Edisi: 1.378
Halaman 1
Integritas |Independen |Kredibel
ISLAMABAD, KUPANG TIMES - Perundingan Tingkat Tinggi antara Amerika Serikat dan Iran gagal menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri perang.
Hal tersebut diungkapkan oleh Wakil Presiden AS, JD Vance.
Vance mengatakan, kegagalan tersebut dikarenakan Iran tidak mau menerima syarat-syarat yang ditawarkan oleh AS.
"Kami telah melakukan sejumlah diskusi substantif dengan Iran, itu Kabar Baiknya,
Kabar Buruknya adalah kami belum mencapai kesepakatan,
dan menurut saya, ini adalah Kabar Buruk bagi Iran, jauh lebih buruk dari pada bagi AS."|Vance (Wapres AS) dalam konferensi pers, Minggu (12/04/26) waktu setempat.
Vance mengatakan, AS datang ke meja perundingan dengan sikap fleksibel dan 'itikad baik.'
namun, sangat disayangkan kedua pihak tidak mencapai kesepakatan.
"Kami meninggalkan tempat ini dengan sebuah proposal yang sangat sederhana, sebuah pemahaman bahwa ini adalah penawaran terakhir dan terbaik dari kami,
Kita lihat saja apakah pihak Iran akan menerimanya."|Vance (Wapres AS)
Vance mengungkapkan, Presiden AS, Donald Trump, terlibat langsung dalam perundingan tersebut.
Vance mengatakan, dirinya telah berbicara dengan Presiden sekitar belasan kali selama 21 jam proses negosiasi berlangsung.
selain itu, menghentikan Iran memiliki senjata nuklir, baik sekarang maupun di masa depan, adalah 'tujuan utama' dari Presiden AS, Donald Trump.
Vance memberikan apresiasi kepada Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif dan Pejabat Militer, Asim Munir.
Vance mengatakan, 'apa pun kekurangan' dalam negosiasi, 'itu bukan karena pihak Pakistan, yang telah bekerja dengan luar biasa.'
di sisi lain, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan, pertemuan tersebut sebagai diskusi yang 'intens.'
Namun, Baqaei menegaskan, keberhasilan negosiasi bergantung pada 'keseriusan dan itikad baik dari pihak lawan.'
Baqaei menyerukan kepada Washington untuk menahan diri dari 'tuntutan yang berlebihan dan permintaan yang melanggar hukum.'
Selain itu, Baqaei menegaskan, agar AS menerima 'hak dan kepentingan sah Iran.'
Baqaei mengatakan, topik yang menjadi pembahasan utam adalah Selat Hormuz, program nuklir Iran, dan 'pengakhiran total perang di Iran.'
cukup tahu • sebelumnya, delegasi Amerika Serikat dan Iran telah tiba di Islamabad, Pakistan, menjelang perundingan damai kedua negara, Sabtu (11/04/26).
JD Vance, tiba dengan disambut beberapa pejabat Pakistan, termasuk Menteri Luar Negeri, Mohammad Ishaq Dar.
JD Vance menghadiri perundingan bersama utusan khusus Steve Witkoff serta menantu sekaligus penasihat Presiden Donald Trump, Jared Kushner.
sementara itu, stasiun televisi pemerintah Iran melaporkan, delegasi Iran dipimpin oleh Ketua Parlemen Iran, Mohammad-Bagher Ghalibaf.
Ghalibaf didampingi oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi • Sekretaris Dewan Pertahanan, Ali Akbar Ahmadian • Gubernur Bank Sentral, Abdolnaser Hemmati • dan sejumlah anggota parlemen Iran.
Trump mengatakan AS telah menerima proposal 10 butir dari Iran yang disebut sebagai 'dasar yang dapat dijalankan untuk bernegosiasi.'
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi mengatakan, ada proposal berisikan 15 poin penting.
yang menjadi hambatan dalam perundingan kedua negara.?
Lebanon,
Serangan militer Israel terhadap sekutu Iran di Lebanon, kelompok Hizbullah, dapat menggagalkan perundingan bahkan sebelum negosiasi dimulai.
"Kelanjutan tindakan-tindakan ini akan membuat perundingan menjadi tanpa makna,
Jari-jari kami tetap berada di pelatuk, Iran tidak akan pernah meninggalkan saudara-saudari Lebanon kami."|Masoud Pezeshkian (Presiden Iran) dalam cuitan di X.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mengatakan, tidak ada 'gencatan senjata' jika menyangkut Hizbullah, tetapi peringatan berulang Israel kepada warga pinggiran selatan Beirut untuk mengungsi sejauh ini belum menghasilkan tindakan lebih lanjut.
Presiden AS, Donald Trump mengatakan, tindakan Israel di Lebanon kini akan "sedikit lebih rendah skalanya" dan Departemen Luar Negeri AS menyatakan pembicaraan langsung antara Israel dan Lebanon akan berlangsung di Washington pekan depan.
Apakah langkah-langkah tersebut akan memuaskan Iran masih harus dilihat lagi.
Selat Hormuz,
topik lain yang berpotensi menggagalkan perundingan sejak awal adalah jalur pelayaran yang krusial bagi kapal tanker, di Selat Hormuz.
