dengan menempatkan dana pemerintah senilai IDR 200 Triliun di bank-bank Himbara. 

Logikanya Gampang: anda mau ekonomi gerak, anda butuh likuiditas, anda butuh kredit mengalir deras ke sektor riil. 

Purbaya sadar, tanpa injeksi modal yang masif, target pertumbuhan tinggi era Prabowo cuma bakal jadi pepesan kosong. 

BERSUARA KERAS untuk Demokrasi dan Keadilan dan Kejujuran.

• Informasi Artikel:

| Konteks: Politik, Opini, 

| Penulis: W.J.B

| Sumber: BH, 

| Penerbit: Kupang TIMES

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

Copyright © 2022 The Kupang Times Newsroom.com ™ Design By The Kupang Times Newsroom.com ®