Edisi: 1.429
Halaman 3
Integritas |Independen |Kredibel
Ringkasan Berita:
• Seskab Teddy Indra Wijaya merespons kritik Dino Patti Djalal terkait kunjungan luar negeri Presiden Prabowo.
• Teddy menyebut diplomasi dibangun jangka panjang dan menolak anggapan kunjungan bersifat seremonial.
• Ia juga menyinggung masa jabatan Dino saat pernah menjabat Wakil Menteri Luar Negeri.
JAKARTA, KUPANG TIMES - Hubungan antara pejabat pemerintahan aktif dan pengamat sekaligus diplomat senior kembali menghangat, usai Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menanggapi kritikan mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal terkait Kunjungan Luar Negeri Presiden RI Prabowo Subianto.
Apresiasi dan Sindiran,
Teddy membuka tanggapannya dengan beri apresiasi atas masukan Dino Patti Djalal yang dinilai cukup cermat dan terstruktur dalam menyoroti kebijakan kunjungan luar negeri Presiden RI Prabowo Subianto.
Namun, apresiasi tersebut langsung disertai sindiran terkait masa jabatan Dino saat menjabat Wakil Menteri Luar Negeri.!
“sebelumnya, terima kasih atas masukan yang telah diberikan, sangat cermat dan terstruktur,
Saya pikir beliau adalah diplomat hebat, pernah menjadi Wakil Menteri Luar Negeri walau hanya diberi kesempatan sekitar 3 bulan.!|Teddy (Seskab RI) dikutip dari unggahan video resmi Seskab RI, Senin (01/06/26).
cukup tahu • Dino Patti Djalal menjabat Wakil Menteri Luar Negeri pada akhir masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yakni: Juli hingga Oktober 2014.
Kritik Biaya dan Frekuensi Kunjungan Disorot,
Dino Patti Djalal mengkritik dan menyoroti tingginya frekuensi kunjungan luar negeri Presiden RI Prabowo Subianto yang dinilai perlu menjadi perhatian publik, termasuk dari sisi biaya perjalanan serta persepsi bahwa; sebagian agenda bersifat seremonial.
Meluruskan Tudingan “Gagah-Gahan,”
Menanggapi kritik tersebut, Teddy menilai, terdapat kekeliruan framing yang menyebut kunjungan luar negeri Presiden hanya bersifat seremonial atau “gagah-gahan."
Teddy menegaskan, Presiden RI Prabowo menjabat di tengah situasi global yang diwarnai berbagai krisis, sehingga diplomasi tidak bisa dibangun secara instan, melainkan melalui hubungan jangka panjang antar pemimpin negara.
“Kita tidak bisa hanya mengandalkan saat krisis baru kita minta bantuan.. Tidak.!
Kita harus panen hubungan yang baik, lalu bila suatu saat ada kondisi mendesak, kita bisa minta bantuan,
Jadi salah besar kalau dibilang hanya gagah-gahan atau seremonial."|Teddy (Seskab RI)
Sentil Protokol dan Pertemuan Bilateral,
Teddy menanggapi kritik terkait pengelolaan protokoler dan pertemuan bilateral dalam forum internasional.
Teddy menekankan, penentuan prioritas pertemuan merupakan keputusan strategis Presiden bersama Menteri Luar Negeri, bukan sekadar urusan teknis protokol.
“Pertemuan dengan kepala negara lain di suatu event itu yang menentukan adalah Bapak Presiden dan juga saran dari Menteri Luar Negeri,
dan beliau-beliaulah yang mengetahui mana yang prioritas."|Teddy (Seskab RI)
Sikap Pemerintah atas Kritik,
Teddy menegaskan, pemerintah tetap terbuka terhadap kritik dan masukan dari publik maupun kalangan ahli.
Teddy mengingatkan, kritik yang disampaikan tetap berbasis konteks utuh agar tidak mengaburkan capaian diplomasi luar negeri yang sedang dijalankan pemerintah.
BERSUARA KERAS untuk Demokrasi dan Keadilan dan Kejujuran.
• Informasi Artikel:
| Konteks: Politik,
| Penulis: W.J.B
| Sumber: Seskab RI,
| Penerbit: Kupang TIMES
