Edisi: 1.346
Halaman 5
Integritas |Independen |Kredibel
WASHINGTON DC, KUPANG TIMES - Harga minyak mentah dunia turun pada akhir perdagangan Senin (09/03/26) waktu setempat atau Selasa (10/03/26) pagi WIB, setelah sebelumnya sempat melonjak mendekati level USD 120 per barrel.
Penurunan terjadi setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengatakan, pemerintahnya sedang mempertimbangkan untuk mengambil alih kendali Selat Hormuz, yang merupakan jalur pelayaran paling penting bagi perdagangan minyak dunia.
dikutip dari CNBC, harga minyak mentah berjangka Brent turun 4,6% ke level USD 88,43 per barrel.
Sementara harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS turun 6,19% ke level USD 85,27 per barrel.
Trump mengatakan kepada CBS News melalui percakapan telepon bahwa; kapal-kapal saat ini masih bergerak melintasi Selat Hormuz.
dalam percakapan tersebut, Trump mengatakan pemerintah AS sedang mempertimbangkan untuk mengambil alih jalur tersebut.
"Saya sedang memikirkan untuk mengambil alihnya."|Trump (Presiden AS)
Trump mengatakan, perang yang terjadi saat ini kemungkinan akan segera berakhir.
Selain itu, Trump mengatakan, dirinya sedang mempertimbangkan untuk mengurangi sanksi minyak terhadap Rusia guna membantu menekan harga minyak dunia, menurut 3 (tiga) sumber yang mengetahui pembahasan tersebut kepada Reuters.
Harga Turun,
pada perdagangan hari sebelumnya, harga minyak mentah Brent sebelumnya sempat naik 6,76% dan ditutup di level USD 98,96 per barrel, setelah sempat menyentuh USD 119,50 per barrel pada sesi perdagangan yang sama.
Sementara harga minyak mentah WTI sempat ditutup naik 4,26% menjadi USD 94,77 per barrel.
bahkan harganya sempat naik hingga USD 119,48 pada perdagangan malam, karena negara-negara Arab di kawasan Teluk memangkas produksi.
Pemangkasan produksi dilakukan karena kapasitas penyimpanan mereka mulai penuh, imbas kapal-kapal tidak dapat melintasi Selat Hormuz untuk mendistribusikan minyak akibat ancaman dari Iran.
Kenaikan tersebut sekaligus menjadi pertama kalinya harga minyak menembus USD 100 per barrel sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
G7,
saat ini para menteri energi negara-negara G7 dijadwalkan menggelar pertemuan virtual pada Selasa, (10/03/26) untuk membahas kemungkinan pelepasan cadangan minyak secara bersama-sama dari stok strategis mereka.
langkah tersebut dipertimbangkan untuk menambah pasokan minyak di pasar global.
Anggota G7 antara lain: dari Kanada, Perancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat.
dalam pernyataan bersama, para menteri keuangan G7 mengatakan siap mengambil langkah yang diperlukan guna menjaga stabilitas pasokan energi dunia.
"Kami siap mengambil langkah yang diperlukan, termasuk untuk mendukung pasokan energi global seperti melalui pelepasan cadangan minyak."|pernyataan bersama para menteri anggota G7
Ganggu,
Penutupan Selat Hormuz memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah, menurut analisis perusahaan konsultan Rapidan Energy.
Sekitar 20% konsumsi minyak dunia diekspor melalui jalur tersebut.
Wakil presiden pasar minyak Rystad Energy, Janiv Shah, mengatakan, harga minyak Brent berpotensi melonjak hingga USD 135 per barrel, jika kondisi saat ini berlangsung selama empat bulan.
"dan harga minyak Brent dapat menembus 110 dollar AS per barrel jika situasi yang terjadi saat ini berlangsung selama dua bulan."|Shah (Wapres pasar minyak Rystad Energy) dalam catatannya.
BERSUARA KERAS untuk Demokrasi dan Keadilan dan Kejujuran.
• Informasi Artikel:
| Konteks: Migas, Ekonomi,
| Penulis: W.J.B
| Sumber: Reuters, CNBC, Rystad Energy,
| Penerbit: Kupang TIMES
