ENSIKLOPEDI: Sejarah Supersemar.!

Edisi: 1.346
Halaman 6
Integritas |Independen |Kredibel

      Potret: LIFE|Properti

KUPANG TIMES - Keberadaan dari Surat Perintah Sebelas Maret atau lebih dikenal dengan sebutan Supersemar memang tidak boleh dilupakan dari catatan  sejarah Indonesia. 

sebab, adanya Supersemar bisa mengubah wajah  politik yang ada di Indonesia secara drastis. 

meski begitu, perlu diketahui juga, jika keberadaan dari naskah Supersemar yang asli sampai saat ini belum diketahui keberadaanya.

dikutip dari situs kepustakaan-presiden.perpusnas.go.id, ada yang mengatakan, Supersemar ada di salah satu bank di luar negeri. 

ada juga yang mengatakan, Supersemar ada di dalam negeri yang disimpan oleh Presiden Ke-2 RI, Soeharto. 

meski begitu, informasi tersebut masih belum dibuktikan kebenarannya, karena tidak ada bukti otentik yang bisa mendukung kebenaran dari informasi tersebut.

Ketidakjelasan akan keberadaan dari Supersemar tersebut, menjadikannya sebagai salah satu dokumen sejarah Indonesia yang masih gelap.

Supersemar adalah surat yang menjadi awal peralihan kepemimpinan nasional yakni: dari masa Orde Lama ke Orde Baru. 

Supersemar diterbitkan pada 11 Maret 1966 membuat terjadinya penyerahan mandat kekuasaan dari Presiden RI, Ir. Soekarno Ke Letjen TNI, Soeharto. 

saat itu, Soeharto masih menduduki Jabatan sebagai Menteri atau Panglima Angkatan Darat. 

Tujuan, 

Salah satu tujuan diterbitkannya Supersemar adalah sebagai bentuk upaya mengatasi konflik yang terjadi di dalam negeri saat itu, salah satunya adalah peristiwa G3S/PKI pada tanggal 1 Oktober 1965.

seperti yang dijelaskan sebelumnya, hingga saat ini keberadaan dari Supersemar masih terus menjadi kontroversi karena memang naskah aslinya tidak pernah ditemukan.

Latar Belakang, 

Supersemar merupakan suatu surat perintah yang di dalamnya telah ditandatangani oleh Presiden RI, Ir. Soekarno pada tanggal 11 Maret 1966. 

Supersemar memiliki isi tentang perintah yang memberikan instruksi kepada Letnan Jenderal (Letjen) Soeharto yang saat itu menduduki jabatan Panglima Komando Keamanan dan Ketertiban atau Pangkopkamtib untuk mengambil semua tindakan yang dianggap perlu.

tujuan dari pengambilan tindakan tersebut adalah untuk mengantisipasi terjadinya situasi keamanan yang ada pada saat itu. 

hingga pada akhirnya, Supersemar malah menjadikan kekuasaan Presiden RI, Ir. Soekarno menjadi lemah dan semakin terkikis, karena langkah dan strategi yang diambil oleh Letjen Soeharto pada saat itu.

beberapa langkah dan strategi yang diambil Soeharto, antara lain: penangkapan 15 menteri dalam kabinet yang sebelumnya telah dibentuk oleh Soekarno • membubarkan Pasukan Tjakrabirawa • dan mengontrol media di bawah Pusat Penerangan Tentara Nasional Indonesia atau Puspen TNI.

dikutip dari sebuah tulisan buku dengan judul “Supersemar:  Sejarah dalam Balutan Kekuasaan” yang dimuat dalam Wacana Bernas Jogja tahun 2014 menjelaskan, Supersemar diawali oleh peristiwa 30 September 1965 yang memakan korban enam orang perwira tinggi serta satu perwira menengah TNI AD.

selain itu, peristiwa tersebut juga diikuti dengan adanya aksi pembantaian massal yang berlangsung antara bulan Oktober hingga Desember 1965. 

adanya kekacauan yang terjadi di akhir September 1965 berhasil dikendalikan oleh Panglima Komando Strategi Angkatan Darat (Kostrad) yang pada saat itu dijabat oleh Mayor Jenderal (Mayjen) Soeharto.

selain itu, atas kesigapan Soeharto mengatasi kondisi yang terjadi sejak 1 Oktober 1965 menjadikannya mendapatkan tugas sebagai Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan Dan Ketertiban pada saat itu.

sejak saat itu, karier Soeharto dalam bidang kemiliteran semakin tidak terbendung. 

hal tersebut tercatat dalam sejarah Kemiliteran, ketika Soeharto dilantik menjadi Panglima TNI AD dengan pangkat Letjen. 

pada hari Jum'at tanggal 11 Maret 1966 terjadi sebuah aksi demo dari mahasiswa serta kelompok pasukan tidak dikenal tanpa atribut yang bergerak di sekitaran Monas.

dimana terjadinya kejadian tersebut bersamaan ketika Presiden Soekarno sedang memimpin Sidang Kabinet Dwikora yang disempurnakan di Istana Merdeka. 

