MELAWAN LUPA.! Jenderal, Yang Di Hormati dan di Sayangi oleh Prajuritnya.?

Edisi : 141

Halaman 1

       Foto: ARSIP Nasional, Jenderal TNI, M. Jusuf

KUPANG TIMES - Jenderal TNI (Purn) Andi Muhammad Jusuf Amir atau di kenal luas dengan M. Jusuf merupakan tokoh militer yang sangat terkenal di kalangan prajurit. 

Wajar saja, pria kelahiran Bone, 23 Juni 1928, pernah menjabat sebagai Panglima TNI Periode 1978-1983.

Jenderal TNI, M. Jusuf sudah kenyang dengan pengalaman tempur. 

Berbagai pertempuran telah di laluinya, mulai dari zaman Revolusi Kemerdekaan, meredam pemberontakan bersenjata Permesta, DI/TII Kahar Muzakar, Penumpasan G30S/PKI, hingga operasi di Timor-Timor sekarang bernama Timor Leste.

Selain terkenal dengan keberaniannya di medan tempur, Jenderal TNI, M. Jusuf juga di kenal sebagai pemimpin yang sangat peduli dengan kesejahteraan prajuritnya. 

Karena begitu besar perhatiannya kepada prajuritnya, Jenderal TNI, M. Jusuf tidak segan-segan untuk melihat secara langsung kondisi rumah tangga dan pasokan makanan para prajurit dan keluarganya. 

Sehingga tidak heran, sosok Jenderal TNI, M. Jusuf begitu di hormati dan di sayangi oleh prajuritnya.

”Jenderal M. Jusuf sangat di hormati dan di sayangi oleh prajuritnya, bahkan, sampai di cium tangannya oleh prajuritnya,"|Letjend TNI (Pur) Prabowo Subianto

"Belum ada Panglima TNI seperti beliau,”|Letjend TNI (Pur) Prabowo Subianto, dalam buku biografinya berjudul: Kepemimpinan Militer (catatan dari Pengalaman Letnan Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto) 

Perhatian Jenderal TNI, M. Yusuf kepada para prajuritnya, sangat di rasakan, ketika Jenderal TNI, M. Jusuf mengunjungi, barak-barak, kompi-kompi dan batalyon-batalyon di seluruh Indonesia.

Hampir sebagian besar waktu kerja Jenderal TNI, M. Yusuf, di habiskan untuk mendengarkan keluhan prajuritnya dan memberikan solusi terhadap masalah yang di hadapi prajuritnya, saat di lapangan.

Suatu hari, Jenderal TNI, M. Jusuf yang baru menjabat sebagai Panglima TNI, melakukan inpeksi ke Markas Komando Pasukan Khusus (Kopassus) di Cijantung. 

Saat itu, Jenderal TNI, M. Jusuf mengontrol barak yang di tempati Prabowo Subianto, dan bertanya mengenai permasalahan yang ada:

”Prabowo, apa kesulitan kompi kamu sekarang,?|Jenderal TNI, M. Jusuf

Prabowo yang mengetahui jika di Cijantung sedang kesulitan air langsung menjawab pertanyaan Jenderal TNI, M. Yusuf; ”izin Panglima, tidak ada air di kompi saya,” 

Begitu mendapat jawaban dari Prabowo Subianto, Jenderal TNI, M. Jusuf langsung memerintahkan Asisten Logistik (Aslog) TNI Laksda TNI Rudolf Kasenda, untuk segera membuatkan pompa air untuk kompi Prabowo. 

”Dan ternyata benar, pompa dan menara air sudah tersedia sebulan kemudian,”|Letjend TNI (Purn) Prabowo Subianto

Setelah pertemuannya di Mako Kopassus, keduanya baru kembali bertemu saat operasi Timor-Timor. 

Ketika itu, Prabowo yang masih berpangkat Letnan Satu (Lettu), yang bertugas melakukan pengejaran terhadap Presiden Fretilin Nicolau dos Reis Lobato. 

Prabowo yang menjabat sebagai komandan kompi kemudian melakukan operasi pada Oktober 1978, mulai dari sektor timur di bawah pimpinan RDP 18 Kolonel Raja Kami Sembiring Meliala.

Setelah beberapa minggu, kompi yang di pimpin Prabowo di pindahkan ke sektor tengah, di bawah pimpinan Komandan RTP 6 Letkol Inf. Sahala Rajagukguk. 

Dalam operasi pengejaran, selama dua minggu di daerah Laclubar, Fatuberliu dan Fahinehan dan membaca jejak, pasukan Prabowo akhirnya terlibat kontak tembak dengan pasukan Lobato. 

