Edisi: 1.344
Halaman 1
Integritas |Independen |Kredibel
Ringkasan Berita:
• Harga minyak dunia menembus USD 100 per-barrel setelah konflik AS, Israel, dan Iran meningkatkan risiko gangguan pasokan energi.
• Ancaman penutupan Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20% minyak dunia memperburuk sentimen pasar.
• Lonjakan harga energi memicu tekanan pada pasar saham global serta meningkatkan kekhawatiran inflasi.
KUPANG TIMES - Harga minyak dunia melonjak tajam dan menembus level USD 100 per-barrel, Minggu (08/03/26).
lonjakan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
data pasar menunjukkan minyak mentah acuan Brent naik 12,63% menjadi sekitar USD 104 per-barrel, sementara minyak mentah AS melonjak 14,7%.
Kenaikan tersebut menjadi level tertinggi sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 dan memicu kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan pasokan energi global.
Lonjakan Harga Minyak Dipicu Kekhawatiran Gangguan Pasokan,
Lonjakan harga minyak dunia dipicu kekhawatiran pasar terhadap dampak konflik yang berpotensi mengganggu distribusi energi dari kawasan Timur Tengah.
pada perdagangan awal pekan di sesi Asia, kontrak berjangka minyak bahkan bergerak lebih tinggi.
Minyak Brent sempat melonjak hingga USD 114,36 per-barrel, sedangkan minyak mentah AS mencapai sekitar USD 115,11 per-barrel.
Kenaikan tersebut menunjukkan kekhawatiran investor terhadap kemungkinan terganggunya rantai pasok energi global.
Timur Tengah selama ini merupakan salah satu pusat produksi minyak terbesar di dunia.
Kepala Ekonom JPMorgan, Bruce Kasman menilai, stabilitas pasokan energi global sangat bergantung pada kawasan tersebut.
“Perekonomian global tetap bergantung pada aliran terkonsentrasi minyak dan gas alam Timur Tengah melalui Selat Hormuz."|Bruce (Ekonom) dikutip Reuters.
Bruce sedikit menjelaskan, dalam skenario jangka pendek, harga minyak berpotensi terus meningkat, apabila konflik timur tengah tidak segera mereda.
“Namun, tanpa resolusi politik yang jelas dan tegas, harga minyak Brent diperkirakan bertahan pada level tinggi sekitar 80 dolar AS per-barrel hingga pertengahan tahun."|Bruce (Ekonom)
Ancaman Penutupan Selat Hormuz Memperburuk Sentimen Pasar,
Salah satu kekhawatiran terbesar investor berkaitan dengan potensi gangguan distribusi minyak di Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global.
sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati jalur tersebut setiap hari.
seorang pejabat senior Iran mengatakan, konflik telah memasuki tahap baru setelah serangan militer Israel.
“Iran tidak akan melepaskan kendali atas Selat Hormuz sampai target yang diinginkan tercapai."|Pejabat Iran, Minggu (8/3).
cukup tahu • Iran sebelumnya mengancam akan menyerang kapal tanker minyak yang melintasi jalur tersebut.
Jika ancaman tersebut terjadi, distribusi energi global dapat terganggu secara signifikan.
Situasi tersebut membuat sejumlah produsen minyak menghadapi keterbatasan penyimpanan, karena jalur distribusi yang terganggu.
Akibatnya, sebagian produsen mulai menyesuaikan tingkat produksi mereka.
Dampak Lonjakan Harga Minyak Terhadap Pasar Global,
Lonjakan harga minyak langsung memicu tekanan di berbagai pasar keuangan global.
di AS, indeks saham utama bergerak turun setelah kenaikan harga energi memicu kekhawatiran inflasi.
Dow Jones tercatat merosot 851,6 poin atau sekitar 2%, sementara S&P 500 turun 1,73% dan Nasdaq melemah 1,65%.
Kenaikan harga energi juga mulai terlihat pada harga bahan bakar di tingkat konsumen.
Data American Automobile Association (AAA) menunjukkan harga bensin rata-rata di AS mencapai USD 3,45 per-galon, naik sekitar 16% dibandingkan pekan sebelumnya.
lonjakan biaya energi ini, berpotensi, menambah tekanan terhadap inflasi global, terutama di negara-negara pengimpor energi.
Kepala Riset Makro Asia di Mizuho, Vishnu Varathan mengatakan, kawasan Asia menjadi salah satu wilayah yang paling rentan terhadap kenaikan harga minyak.
“Asia menanggung dampak terbesar dari lonjakan harga minyak, dan hampir tidak ada tempat aman untuk berlindung."|Vishnu (Kepala Riset Makro Asia)
Pemerintah AS mencoba Meredakan Kekhawatiran Pasar,
di tengah lonjakan harga energi, pemerintah AS berupaya meredakan kekhawatiran terkait dampak konflik terhadap harga bahan bakar.
dilansir dari ABC News, Presiden AS, Donald Trump mengatakan, kenaikan harga minyak yang terjadi saat ini bersifat sementara.
lonjakan harga minyak merupakan 'gangguan kecil' dan kenaikan harga minyak sebagai 'pengalihan' atau detour yang sudah diproyeksi sebelumnya.
sementara itu, Menteri Energi AS Chris Wright menegaskan, pemerintah tidak berencana menyerang industri minyak Iran atau fasilitas infrastruktur energi lainnya.
Risiko terhadap Ekonomi Global dan Fiskal Negara,
Lonjakan harga minyak berpotensi memengaruhi kondisi fiskal sejumlah negara.
di Indonesia, pemerintah telah melakukan simulasi risiko terhadap dampak kenaikan harga minyak terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, tekanan fiskal dapat meningkat, apabila harga minyak bertahan tinggi.
menurut perhitungan pemerintah, apabila harga minyak rata-rata mencapai USD 92 per-barrel sepanjang tahun—lebih tinggi dari asumsi APBN sekitar USD 60 per-barel—maka defisit anggaran berpotensi melebar hingga sekitar 3,6% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
BERSUARA KERAS untuk Demokrasi dan Keadilan dan Kejujuran.
• Informasi Artikel:
| Konteks: Energi, Ekonomi,
| Penulis: W.J.B
| Sumber: JPMorgan, ABC News, Kemenkeu RI, AAA, Riset Makro Asia, Reuters,
| Penerbit: Kupang TIMES