Setelah mengetahui aksi tersebut, Presiden RI, Ir. Soekarno langsung meninggalkan sidang dan terbang menuju istana Bogor dengan menggunakan helikopter.

pada waktu sore harinya datang tiga jenderal yang sebelumnya juga sudah bertemu dengan Letjen Soeharto yang pada saat itu memang tidak dapat hadir pada sidang kabinet karena kondisinya sedang sakit.

Ketiga jenderal tersebut, antara lain: Basuki Rachmat, Amir Machmud dan M. Jusuf berhasil meyakinkan Presiden RI, Soekarno yang saat itu sedang berada di Istana Bogor untuk menerbitkan surat perintah kepada Letjen Soeharto. 

dimana isi dari surat perintah tersebut adalah untuk mengamankan situasi yang kian lama menjadi memanas.

melalui surat yang telah dibuat dan ditandatangani yang kemudian diterima oleh Letjen Soeharto, kondisi politik di Indonesia juga turut berbah. 

tidak sampai 24 Jam, Letjen Soeharto berhasil membubarkan PKI beserta menangkap 15 Menteri.

selain itu, Soeharto sukses menyingkirkan orang-orang yang saat itu pro dengan Soekarno dari lingkaran kekuasaan. 

adanya Supersemar menjadi sebuah tanda perubahan besar pada orientasi beragam kebijakan politik Indonesia.

mulai dari situ, secara perlahan dan pasti kekuasaan Presiden RI, Ir Soekarno mulai mengikis. 

Kebijakan politik yang tidak bersifat teknis militer yang memang seharusnya menjadi wewenang Presiden berhasil diambil alih oleh Soeharto. 

adanya kekhawatiran jika surat perintah tersebut dicabut, maka MPRS yang saat itu juga diisi oleh para pendukung Soeharto secara langsung mengesahkan Supersemar menjadi Ketetapan MPRS di tahun 1967.


Isi Supersemar, 

dikutip dari buku dengan judul Kudeta Supersemar: Penyerahan atau Perampasan Kekuasaan.? menjelaskan secara garis besar jika isi dari Supersemar adalah pemberian wewenang dari presiden Soekarno kepada Soeharto. 

ada tiga wewenang yang diberikan oleh Presiden RI, Ir. Soekarno pada Soeharto, antara lain:

1. Mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk terjaminnya keamanan dan ketenangan serta kestabilan jalannya pemerintahan dan jalannya Revolusi, serta menjamin keselamatan pribadi dan kewibawaan Pimpinan Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris MPRS, demi untuk keutuhan Bangsa dan Negara Republik Indonesia, dan melaksanakan dengan pasti segala ajaran Pemimpin Besar Revolusi.

2. Mengadakan koordinasi pelaksanaan perintah dengan Panglima-Panglima Angkatan Lain dengan sebaik-baiknya.

3. Supaya melaporkan segala sesuatu yang bersangkut paut dalam tugas dan tanggung jawabnya seperti tersebut di atas.

Tujuan Supersemar, 

Secara fisik, Naskah Asli Supersemar belum ditemukan hingga saat ini. 

meski begitu, sebuah tulisan dengan judul Supersemar: Sejarah dalam Balutan Kekuasaan yang pada saat itu dimuat dalam Wacana Bernas Jogja pada tahun 2014 menjelaskan jika Presiden Soekarno menegaskan jika tujuan dari adanya Supersemar yang diberikan kepada Letjen Soeharto adalah untuk mengatasi terjadinya kondisi serta bisa menjaga kewibawaan presiden.

Pernyataan tersebut Presiden RI, Ir. Soekarno dalam pidatonya dengan judul Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah atau kerap disebut dengan istilah “Jasmerah” pada tanggal 17 Agustus 1966. 

dalam pidatonya tersebut, Soekarno memberikan ucapan terima kasih kepada Soeharto, karena telah mampu melaksanakan tugas yang ia berikan kepadanya dengan baik.

meski begitu, Presiden Soekarno sebagai sosok yang memberikan perintah kepada Soeharto juga menekankan jika keberadaan dari Supersemar bukan semata-mata sebagai bentuk peralihan kekuasaan. 

Jika Supersemar dianggap sebagai bentuk perintah untuk mengalihkan kekuasaan serta pelimpahan wewenang, tentunya hal tersebut adalah sebuah kekeliruan.

dimana Supersemar tidak bisa menjadi sebuah legitimasi bagi pengambilan keputusan politis yang dilakukan oleh Soeharto atau dijadikan sebagai sebuah tonggak berdirinya Orde Baru. 

