OPINI: Presiden Tidak Perlu Disalehkan.!

Edisi: 1.530
Halaman 1
Integritas |Independen |Kredibel

      Potret: KT|Properti

KUPANG TIMES – Baru-baru ini heboh dengan penerbitan buku berjudul: 'Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam.'

​sekilas, buku tersebut terlihat seperti karya literasi agama biasa. • tetapi, kalau kita zoom in dan bongkar detailnya pakai kacamata kritis, terdapat hal-hal janggal yang buat pembaca berpikir: ini buku beneran buat nambah ilmu agama atau cuma alat branding politik berkedok dakwah.?

biar tidak mudah terjebak narasi, mari bedah isi buku bareng-bareng.

sebuah buku boleh dipertanyakan bukan hanya dari Isinya. • melainkan dari Gagasannya. • Ide Penulisan buku-pun layak dipertanyakan.

dan Pertanyaannya, mengapa Presiden Prabowo perlu dibaca secara khusus melalui perspektif Islam.?

Apa Urgensinya.?

Pertanyaan tersebut bisa saja Keliru. • tetapi dari Gagasan yang ditawarkan judulnya, justru terlihat kecenderungan yang sudah lama menjadi penyakit dalam Politik kita: 'ketika seseorang menjadi penguasa, kita sibuk mencari alasan untuk mengaguminya.'

Penguasa belum cukup disebut Kuat, Tegas, Visioner atau Nasionalis. 

Penguasa perlu diberi lapisan kesalehan. • dicari sisi spiritualnya. • ditemukan hubungan perilakunya dengan ajaran agama. • seolah-olah kekuasaan menjadi lebih legitimate kalau penguasanya juga berhasil dipotret sebagai sosok religius.

disinilah kecurigaan dimulai.! 

Bukan kepada Islamnya. • tetapi kepada kepentingan di balik cara Islam digunakan untuk membaca kekuasaan.

Prabowo adalah seorang Muslim dan seorang Mualaf. 

Keislamannya tentu merupakan bagian dari perjalanan spiritual pribadinya. • dan itu hak yang patut dihormati. • tetapi sejarah politik Prabowo tidak dibangun dari politik Islam.

Prabowo datang dari dunia militer. • kemudian menjadi politisi. 

Prabowo membangun partai, berkali-kali bertarung dalam pemilihan presiden, mengalami kekalahan, mengubah strategi politik, masuk ke pemerintahan, dan akhirnya mencapai kursi yang sejak lama diperjuangkannya.

disitulah Drama Politik Prabowo sebenarnya berada.! 

Karena itu, ketika Prabowo akhirnya menjadi presiden, pertanyaan publik tidak perlu dipindahkan ke wilayah yang bukan persoalan utama.

Pembaca tidak terlalu membutuhkan jawaban, apakah Prabowo Islamis atau Nasionalis.

Pembaca membutuhkan Jawaban, Apakah Prabowo menjalankan VISI yang selama bertahun-tahun ia jual kepada rakyat.? 

Apakah Prabowo mampu memimpin Negara.?

Apakah Prabowo mampu membangun Pemerintahan yang Efektif.?

Apakah Prabowo Tegas terhadap Korupsi.?

Apakah Kebijakan Prabowo membawa Kemajuan.?

Apakah Rakyat memperoleh Manfaat.?

Apakah Negara menjadi lebih Makmur.?

Itulah pertanyaan yang seharusnya menghabiskan energi Pembaca. • sebab Presiden bukan Imam Pribadi Rakyat.

Presiden adalah Pemegang Kekuasaan Negara.

Agama seorang Presiden adalah Persoalan Spiritual. 

Kekuasaan seorang Presiden adalah Persoalan Rakyat.

