Edisi: 1.311
Halaman 1
Integritas |Independen |Kredibel
Perhatian Editor:
Artikel ini tidak bertujuan menginspirasi tindakan bunuh diri.
Jika anda pernah memikirkan atau merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional atau mengenal orang-orang dalam kondisi tersebut, jangan ragu bercerita dan berkonsultasi kepada ahlinya.
KAB. NGADA, KUPANG TIMES - YBS (10th), Siswa Kelas IV pada salah satu Sekolah Dasar di Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur, tewas diduga gantung diri.
sebelum ditemukan tewas gantung diri, korban sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pulpen, namun tidak dikabulkan.
YBS meninggalkan sepucuk surat untuk ibunya.
Warga setempat mengungkapkan, keluarga kurang memberi perhatian kepada korban.
Surat yang ditulis tangan oleh Korban ditemukan di sekitar lokasi kejadian.
Korban tergantung dengan seutas tali di dahan pohon cengkeh di dekat sebuah pondok, tempat Korban tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun.
YBS ditemukan tewas pada Kamis (29/01/26) siang.
berikut, tulisan surat yang ditulis Korban dalam bahasa Ngada:
KERTAS TII MAMA RETI
MAMA GALO ZEE
MAMA MOLO JA’O
GALO MATA MAE RITA EE MAMA
MAMA JAO GALO MATA
MAE WOE RITA NE’E GAE NGAO EE
MOLO MAMA
artinya:
SURAT BUAT MAMA RETI
MAMA SAYA PERGI DULU
MAMA RELAKAN SAYA PERGI (MENINGGAL)
JANGAN MENANGIS YA MAMA
MAMA SAYA PERGI (MENINGGAL)
TIDAK PERLU MAMA MENANGIS DAN MENCARI ATAU MERINDUKAN SAYA
SELAMAT TINGGAL MAMA
Potret: Tulisan tangan YBS (10), korban diduga bunuh diri pada Kamis (29/01/26).
Kepala Seksi Humas, Polres Ngada, Inspektur Dua, Benediktus E. Pissort, mengatakan, dugaan sementara, korban bunuh diri.
meski demikian, Polisi masih terus melakukan pendalaman, Senin (02/02/26)
Benediktus membenarkan bahwa; surat tersebut diduga kuat ditulis oleh korban sebelum mengakhiri hidupnya.
”ini berdasarkan hasil pencocokan dengan tulisan korban di beberapa buku tulis,
Penyidik menemukan adanya kecocokan."|Benediktus (Kepala Seksi Humas, Polres Ngada)
Benediktus, mengatakan, sejumlah saksi sudah diperiksa, antara lain, Kornelis Dopo (59th) • Gregorius Kodo (35th) dan Rofina Bera (34th).
para saksi adalah warga setempat di Dusun Sawasina, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada.
dalam proses pemeriksaan tersebut, Kornelis mengatakan, sekitar pukul 11:00am WITA, dirinya hendak pergi mengikat Kerbau di sekitar pondok milik nenek korban.
di pondok tersebut, korban dan neneknya tinggal.
dari jauh, Kornelis melihat korban sudah dalam kondisi tergantung, dirinya langsung berlari menuju ke arah jalan sambil berteriak meminta tolong.
sejumlah Warga langsung datang ke lokasi kejadian tersebut dan menelepon Polisi.
cukup tahu • sebelumnya, sekitar pukul 08:00am WITA, Gregorius dan Rofina mendapati korban duduk di bale-bale, tempat duduk yang terbuat dari bahan bambu, di luar pondok itu.
para saksi sempat berbincang dengan korban, menanyakan keberadaan nenek korban dan menanyakan alasan korban tidak ke sekolah dan Korban terlihat Murung.
MGT (47th), ibu korban yang diminta keterangan secara terpisah, mengatakan, pada malam sebelumnya, korban sempat menginap di rumah bersamanya.
Keesokan paginya, korban dititipkan ke tukang ojek, untuk diantarkan ke pondok neneknya, sekitar pukul 06:00am WITA.
Ibu korban sempat memberikan nasihat terakhir kepada korban agar rajin bersekolah.
Ibu mengatakan bahwa; kondisi ekonomi keluarga terbatas dan serba kekurangan.
saat ini memperoleh uang memang tidak mudah.
Ekonomi,
sementara itu, Lipus Djio (47th), warga setempat yang dihubungi secara terpisah, mengatakan, dirinya mengenal baik korban.
anak Lipus dan korban berteman.
”mereka biasa main sama-sama.. Anak ini periang.. dia juga anak cerdas."|Lipus (warga)
Lipus, mengatakan, kondisi keluarga korban banyak tantangan.
itu yang membuat korban memilih tinggal bersama neneknya di pondok.
saat kejadian berlangsung, nenek korban yang berusia sekitar 80 tahun itu sedang berada di rumah tetangga.
Lipus menilai, korban kurang kasih sayang orang tua.
Ayah korban meninggal dunia pada saat korban masih dalam kandungan.
Ayah korban merupakan suami ketiga dari ibunya.
Ibu korban menafkahi lima anak, termasuk korban.
sebelum bunuh diri, korban sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pena.
Namun, permohonan itu tidak dikabulkan, karena ibunya tidak punya uang.
”yang bikin kami tidak mengerti adalah mengapa anak sekecil itu bisa bunuh diri.? begitu beratkah beban yang ia pikul.?”|Lipus (warga)
Kontak Bantuan,
Bunuh Diri bukan Jawaban apalagi solusi dari semua permasalahan hidup yang seringkali menekan.
bila Anda, teman, saudara atau keluarga yang anda kenal sedang mengalami masa sulit, dilanda depresi dan merasakan dorongan untuk bunuh diri, sangat disarankan menghubungi Dokter Kesehatan Jiwa (Psikolog /Psikiater) di Fasilitas Kesehatan (Puskesmas atau Rumah Sakit) terdekat.
Bisa juga mengunduh aplikasi Sahabatku: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.icreativelabs.sahabatku
atau hubungi Call Center 24 jam Halo Kemenkes 1500-567 yang melayani berbagai pengaduan, permintaan dan saran masyarakat.
anda juga bisa mengirim pesan singkat ke 081281562620, Faximile (021) 5223002, 52921669, dan alamat surat elektronik (surel) kontak@kemkes.go.id.
BERSUARA KERAS untuk Demokrasi dan Keadilan dan Kejujuran.
• Informasi Artikel:
| Konteks: Sosial, Kesehatan, Ekonomi,
| Penulis: W.J.B
| Sumber: Divisi Humas, Polres Ngada,
| Penerbit: Kupang TIMES