Upaya yang digunakan untuk menegaskan jika keberadaan Supersemar bukan sebagai alat politik memanglah pernah dilakukan.

dimana pada tanggal 13 Maret 1966, Presiden RI, Ir Soekarno menerbitkan surat perintah yang di dalamnya berisikan 3 (tiga) pokok penting. 

Pokok PERTAMA • mengingatkan Soeharto jika Supersemar adalah perintah yang memiliki sifat teknik dan administratif, bukanlah perintah politik atau bahkan sebagai penyerahan kekuasaan.

Pokok KEDUA • Presiden RI, Ir. Soekarno memberikan perintah kepada Soeharto agar tidak melakukan tindakan diluar batas kewenangannya dalam hal pemulihan keamanan. 

Pokok KETIGA • pengembangan Supersemar, Soeharto diminta agar bisa sesegera mungkin menghadap Presiden Soekarno.

Dikutip dari buku dengan judul A.M Hanafi Menggugat: Kudeta Jend Soeharto dari Gestapu ke Supersemar menjelaskan jika surat perintah tersebut disampaikan kepada Soeharto melalui Wakil Perdana Menteri atau Waperdam untuk Urusan Umum Johannes Leimena.

Meski begitu, Soeharto menolak akan surat perintah tersebut serta tetap berpegangan dengan Supersemar yang memberikan izin kepada dirinya untuk mengambil tindakan yang memang dianggap perlu guna terciptanya keamanan dan ketenangan serta kestabilan jalan pemerintahan saat itu.

seperti yang dijelaskan sebelumnya, jika surat tersebut memiliki tiga pokok dan salah satu pokoknya adalah memberikan mandat kepada Soeharto untuk segera menghadap ke Presiden Soekarno. 

Namun, meskipun sudah ada surat perintah tersebut, Soeharto menolak untuk menghadap Presiden Soekarno dengan alasan sedang bersiap menghadiri Sidang Panglima Angkatan Bersenjata yang akan dilangsungkan 14 Maret 1966.

sama dengan Supersemar yang sampai saat ini belum ditemukan keberadaannya. 

Surat Perintah 13 Maret 1966 hingga saat ini keberadaanya juga tidak bisa ditemukan. 

Bahkan, meski ada kesaksian akan dokumen tersebut keberadaanya juga tidak pernah ada sampai ke pers ataupun publik.

Hal ini menyebabkan adanya keraguan terkait keberadaan surat perintah 13 Maret 1966. 

Keberadaan dari Supersemar juga menjadi titik balik kekuasaan Soekarno semakin mengikis.  

Sementara itu di sisi lain, nama Soeharto yang kian lama kian naik ternyata juga memberikan pengaruh terhadap arah politik di Indonesia yang pada awalnya memiliki orientasi ke kiri hingga akhirnya secara perlahan menjadi berorientasi ke kanan.

Dimana dari anti Kolonialisme-Imperialisme atau nekolim menjadi Pro Modal Asing. 

selain itu, adanya Supersemar juga menjadi alat politik legitimasi kekuasaan selama 32 tahun lamanya.


Dampak Supersemar, 

Adanya peristiwa pemberontakan PKI yang terjadi pada tanggal 30 September 1965 memang bisa diatasi oleh pihak TNI dengan mudah dan cepat. 

Meski begitu, bukan berarti setelah hal tersebut bisa secara keseluruhan perlawan dari PKI selesai.

Aliansi antara rakyat dan TNI AD dalam memburu serta melakukan pengejaran terhadap sisa-sisa PKI yang masih ada menjadi kocar-kacir dan berlari tanpa arah. 

Selain itu, adanya gelombang demonstrasi yang menginginkan agar keberadaan dari PKI dibubarkan kian serang terjadi.

Tak bisa dimungkiri jika saat itu situasi di Indonesia mulai benar-benar kacau. 

Pada masa itu juga menjadi masa akhir order lama. Supersemar atau surat perintah sebelas maret merupakan suatu surat perintah yang ditandatangani oleh Soekarno yang saat itu menjabat sebagai Presiden Indonesia pertama.

Sama seperti namanya, proses penandatangan Supersemar juga pada tanggal 11 Maret 1966. 

Adanya Supersemar juga menjadi salah satu dari beberapa dampak yang terjadi dari adanya tragedi G30S/PKI dalam bidang politik.

Supersemar merupakan surat perintah yang ditujukan kepada Soeharto yang kala itu menjabat sebagai Panglima Komando Operasi Keamanan dan ketertiban atau Pangkopkamtib agar bisa mengambil semua tindakan yang dianggap diperlukan dalam penyelesaian kondisi keamanan dan ketertiban yang saat itu memang sangat buruk.

