'Rupiah ANJLOK' Presiden RI, Prabowo Subianto: "Rakyat di Desa Enggak Pakai Dolar AS.!"

Edisi: 1.413
Halaman 2
Integritas |Independen |Kredibel

      Potret: KT|Properti

PROV JATIM, KUPANG TIMES - 'Nilai Tukar Rupiah Sentuh Angka 17.600 per USD pada Jum'at, 15 Mei 2026.'

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto tidak khawatir dengan melemahnya nilai mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. 

Prabowo menilai, turunnya nilai tukar rupiah tidak langsung berdampak bagi masyarakat desa.

eks Menteri Pertahanan era Joko Widodo itu, mengatakan, saat ini banyak orang yang sering menyatakan ekonomi Indonesia dalam bahaya karena rupiah terus melemah. 

"Sekarang ada yang selalu, entah mengapa saya enggak mengerti, sebentar-sebentar bilang Indonesia akan collapse, akan chaos, atau akan apa.. Ya, kan.?"|Prabowo (Presiden RI) saat di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/05/26) 

Prabowo meminta masyarakat tidak terlalu khawatir dengan pergerakan rupiah terhadap dolar AS. 

Ketum Gerindra itu, mengungkapkan, kondisi Indonesia masih aman dibanding negara-negara lain, khususnya di sektor pangan dan energi.

Prabowo menanggapi santai kondisi tersebut, karena masyarakat desa tidak menggunakan mata uang asing dalam kehidupan sehari-hari. 

Karena itu, Prabowo tidak khawatir dengan peringatan orang-orang soal rupiah yang melemah. 

"Rupiah begini, dolar begitu.. Orang rakyat di desa enggak pakai dolar, kok. Iya kan.?"|Prabowo (Presiden RI) 

pada perdagangan Jumat pagi, 15 Mei 2026, rupiah melemah hingga ke level 17.600 per dolar AS. 

Angka tersebut adalah yang tertinggi sejak krisis moneter Asia pada 1997-1998.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi memprediksi nilai tukar rupiah menembus level IDR 18 ribu per USD pada Mei 2026. 

Kalau seandainya tembus IDR 18 ribu pada Mei ini, ada kemungkinan besar rupiah menembus level 22 ribu per dolar AS."|Ibrahim (Dir. TAF) dalam keterangan, Jum'at (15/05/26) 

Ibrahim menilai, dua hari terakhir, yaitu: Kamis-Jum'at, 14-15 Mei 2026, merupakan ujian bagi Indonesia. 

sebab, saat perdagangan libur karena tanggal merah, tensi geopolitik di Timur Tengah terus memanas.

sementara itu, Bank Indonesia hanya bisa melakukan intervensi di pasar internasional selama periode libur. 

Karena itu, dampak tekanan eksternal terhadap rupiah menjadi lebih besar. 

Namun, Ibrahim menilai, kondisinya bisa saja berbeda saat perdagangan dibuka pada Senin, 18 Mei 2026.

dari segi eksternal, Ibrahim menyebutkan menguatnya dolar AS dipengaruhi oleh arah kebijakan bank sentral Amerika, The Federal Reserve (The Fed). 

The Fed diperkirakan tidak menurunkan suku bunga sepanjang 2026 karena kenaikan inflasi AS yang cukup signifikan.

sementara itu, dari segi internal, Ibrahim menyoroti besarnya tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. 

Sebab, pelemahan rupiah berdampak melonjaknya belanja subsidi minyak.

BERSUARA KERAS untuk Demokrasi dan Keadilan dan Kejujuran.

Informasi Artikel:

| Konteks: Politik, Keuangan, Ekonomi, 

| Penulis: W.J.B

| Sumber: PT TAF, BI, The FED, 

| Penerbit: Kupang TIMES

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

Copyright © 2022 The Kupang Times Newsroom.com ™ Design By The Kupang Times Newsroom.com ®