Edisi: 1.370
Halaman 2
Integritas |Independen |Kredibel
USA, KUPANG TIMES - Misi Artemis II resmi meluncur, Rabu (01/04/26), menandai kembalinya manusia ke ruang angkasa dalam (deep space), setelah lebih dari 50 tahun sejak program Apollo.
Peluncuran dilakukan dari Kennedy Space Center, Amerika Serikat (AS), menggunakan roket Space Launch System (SLS) yang membawa kapsul Orion berisi empat astronaut.
Misi ini menjadi penerbangan berawak pertama dalam program Artemis milik NASA.
Administrator NASA, Jared Isaacman mengatakan, peluncuran astronaut dalam misi Artemis II merupakan 'momen penting bagi negara dan bagi semua yang percaya pada eksplorasi.' Rabu (01/04/26),
“Artemis II melanjutkan visi yang dicanangkan Presiden Donald J. Trump, yakni: membawa manusia kembali ke Bulan untuk pertama kalinya dalam lebih dari 50 tahun, sekaligus membuka babak baru eksplorasi lunar setelah era Apollo."|Isaacman (Administrator NASA) dalam pernyataan resmi, dikutip dari ABC News.
empat astronaut yang terlibat dalam misi tersebut, antara lain: Reid Wiseman sebagai Komandan, Victor Glover sebagai Pilot, serta dua mission specialist yakni: Christina Koch dan Jeremy Hansen dari Kanada.
Komposisi Kru ini mencatat sejarah baru, karena mencakup perempuan pertama, astronaut kulit hitam pertama, serta astronaut non-Amerika pertama yang melakukan perjalanan ke sekitar Bulan.
salah satu astronaut, Reid Wiseman mengatakan, misi ini sebagai pengalaman yang sangat dinantikan.
“Kami siap untuk membawa manusia kembali menjelajahi ruang angkasa dalam dan melangkah lebih jauh dari yang pernah kami capai sebelumnya."|Reid (Komandan NASA) pernyataan resmi NASA.
Tidak Mendarat di Bulan,
Artemis II tidak akan mendarat di Bulan, melainkan melakukan perjalanan mengelilingi Bulan sebelum kembali ke Bumi.
Misi ini diperkirakan berlangsung sekitar 10 hari, dengan tujuan utama menguji seluruh sistem kapsul Orion dalam kondisi nyata di luar orbit Bumi.
Selama misi, para astronaut akan menguji sistem pendukung kehidupan, navigasi, serta komunikasi jarak jauh, sekaligus melakukan uji kendali manual pesawat.
dalam perjalanan ini, kru akan menempuh jarak hingga sekitar 400.000 kilometer dari Bumi, menjadikannya salah satu perjalanan manusia terjauh dalam sejarah eksplorasi antariksa.
Misi ini juga dipandang sebagai langkah penting menuju target jangka panjang NASA untuk kembali mendaratkan manusia di Bulan.
Sejumlah pengamat menilai Artemis II sebagai fondasi krusial bagi masa depan eksplorasi antariksa.
Ilmuwan NASA, Jacob Bleacher mengatakan, misi ini sebagai langkah awal menuju pembangunan kehadiran manusia di Bulan.
“Artemis II adalah langkah pertama menuju jalur di mana kita akan mendarat di wilayah kutub selatan Bulan dan mulai membangun infrastruktur di sana."|Jacob (Ilmuwan NASA)
Namun, sejumlah ahli mengingatkan, adanya risiko teknis yang tidak bisa diabaikan.
Astrofisikawan Jonathan McDowell menyoroti margin kesalahan dalam misi ini sangat kecil, terutama saat proses kembali ke atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi.
Jonathan mengatakan, kesalahan kecil saja dapat berdampak besar pada keselamatan misi.
Fondasi Penting,
meski tidak melakukan pendaratan, Artemis II menjadi fondasi penting untuk misi berikutnya, yaitu: Artemis III yang ditargetkan akan membawa manusia kembali menginjakkan kaki di permukaan Bulan.
NASA ingin memastikan seluruh sistem benar-benar aman sebelum digunakan dalam misi pendaratan.
Peluncuran Artemis II sekaligus menandai dimulainya kembali era eksplorasi manusia ke luar orbit Bumi, membuka jalan bagi pembangunan pangkalan di Bulan dan ambisi jangka panjang untuk mengirim manusia ke Mars.
BERSUARA KERAS untuk Demokrasi dan Keadilan dan Kejujuran.
• Informasi Artikel:
| Konteks: Teknologi, Antariksa, Pendidikan, Sejarah,
| Penulis: W.J.B
| Sumber: NASA, ABC News,
| Penerbit: Kupang TIMES