Pasukan Lobato saat itu berkekuatan hampir 200 orang yang di lengkapi 40 senjata.

Dan Pasukan yang mengepung terdiri dari Batalyon 744, 700, dan 401.

       Foto: Letjend TNI (Pur) Prabowo Subianto

"Kompi saya sendiri sebagai pemukul dari lingkaran, dan Alhamdulillah, pada 31 Desember siang hari, Lobato dan pasukannya berhasil di sergap,"

"Namun Lobato memilih untuk bunuh diri karena tidak mau di tangkap hidup-hidup,”

"Mendengar keberhasilan penyergapan Fretilin dan menewaskan Lobato, Jenderal TNI, M. Jusuf langsung berangkat ke daerah Laclubar, Fatuberliu dan Fahinehan, menjemput saya dengan helikopter,"

”Sebagai hadiah, satu peleton pasukan saya yang menyergap mendapat kenaikan pangkat luar biasa dan langsung pulang ke Jakarta hanya tiga bulan operasi,"

"Kami pun naik Pesawat Hercules, tidak naik kapal laut seperti biasanya,”

Tidak hanya kepeduliannya terhadap anak buahnya yang membuat Prabowo terkesan. 

Jenderal TNI, M. Jusuf juga merupakan pribadi yang sederhana dan bersahaja.

”Penampilan beliau yang sederhana, rendah hati, sangat mengesankan saya,"

"Saya pernah berkunjung ke rumahnya, saat saya berpangkat Kapten TNI pada 1982,"

"Lalu pada tahun 1995 ketika menjadi Brigadir Jenderal TNI, saya juga mengunjungi Jenderal TNI, M. Yusuf karena beliau saya anggap panutan dan mentor,”

"Ketika tiba di kediaman M. Jusuf, di Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat, sekitar pukul 19:00 pm, saat hendak memencet bel, saya terkejut melihat rumah orang nomor satu di TNI tersebut, dalam keadaan gelap dan tanpa penjagaan,?"

"Setelah memencet bel, seorang pembantu keluar, kemudian, si pembantu membawa saya ke ruang tamu, yang juga gelap,!"

”Mengapa lampu tidak nyala,?”

“Lampu yang menyala saat malam, hanya ruang tidur dan ruang pembantu, Pak,” jawab pembantu tersebut,"

"Setelah lampu menyala, betapa kagetnya saya, karena tidak ada yang berubah dengan perabot di rumah Jenderal TNI, M Jusuf,"

"Bahkan beberapa di antaranya sudah terlihat kusam,"

”Saya kaget semua furniture, kursi dan mebel yang ada di rumah tersebut sama persis dengan yang saya lihat waktu dulu ke rumah beliau, pada tahun 1982,"

"Warna tembok rumah sudah terlihat sangat belel (Kusam) bahkan kursi-kursinya dan benang-benangnya sudah mulai lepas,”

"Jenderal TNI, M. Jusuf bukan orang sembarangan,"

"Beliau pernah menduduki sejumlah jabatan penting di Pemerintahan Orde Baru, masa Kepemimpinan Presiden Soeharto, seperti; Menteri Perdagangan, Menhankam/Pangab (5th), Menteri Perindustrian (10 th), serta Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (5th),"

"Namun kehidupannya jauh dari kata glamour,"

”Beliau tidak mau membeli mobil baru, tidak memiliki penjagaan dan tidak mempunyai ajudan,”

"Saya melihat kondisi Jenderal TNI, M. Jusuf seperti itu,"

"Kemudian saya menawarkan pengawal dan ajudan dari Kopassus,"

"Jenderal TNI, M. Jusuf menanggapi tawaran saya, dengan mengatakan, saya akan menghubungi kamu, jika membutuhkan pengawalan dan ajudan,"

"Seiring berjalannya waktu, Jenderal TNI, M. Jusuf tidak pernah menghubungi saya,"

”Saya sangat terkesan dengan Jenderal TNI, M. Jusuf,"

"Hidupnya sangat sederhana,"

"Beliau adalah Prajurit, Jenderal dan seorang Panglima TNI, yang tidak ingin menyusahkan bekas anak buahnya yang sedang aktif dengan meminta berbagai fasilitas,"

"Beliau pribadi yang mandiri, berdiri di atas kaki sendiri,”

Cerita dan Kesaksian Hidup, Letjend TNI (Pur) Prabowo Subianto, bersama Jenderal TNI (Pur) M. Jusuf

Untuk di ketahui - Jenderal TNI (Pur) M. Jusuf meninggal pada, 08 September 2004, pada usia 76th. 

(W.J.B)

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

Copyright © 2022 The Kupang Times Newsroom.com ™ Design By The Kupang Times Newsroom.com ®