Keduanya boleh bertemu dalam moral dan perilaku. • tetapi jangan sampai Agama dipakai sebagai kosmetik untuk mempercantik Kekuasaan.

dalam konteks inilah, pembaca khawatir buku semacam Islam ala Prabowo—dapat terjebak dalam tradisi lama: 'mencari kesalehan penguasa ketika yang seharusnya dicari adalah pertanggungjawaban penguasa.'

ini bukan fenomena baru. • dalam sejarah, kekuasaan selalu punya pengagum. • ada yang mendekat karena kepentingan, ada yang mendekat karena kekaguman, ada pula yang mungkin tidak sadar bahwa pujiannya sedang berubah menjadi legitimasi.

Bahasa Kasarnya: 'Menjilat.'

Bahasa Halusnya: 'Mengambil Hati Penguasa.'

Bahasa Akademisnya: 'Membangun Legitimasi Simbolik.'

Namanya boleh berbeda. • Mekanismenya Sama.

Karena itu, Agama harus dijauhkan dari pekerjaan semacam itu. 

Islam terlalu besar untuk sekadar menjadi ornamen citra seorang penguasa.

Kalau mau menguji Prabowo dari perspektif Islam, pertanyaan yang lebih menarik bukan bagaimana ia beribadah atau bagaimana spiritualitas pribadinya.

Pertanyaannya adalah: Apakah kekuasaannya menghadirkan keadilan, amanah, keberpihakan kepada yang lemah dan kemaslahatan bagi rakyat.?

sebab kesalehan pribadi tidak otomatis menghasilkan pemerintahan yang baik.

Orang bisa saleh sebagai pribadi tetapi gagal mengelola negara. • sebaliknya, ukuran kepemimpinan publik bukanlah seberapa sering kesalehan seorang pemimpin diceritakan, melainkan seberapa nyata nilai-nilai moralnya tercermin dalam keputusan yang menyangkut hidup jutaan orang.

Pembaca tidak mengatakan buku itu buruk.

Pembaca hanya menegaskan, gagasan membukukan seorang Presiden dari sisi Islam wajib dipertanyakan urgensinya.

sebab rakyat sudah terlalu sering hidup dalam politik yang senang memuja orang, bukan menguji kinerja kekuasaan.

Presiden tidak perlu disalehkan. • tidak perlu dibuat menjadi manusia tanpa cela.

Biarkan Prabowo menjadi manusia dengan keyakinan pribadinya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

tetapi setelah Prabowo menjadi Presiden, jangan tanyakan bagaimana ia beragama. • tanyakan bagaimana ia menggunakan kekuasaan.

Sebab rakyat tidak makan dari kesalehan yang diceritakan.

Rakyat tidak sejahtera karena Presiden dipotret religius.

dan Republik tidak menjadi lebih baik karena penguasanya berhasil dibuat terlihat suci.

yang dibutuhkan republik bukan presiden yang disalehkan.

yang dibutuhkan republik adalah presiden yang bekerja, bertanggung jawab, dan berani bertanggung-jawab kekuasaannya kepada rakyat.

4 Fakta dari Buku: 'Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam.'


1. Inisiator dan "Bekingan" bukunya bukan Orang Sembarangan, 

​Fakta PERTAMA yang buat alis mata pembaca naik adalah siapa sosok di balik layar buku tersebut. 

bayangin, buku tersebut bukan diinisiasi sama penulis independen atau komunitas literasi, tapi sama petinggi negara dan agama. 

ada Ketua MPR-RI (Ahmad Muzani) dan Ketua MUI (KH Anwar Iskandar) yang jadi Inisiatornya.

​lebih gong lagi, buku tersebut diluncurkan secara resmi di acara Rakornas Baznas 2025, lembaga amil zakat negara.! 

Buku tersebut diluncurkan oleh Ketua MUI dan Ketua Baznas.

​coba berpikir dengan logika, wajar nggak, lembaga sekelas MUI dan Baznas ngurusin rilis buku biografi seorang presiden aktif.? 

Keterlibatan tokoh dan lembaga elite tersebut jelas bukan kebetulan. 

ini namanya Authority Transfer pinjam wibawa dan kesucian lembaga agama buat tebalkan citra sang tokoh politik dalam hal ini adalah Prabowo Subianto. 

