Edisi: 1.311
Halaman 2
Integritas |Independen |Kredibel
KUPANG TIMES - Kisah pilu seorang bocah SD di Kabupaten Ngada, yang ditemukan tewas gantung diri, mendapat perhatian dan sorotan dan kritikan publik.
dan tidak terkecuali pegiat media sosial, Bilqis Humaira, dalam tulisannya memberikan kritikan tajam terhadap Pemerintah.
Berikut, ulasannya:
Berhenti scroll sebentar.!
Tatap tulisan cakar ayam di kertas lecek itu.
itu bukan PR Sekolah.. itu surat pamit.. surat wasiat dari seorang anak berusia 10 Tahun asal Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur, yang memutuskan gantung diri, dari pada bertahan hidup menanggung "dosa" karena dibelikan Pena dan Buku Tulis.
baca perlahan:
"Mama Jao Galo.." (Mama, aku Pamit..)
baca Kalimat itu Pake Hati lo, bukan Pake Otak.!
Surat "Mama Jao Galo.." itu bukan cuma surat pamit.. itu surat "GUGATAN" dari Alam Baka buat kalian para pemangku kebijakan.
Kalian sibuk bagi-bagi proyek Jumbo, sementara rakyat kalian mati konyol karena uang receh.
seorang bocah SD, Yatim, hidup numpang di gubuk neneknya yang renta, merasa bersalah.. merasa jadi beban.. merasa dirinya sampah.. cuma karena dia pengen punya alat tulis buat sekolah.
sementara dia mati membawa rasa bersalah, di Jakarta, para pejabat kita hidup tanpa rasa malu sedikitpun.
Coba kita itung-itungan pake logika paling bego.. logika orang susah.
Harga buku tulis dan pena paling mahal IDR 10.000 Ceban, Bos.!
Duit ceban di Jakarta itu cuma dapet parkir valet dua jam.
Duit ceban buat para pejabat itu bahkan nggak kerasa pas jatoh dari kantong celana mereka.
Tapi buat YBS (Alm), duit ceban itu tembok raksasa.
Tembok yang bikin dia putus asa sampai milih mati.
Dimana letak bajingannya.?
di saat berita ini naik, kita juga disuguhi berita soal:
Anggaran Mobil Dinas Baru yang nilainya miliaran.
Satu ban mobil dinas pejabat itu bisa membiayai sekolah satu kampung di desa si korban.
Studi Banding ke Luar Negeri yang habisin devisa negara cuma buat "belajar" hal yang bisa digugel di internet.
Anggaran Makan Siang Ratusan Triliun, tapi luput ngeliat fakta bahwa; sebelum dikasih makan, mental anak-anak ini udah mati duluan, karena kemiskinan.
NEGARA HADIR.? TAI KUCING.!
Sila Kelima Pancasila bunyinya "Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia."
mana Keadilannya.?
Keadilan Sosial itu cuma ada di kertas pidato pejabat pas kampanye.. di lapangan.? Nol besar.!
Negara ini sukses besar bikin jalan tol, sukses bikin kereta cepat, tapi GAGAL TOTAL melindungi nyawa satu anak kecil dari ancaman harga buku tulis.
ini bukan musibah alam.. ini bukan takdir Tuhan.
ini adalah PEMBUNUHAN STRUKTURAL.
Anak ini dibunuh oleh sistem yang membiarkan kesenjangan sosial makin menganga.
Anak ini dibunuh oleh ketidakpedulian birokrasi yang ribet, yang bansos-nya sering nyasar ke orang yang punya motor N-Max, sementara yang beneran miskin malah gigit jari (atau gantung diri).
Ironi Paling Brutal,
yang bikin dada sesak bukan cuma kematiannya.. tapi attitude-nya.
Si anak kecil yang jadi korban sistem negara ini, justru dia yang MINTA MAAF.
"Mama relakan saya pergi.."
Dia nggak nyalahin ibunya yang miskin.. Dia nggak nyalahin Tuhan.. Dia nyalahin dirinya sendiri, karena merasa "merepotkan."
sementara para pejabat yang ngerampok duit rakyat triliunan, yang bikin rakyat kayak si YBS ini makin melarat, pas ketangkep KPK malah senyum-senyum dadah ke kamera.
Nggak ada rasa bersalah.. Nggak ada surat minta maaf ke rakyat.
Siapa yang sebenernya sakit jiwa.? Anak itu atau para elit di negeri ini.?
Hei.. Tuan Pejabat, kalau malam ini kalian tidur nyenyak di kasur empuk ber-AC, ingatlah ada anak di NTT yang tidur selamanya di dalam tanah yang dingin karena kalian lalai.
Jangan cuma kirim karangan bunga.. Jangan cuma bikin press release "Turut Berduka Cita." Basi.!
Rakyat butuh bukti, kalau pajak yang kami bayar itu dipake buat nyelamatin nyawa, Pendidikan dan masa depan mereka, bukan buat nambah koleksi Jeep rubicon kalian.
selamat jalan, adik Kecil.. Maafin Kami, orang-orang dewasa yang pengecut dan nggak becus bikin dunia yang layak buat kamu.. Kamu nggak salah.. Negara ini yang berdosa.
BERSUARA KERAS untuk Demokrasi dan Keadilan dan Kejujuran.
• Informasi Artikel:
| Konteks: Sosial, Ekonomi,
| Penulis: W.J.B
| Sumber: Bilqis Humaira,
| Penerbit: Kupang TIMES