Perlu diketahui jika Supersemar yang ada saat ini merupakan versi yang dirilis dari Markas Besar TNI Angkatan Darat (AD) dan yang tercatat dalam buku sejarah. 

meski begitu, beberapa ahli sejarah Indonesia memiliki pendapat jika saat ini masih banyak versi Supersemar.

tidak bisa dimungkiri lagi jika sampai saat ini keberadaan dari naskah asli Supersemar yang diinstruksikan oleh Presiden Soekarno di Istana Bogor masih ditelusuri.

Adanya Supersemar juga memberikan beberapa dampak. Nah, dampak dari adanya Supersemar adalah sebagai berikut ini.

Hancurnya Komunisme

Salah satu dampak positif dari adanya Supersemar adalah hancurnya komunisme yang ada di Indonesia. 

Supersemar mampu memberantas semua anggota PKI yang ada di Indonesia kala itu.

tidak bisa dimungkiri jika cukup banyak anggota PKI maupun yang berhubungan dengan PKI tutut diberantas. Sedangkan bagi keturunan diberikan label sebagai keturunan PKI. 

hal ini menjadikan para keturunan PKI tidak bisa memiliki hak khusus layaknya warga negara Indonesia secara umum.

Contoh: ketika memilih pejabat eselon I akan dilengkapi dengan memo dari Badan Intelijen Negara akan track record-nya dan memang harus benar-benar tidak menjadi keturunan PKI. 

hal tersebut juga sudah ada di dalam Tap MPRS Nomor 25 Tahun 1966.

Hilangnya Pengaruh Blok Timur

Pada saat era Presiden Soekarno atau Orde Lama, politik luar negeri Indonesia memang lebih cenderung ke Blok Timur. 

meski pada saat itu termasuk dalam Gerakan Non Blok. 

Namun, gerakan politik terbilang dekat dengan pentolan negara komunis. Sebagai contohnya adalah seperti: Uni Soviet, Kuba dan Republik Rakyat China.

Selain itu, Presiden Soekarno juga berteman dengan beberapa tokoh seperti  Khruschev, Fidel Castro dan Mao Zedong.

Hal ini juga terkait dengan kedekatannya dengan PKI serta paham Presiden Soekarno yang membenci adanya paham neo kolonialisme dan imperialisme. 

dimana paham tersebut terwujud di Blok Barat.

selain itu, Presiden RI, Ir. Soekarno mencetuskan adanya pemikiran nasionalis, agama dan komunisnya. 

Pemikiran tersebut ternyata mendapat dukungan dari PKI. 

PKI sendiri adalah tangan dari Blok Timur yang memiliki tugas menyebarkan paham komunisme di Indonesia.

dengan adanya Supersemar, keberadaan dari PKI mulai bisa dibubarkan serta semua pentolannya juga mulai dimusnahkan. 

dengan begitu, tangan dari Blok Timur di Indonesia hilang. 

Hal ini menjadikan Indonesia bisa terlepas dari adanya pengaruh Blok Timur.

Indonesia lebih Condong ke Blok Barat, 

Kedudukan Soeharto saat itu semakin menguat hingga menjadikan Indonesia yang pada awalnya contong ke timur beralih ke arah barat. 

Hal ini bisa dibuktikan dengan adanya kebijakan luar negeri Indonesia yang memberikan dukungan akan Amerika dan normalisasi hubungan luar negeri dengan Malaysia.

Padahal di era Presiden Soekarno, Malaysia dianggap sebagai salah satu antek neokolonialisme dan imperialisme. 

Indonesia juga kembali masuk ke dalam anggota PBB setelah sebelumnya keluar karena memang ada masalah dengan Malaysia.

dimana adanya kebijakan luar negeri Soeharto ini sangat berbeda jauh pada saat masa pemerintahan Presiden Soekarno.

Nah, itulah beberapa dampak adanya Supersemar. 

semoga semua pembahasan di atas dapat menambah wawasan kamu tentang Sejarah Indonesia. 

BERSUARA KERAS untuk Demokrasi dan Keadilan dan Kejujuran.

Informasi Artikel:

| Konteks: Sejarah, Politik, Hukum, 

| Penulis: W.J.B

| Sumber: Pinterest, 

•https://sejarahlengkap.com/indonesia/dampak-peristiwa-supersemar

•https://katadata.co.id/agung/berita/623351c0e5584/supersemar-sejarah-yang-tidak-boleh-dilupakan

•https://www.kompas.com/stori/read/2022/03/11/070000679/supersemar-latar-belakang-tujuan-isi-kontroversi-dan-dampak?page=all

| Penerbit: Kupang TIMES

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

Copyright © 2022 The Kupang Times Newsroom.com ™ Design By The Kupang Times Newsroom.com ®