Edisi: 1.569
Halaman 2
Integritas |Independen |Kredibel
KUPANG TIMES – Udara di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), terlihat berkabut hampir 2 (dua) minggu terakhir.
Fenomena alam tersebut berkaitan dengan sebaran asap Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di wilayah Provinsi Papua.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I El Tari Kupang, Sti Nenotek mengatakan, berdasarkan data yang dimiliki, kualitas udara di kota kupang saat ini terpantau sedang.
Asap yang berasal dari papua masih menjadi faktor utama dari penurunan kualitas udara di wilayah Kota Kupang."|Sti, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I El Tari Kupang, Senin (19/10/2026).
Sti menjelaskan, selain faktor asap, turunnya kualitas udara juga didukung dengan beberapa titik panas di sekitar wilayah di Prov NTT.
citra satelit Himawari-9 menunjukkan adanya sebaran partikulat asap yang mencapai wilayah Kota Kupang.
"berdasarkan peta sebaran titik panas (hotspot) BMKG pada 7 Oktober 2026, terdeteksi sejumlah titik panas di wilayah NTT dan sekitarnya."|Sti, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I El Tari Kupang, Jum'at (09/10/26).
Sti mengingatkan, keberadaan titik panas yang terdeteksi satelit tidak serta-merta membuktikan telah terjadi kebakaran di lokasi tersebut.
Titik panas merupakan indikasi lokasi dengan suhu permukaan relatif tinggi yang terdeteksi oleh satelit.
Karena itu, diperlukan informasi tambahan untuk memastikan apakah titik tersebut berkaitan dengan kejadian kebakaran.
Asap Tertahan di Lapisan Bawah Atmosfer,
Sti menjelaskan, arah angin dominan dari timur-tenggara menuju barat laut-utara turut menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam menganalisis pergerakan asap menuju Kota Kupang.
Selain pergerakan angin, kondisi atmosfer juga berpengaruh terhadap lamanya asap bertahan di suatu wilayah.
Berdasarkan data pengamatan udara atas atau sounding Stasiun Meteorologi El Tari, Kamis (08/10/26), ditemukan dua lapisan stabil atmosfer yang disebut inversi subsidensi.
Kedua lapisan tersebut berada pada ketinggian sekitar 2,8 kilometer dan 3,9 kilometer.
Lapisan atmosfer yang stabil dapat menghambat pergerakan udara secara vertikal.
Kondisi tersebut membuat asap dan partikel di udara cenderung bertahan lebih lama di lapisan bawah atmosfer.
Sti menegaskan, inversi subsidensi bukan penyebab terbentuknya asap, melainkan kondisi atmosfer yang dapat memperlambat penyebaran asap ke lapisan udara yang lebih tinggi.
Akibatnya, udara kabur yang terlihat di Kota Kupang kemungkinan dipengaruhi oleh sebaran asap karhutla dari beberapa wilayah, yang kemudian bertahan lebih lama akibat kondisi atmosfer yang stabil.
Himbauan BMKG,
Sti mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama kelompok rentan, seperti: anak-anak, lanjut usia, serta orang yang memiliki gangguan pernapasan.
"Lindungi Kelompok Rentan dengan memberikan perhatian Ekstra kepada anak-anak Lansia (lanjut usia), wanita hamil serta warga yg memiliki riwayat Asma atau ISPA."|Sti, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I El Tari Kupang
selain itu, BMKG meminta masyarakat perbanyak konsumsi air mineral untuk menjaga tenggorokan tetap lembap dan membantu tubuh membuang Toksin. • dan meminta masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi udara memburuk.
masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan juga disarankan menggunakan masker untuk mengurangi paparan partikel di udara.
Selain itu, masyarakat diminta tidak membakar sampah maupun membuka lahan dengan cara membakar sampah dan lahan gambut, karena dapat menambah pencemaran udara.
"Stop pembakaran sampah dan lahan karena dapat memperburuk kualitas udara."|Sti, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I El Tari Kupang
Sti mengatakan, bagi warga yang mengalami sesak nafas atau batuk berkepanjangan setelah terpapar udara berasap disarankan segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan.
Masyarakat juga diimbau mengikuti perkembangan informasi cuaca dan kualitas udara dari sumber resmi agar dapat menyesuaikan aktivitas dengan kondisi lingkungan.
BERSUARA KERAS untuk Demokrasi dan Keadilan dan Kejujuran.
• Informasi Artikel:
| Konteks: Alam, Kesehatan, Sosial,
| Penulis: W.J.B
| Sumber: Meteorologi Kelas I El Tari Kupang, BMKG,
| Penerbit: Kupang TIMES
