Edisi: 1.339
Halaman 5
Integritas |Independen |Kredibel
KUPANG TIMES - Tepat 93 Tahun yang lalu, Sabtu, 4 Maret 1933, Franklin Delano Roosevelt (FDR) berdiri di hadapan rakyat Amerika Serikat yang sedang berada di titik nadir akibat Great Depression.
di bawah guyuran hujan di depan sayap timur Gedung Parlemen U.S. Capitol, Roosevelt menyampaikan pidato pelantikan yang melegenda dengan kalimat, "The only thing we have to fear is fear itself."
Penampilan Roosevelt saat itu memancarkan optimisme dan kompetensi yang luar biasa, sehingga mayoritas warga Amerika Serikat bersatu mendukung usulan ekonomi radikalnya yang dikenal sebagai 'New Deal.'
lahir di Hyde Park pada 1882, FDR memulai karier politik dengan mengikuti jejak sepupunya, Theodore Roosevelt.
dari kursi New York State Senate hingga menjabat Assistant Secretary of the U.S. Navy, karier FDR terlihat tidak terbendung sebelum akhirnya virus poliomielitis melumpuhkannya pada 1921.
Namun, keterbatasan fisik yang mengharuskan FDR menggunakan kursi roda atau penyangga kaki justru menempa ketangguhannya hingga dirinya terpilih menjadi Gubernur New York pada 1928 dan akhirnya memenangkan Kursi Presiden Amerika Serikat pada 1932 dengan mengalahkan Herbert Hoover.
bagaimana mungkin seorang Presiden AS, saat di depan rakyatnya, berjanji, menjaga perdamaian, tetapi secara diam-diam mempersiapkan Kekuatan Militer Raksasa.? serta, langkah pragmatis apa saja yang diambil di balik layar untuk memastikan kemenangan Sekutu bahkan sebelum serangan Pearl Harbor terjadi.?
Diplomasi Terselubung dan Manuver di Luar Jalur Resmi,
Ketika menjabat sebagai Presiden AS, Roosevelt mewarisi kondisi ekonomi yang hancur dengan 13 Juta pengangguran dan produksi industri yang merosot hingga setengah dari level tahun 1929.
berdasarkan catatan History dalam artikelnya, usai pelantikan FDR mengambil tindakan cepat dalam 100 hari pertama melalui pembentukan lembaga seperti Public Works Administration dan Tennessee Valley Authority.
Namun, tantangan terbesarnya muncul pada masa jabatan kedua saat Jerman dan Jepang mulai menunjukkan agresi militer.
meskipun di depan publik FDR berkampanye dengan retorika anti-intervensi (bahkan menyatakan di Boston pada 1940, "I have said this before, but I shall say it again and again. Your boys are not going to be sent into any foreign wars" kenyataannya di balik pintu tertutup sangat berbeda.
Penulis Peter Kross dalam artikelnya di Warfare History Network yang berjudul: How Franklin D. Roosevelt Prepared the U.S. for World War II mengungkapkan bahwa; FDR secara pribadi melakukan segala cara untuk bergabung dalam perjuangan melawan Hitler.
Hal tersebut terlihat dari korespondensi rahasia yang bervolume besar dengan Winston Churchill.
dalam surat-surat tersebut, Churchill menyebut FDR sebagai "POTUS" dan FDR memanggil Churchill sebagai "Former Naval Person."
Hubungan tersebut memungkinkan terjadinya kesepakatan-kesepakatan krusial di luar sepengetahuan Kongres yang saat itu didominasi oleh kaum isolasionis.
salah satu langkah pragmatis paling berani adalah kesepakatan pertukaran 50 kapal perusak (destroyer) lama dengan hak penggunaan pangkalan militer Inggris di Karibia.
FDR menyadari bahwa; Inggris adalah benteng terakhir melawan Nazi, dan jika Inggris jatuh, dominasi Jerman atas Eropa akan bertahan selama bertahun-tahun.
Arsitektur Intelijen dan Persiapan Perang Total,
FDR tidak hanya mempersiapkan persenjataan fisik, tetapi juga membangun infrastruktur intelijen modern.
FDR menugaskan William "Wild Bill" Donovan sebagai perwakilan pribadinya ke Inggris pada Juli 1940 untuk mempelajari metode spionase dan penanganan "Fifth Columm" atau gerakan subversi domestik.
Donovan diberi akses ke Room 40, pusat intelijen angkatan laut Inggris yang sangat rahasia, di mana dirinya bertemu dengan tokoh-tokoh penting, seperti: Stewart Menzies dan Ian Fleming.
berdasarkan rekomendasi Donovan, FDR kemudian mengambil langkah berisiko dengan menunjuk Donovan sebagai kepala Coordinator of Information (COI), sebuah langkah yang ditentang keras oleh pemimpin militer seperti Jenderal Sherman Miles karena dianggap sebagai "super agency" yang mengancam otoritas departemen perang.
Selain penguatan intelijen, strategi FDR mencakup perang ekonomi yang melumpuhkan.
pada 25 Juli 1941, FDR membekukan seluruh aset Jepang di Amerika Serikat dan memberlakukan embargo perdagangan total.
Tindakan tersebut, seperti yang diulas oleh Warfare History Network, secara praktis merupakan tindakan perang ekonomi yang memaksa Jepang mencari sumber minyak di tempat lain demi mesin militer mereka.
di sisi lain, FDR menyetujui pembentukan unit udara rahasia "The Flying Tigers" di China, di mana pilot-pilot Amerika dibayar USD 500 per-bulan dan tambahan USD 500 untuk setiap pesawat Jepang yang ditembak jatuh.
semua persiapan ini memuncak pada penyusunan Rainbow 5, sebuah cetak biru perang total yang memperkirakan kebutuhan 216 divisi infanteri dengan biaya astronomis USD 150 Miliar.
meskipun mendapat kritik keras dari tokoh seperti: Duta Besar Joseph P. Kennedy, yang mengatakan, Inggris dan Prancis sudah tamat.
Pernyataan Kennedy sempat menggoyang Kabinet FDR.
Namun, FDR tetap teguh pada visinya.
FDR memecat Kennedy setelah duta besar tersebut mengatakan kepada Bill Bullitt bahwa; Jerman akan menang dan Amerika tidak bisa melakukan apa pun.
Ketegasan FDR memastikan bahwa; saat Pearl Harbor diserang pada 7 Desember 1941, Amerika Serikat sudah memiliki fondasi yang kuat, baik secara diplomasi, ekonomi, maupun intelijen.
Warisan 13 tahun kepemimpinannya tidak hanya membawa AS keluar dari depresi ekonomi, tetapi juga meninggalkan tatanan dunia baru melalui Atlantic Charter yang mengedepankan kebebasan berbicara, kebebasan beragama, dan hak penentuan nasib sendiri bagi setiap bangsa.
BERSUARA KERAS untuk Demokrasi dan Keadilan dan Kejujuran.
• Informasi Artikel:
| Konteks: Sejarah,
| Penulis: W.J.B
| Sumber: NatGeo, History,
| Penerbit: Kupang TIMES