Donald Trump mengatakan Iran "melakukan pekerjaan yang sangat buruk" dalam mengizinkan kapal-kapal melintas di selat tersebut, meskipun sebelumnya mengatakan akan melakukannya.
"ini bukan kesepakatan yang kami miliki.!"|Trump (Presiden AS) dalam sebuah unggahan di Truth Social, seraya menuduh Iran "tidak terhormat."
Sangat sedikit kapal yang melintas, dan sejauh ini, masih ada ratusan kapal dan sekitar 20.000 pelaut terjebak di perairan Teluk.
Iran mengatakan, Selat Hormuz sebagai perairan kedaulatan Iran.
Teheran bahkan segera merilis regulasi baru untuk mengatur kapal mana yang boleh dan tidak boleh melintas.
Pada Kamis (09/11/26), Iran mengumumkan pembentukan rute transit baru, di sebelah utara dari dua jalur pemisah lalu lintas kapal.
Iran mengatakan rute baru tersebut diperlukan "untuk menghindari keberadaan berbagai jenis ranjau anti-kapal di zona lalu lintas utama."
di tengah laporan bahwa; beberapa kapal yang berhasil melintas dalam beberapa pekan terakhir telah membayar biaya sebesar USD 2 Juta atau IDR 34,2 Miliar.
Trump memperingatkan, Iran "sebaiknya tidak memungut biaya kepada kapal tanker."
Nuklir,
Topik nuklir bisa dibilang yang terbesar, dan tentu yang paling lama, menjadi sumber perselisihan antara AS dan Iran.
Trump mengatakan, dirinya meluncurkan Operation Epic Fury untuk memastikan Iran "tidak akan pernah memiliki senjata nuklir."
Iran mengatakan, tidak pernah berusaha membangun bom—klaim yang dipandang dengan sangat skeptis oleh sebagian besar negara-negara Barat.
sebagai bukti, penandatangan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir, dimana Iran menekankan bahwa; mereka memiliki hak untuk memperkaya uranium untuk tujuan sipil.
Proposal 10 butir dari Iran, yang disebut Trump sebagai "dasar yang dapat diterapkan untuk bernegosiasi" mencakup tuntutan pengakuan internasional atas hak pengayaan uranium.
adapun rencana 15 poin yang digagas Trump dilaporkan menuntut agar Iran "mengakhiri seluruh pengayaan uranium di wilayah Iran."
Namun, ketika ditanya soal nuklir awal pekan ini, Menteri Pertahanan Pete Hegseth hanya mengatakan Iran "tidak akan pernah memiliki senjata nuklir atau kemampuan untuk mendapatkan jalur menuju senjata tersebut."
Perlu waktu bertahun-tahun bagi para perunding internasional untuk mencapai Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) 2015, yang membahas topik rumit ini dengan sangat rinci.
apakah kedua pihak siap membahas kesepakatan baru.?
Sekutu-sekutu Iran di Timur Tengah,
Jaringan sekutu dan proksi regional Iran—Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, Hamas di Gaza, dan beragam milisi di Irak—telah memberikan Teheran pengaruh di Timur Tengah.
Hal ini memungkinkan Iran menjalankan apa yang sering disebut sebagai "pertahanan ke depan" dalam perselisihan panjangnya dengan Israel dan Amerika Serikat.
Sejak dimulainya serangan Gaza pada Oktober 2023, jaringan yang disebut Iran sebagai "Poros Perlawanan" terus-menerus digempur.
Salah satunya, rezim mantan diktator Suriah, Bashar al-Assad, sudah tidak berkuasa lagi.
Namun Israel memandang aliansi yang disebut sebagai "Poros Kejahatan" itu merupakan ancaman eksistensial yang perlu diberantas sepenuhnya.
Pada saat ekonomi Iran tertekan, banyak warga Iran juga ingin melihat pemerintah mereka mengurangi pengeluaran untuk sekutu-sekutu di luar negeri dan lebih banyak membelanjakan dana untuk kepentingan domestik warga.
Namun sejauh ini hanya ada sedikit tanda bahwa Iran siap melepaskan para sekutunya.
Keringanan Sanksi,
Iran telah dikenai rentetan sanksi internasional yang melumpuhkan selama puluhan tahun.
Iran menuntut AS dan berbagai negara mencabut sanksi sebagai bagian dari kesepakatan damai.
Pada Jum'at (10/04/26), Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan, sekitar USD 120 Miliar aset Iran yang dibekukan harus dicairkan sebelum perundingan dimulai.
"ini adalah salah satu dari dua langkah yang telah disepakati sebelumnya (yang lainnya adalah gencatan senjata di Lebanon)."|Ghalibaf (Ketua Parlemen Iran)
Namun, pernyataan pada 7 April dari Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, yang mengumumkan gencatan senjata dua minggu tidak menyebutkan apa pun mengenai pencairan aset yang dibekukan.
Jadi, tidak jelas kesepakatan apa yang dirujuk oleh Ghalibaf.
Apakah pemerintahan Trump bersedia membuat konsesi sebesar itu.?
Langkah tersebut masih harus dilihat lagi.
BERSUARA KERAS untuk Demokrasi dan Keadilan dan Kejujuran.
• Informasi Artikel:
| Konteks: Politik, Hukum,
| Penulis: W.J.B
| Sumber: BBC World, WH,
| Penerbit: Kupang TIMES