2. Isinya "Terlalu Sempurna" Tidak Ada Kritik Sama Sekali, 

​buku tersebut ditulis oleh: Abdur Rahim Hasan • Rikal Dikri • dan Mush'ab Muqoddas

Jujur saja, track record ketiganya kurang kedengeran di dunia literasi independen. 

​Isi bukunya fokus ngebahas gimana Prabowo nerapin nilai Islam di kehidupan pribadi, karir militer, sampai urusan dukung Palestina. 

Kedengarannya bagus kan.? tapi masalahnya, dari awal sampai akhir, narasinya 100% positif. 

Nggak ada secuil pun kritik, apalagi ngebahas kontroversi HAM Prabowo di masa lalu atau kebijakan pemerintahannya yang mungkin dikritik umat Islam, kayak polemik MBG beracun di pesantren pokoknya licin banget nih buku ngejilatnya

ini yang namanya Selective Framing. • Penulisnya cuma milih-milih cerita bagus dan ngumpetin fakta pahit. 

Kalau buku ini beneran karya intelektual yang objektif kayak klaimnya, harusnya berimbang dong. 

Kepolosan narasi ini makin ngasih sinyal kuat kalau tujuannya murni buat glorifikasi.

3. Jualan Agama buat Legitimasi Politik, 

Buku ini cerdik banget pakai trik Religious Legitimation. 

tim pemasaran membawa tokoh-tokoh besar, seperti: Prof. Said Aqil Siraj hingga Abdul Mu'ti (Muhammadiyah) buat endorsement.

Mekanisme narasinya, kira-kira begini:

Prabowo itu Presiden.! 

Buku ini mengklaim Prabowo mengamalkan nilai Islam (bahkan sampai disandingkan dengan tokoh sejarah Umar bin Abdul Aziz).

Pesan tersiratnya: 'Karena beliau pemimpin yang Islami, maka kepemimpinannya punya legitimasi moral dan agama yang nggak boleh diganggu gugat.'

dan yang menarik, Prabowo sendiri tidak menulis sepatah kata pun dalam buku tersebut

Semuanya adalah opini orang lain (tokoh politik, ulama, duta besar) yang memuji beliau. 

ini bikin narasinya seolah-olah "objektif" karena yang ngomong orang luar, padahal circle yang ngomong ya itu-itu juga.

4. Timing Rilis yang Pas Banget, 

Buku tersebut rilis bulan Agustus 2025. • Prabowo baru dilantik jadi presiden akhir 2024. • artinya: buku ini terbit tepat di fase krusial konsolidasi kekuasaan di awal pemerintahannya.

di masa-masa ini, seorang Presiden butuh banget dukungan kuat, terutama dari basis massa mayoritas (umat Islam). 

Rilis Buku tentang betapa "Islami-nya" sang presiden di forum ulama nasional adalah strategi public relations tingkat dewa buat mengunci loyalitas dan meredam potensi oposisi berkedok agama.

Berdasarkan investigasi multidisiplin, skor buku ini buat jadi alat Political Branding dan Religious Legitimation nyaris sempurna (5 dari 5).

Jadi, hipotesis awal kalau buku ini murni karya literasi keislaman itu gugur. 

bukti-buktinya jauh lebih kuat nunjukin, kalau buku ini adalah instrumen propaganda dan pembangunan citra politik buat bekal 2029.

Pembaca nggak bilang buku ini sepenuhnya "haram" dibaca. • tetapi sebagai generasi yang melek informasi, lo harus cerdas. 

Jangan gampang kagum cuma karena kemasannya pakai bahasa agama dan di-endorse tokoh besar. 

dibalik itu semua, selalu ada mesin politik yang lagi kerja keras untuk bentuk persepsi rakyat. 

BERSUARA KERAS untuk Demokrasi dan Keadilan dan Kejujuran.

Informasi Artikel:

| Konteks: Politik, Religius, 

| Penulis: DS, BH

| Sumber: DS, BH, 

| Penerbit: Kupang TIMES

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

Copyright © 2022 The Kupang Times Newsroom.com ™ Design By The Kupang Times Newsroom.com ®