Edisi: 1.541
Halaman 3
Integritas |Independen |Kredibel
HOLLYWOOD, KUPANG TIMES – Sutradara Zach Cregger mampu menggarap Resident Evil (2026) menjadi film survival horor yang menghibur di tengah pertaruhan berisiko mengadaptasi video game legendaris ke layar lebar.
Film tersebut menjadi tontonan yang menyenangkan, terutama bagi penonton yang baru mau menonton semesta zombie ini dengan langsung menyeret mereka ke komedi horor yang bergerak cepat dan brutal tanpa perlu meraba semesta gimnya terlebih dahulu.
Cregger mengambil keputusan yang cukup berani dengan menggeser lampu sorot ke karakter non-playable (NPC) yang di dalam gim hanya numpang lewat untuk meninggalkan catatan kertas atau rekaman suara.
Keputusan tersebut terbukti efektif, karena berhasil membuktikan bahwa; mereka memiliki trauma dan narasi bertahan hidup yang layak digali.
Nyawa penceritaan film ini sepenuhnya berada di Austin Abrams, pemeran Bryan, seorang kurir pengantar paket yang apes.
Totalitas Abrams benar-benar patut mendapat tepuk tangan, apalagi jika mengingat dirinya adalah aktor yang sama di balik karakter pecandu di film Weapons atau pemuda genius yang kikuk di Dash & Lily.
Bryan bukan jagoan super yang mahir menggunakan senjata.
Bryan adalah pemuda biasa yang kelewat bertanggung jawab atas pekerjaannya.
Ketidakmampuannya bertarung di tengah penghentian zombi diracik menjadi pesona emosional yang membuat penonton cepat simpati sekaligus geregetan.
tingkah Bryan di sepanjang film adalah cermin nyata gamer pemula.
Bryan mudah panik saat harus mengisi peluru, membuang-buang amunisi untuk hal sepele, dan terus menerus mengumpat karena ketakutan.
Rentetan natural ini dimanfaatkan Cregger sebagai amunisi untuk menghadirkan komedi gelap di sepanjang film.
layaknya pemain yang naik level, Bryan perlahan berevolusi.! Postur penembakannya mulai berubah dan instingnya menghilang, situasi mencurigakan mulai terasah.
Film ini tahu betul cara menggedor jantung melalui penempatan jump scare yang tepat sehingga tidak terlihat seperti trik murahan.
sedikitnya dua adegan mampu membuat penonton terlonjak kaget, hingga tertawa canggung karena menyadari absurd-nya situasi tersebut.
Kekuatan Resident Evil terletak pada hadirnya adegan shooter dari sudut pandang orang pertama.
Penggunaan rig kamera pada senjata atau di atas kepala Abrams menghasilkan visual mutlak yang menegaskan bagaimana seharusnya adaptasi gim diwujudkan ke layar lebar.
Cregger dan tim kreatif juga tampak tidak menahan diri sama sekali dalam urusan gore.
Kepala meledak, badan berjatuhan, tumpukan mayat yang menyatu jadi gumpalan daging yang dieksekusi sebagian besar lewat efek nyata.
Visual eksplisit film ini sama sekali tidak memandang bulu karena lansia, anak-anak, hingga bayi sama-sama menjadi sasaran.
hanya saja, deretan pengobatan zombi yang bervariasi mungkin membuat penonton awam sedikit kepayahan.
Setiap zombie menuntut trik dan pendekatan berbeda untuk dibunuh sehingga bisa terasa sedikit membingungkan bagi penonton yang tidak memegang stik konsol.
di balik proses bersenang-senang penuh darah itu, Cregger tetap menyelipkan lapisan psikologis yang cukup pekat.
Penguntit monster dalam film ini seolah menjadi manifestasi ketakutan fisik Bryan atas institusi keluarga.
Simbolisme ini terlihat gamblang saat ia dipaksa menghabisi zombie anjing, sepasang suami istri, anak kecil, hingga bayi, rangkaian target yang bertahan pembentukan stiker keluarga di kaca mobil yang meremukkan mentalnya.
Film ini menyodorkan interpretasi tragis soal T-Virus bahwa; setiap zombie dulunya manusia dan mereka masih memegang sisa kesadaran saat tubuhnya bermutasi liar menembus batas kendali.
Gagasan tersebut memuncak di babak ketiga yang membagi opini penonton mengenai 10 hingga 15 menit terakhir film tersebut.
meski terlihat sedikit berantakan dan konyol, film ini berakhir dengan emosi yang berputar-putar.
Rasa kesal penonton melihat petaka masif ini bermula hanya dari keteledoran ilmuwan bodoh yang terpeleset, seperti sengaja Cregger bersama Shay Hatten sebagai penulis naskah untuk menegaskan absurditas dari berhenti.
pada akhirnya, sepanjang durasi 90 menit yang padat dan pas ini, penonton diajak melihat seorang kurir dengan latar belakang cerita yang minim berlari membelah kota demi menjaga paket prioritasnya tetap utuh dengan penceritaan yang menyenangkan.
Resident Evil versi 2026 bagi beberapa orang mungkin dinilai bukan adaptasi yang paling saklek menjaga pakem waralabanya, tapi Zach Cregger jelas sukses menyuguhkan cerita survival brutal dan menghibur pada saat bersamaan.
Sinopsis,
Resident Evil (2026) mengisahkan petaka sepanjang satu malam mencekam yang dialami Bryan (Austin Abrams), seorang kurir medis.
tugas rutin Bryan tiba-tiba berubah menjadi mimpi buruk saat dirinya harus mengirimkan paket medis penting ke rumah sakit di Raccoon City, tepat ketika virus mematikan menyebar ganas dan mengubah warga kota menjadi monster beringas.
Berbeda dari jajaran pahlawan dalam versi gim maupun film-film terdahulu, Bryan sama sekali tidak dibekali keahlian militer, kemampuan menembak, ataupun pelatihan pertarungan.
Bryan memaksakan menggunakan akal sehat serta kinerja bertahan hidup seadanya untuk meloloskan diri dari kepungan monster di kota yang telah hancur total.
langkah menepikan karakter ikonis, seperti: Leon S. Kennedy maupun Jill Valentine menjadi daya tarik utama dalam rilisan teranyar ini, demi menyajikan ketegangan nyata dari kacamata manusia awam.
Selain Austin Abrams yang memegang peran sentral, film ini didukung dengan penampilan pemain, seperti: Zach Cherry, Kali Reis, Johnno Wilson, dan Paul Walter Hauser.
cukup tahu • Resident Evil merupakan film horor terbaru yang menjadi judul reboot kedua sekaligus film kedelapan yang mengadaptasi video game Resident Evil.
Film ini berlatar peristiwa game Resident Evil 2 (1998).!
Resident Evil disutradarai sutradara Zach Cregger yang sebelumnya begitu dikenal melalui Weapons atas naskah yang ia tulis bersama Shay Hatten.
Proyek ini merupakan hasil reboot yang digarap Constantin Film sejak awal 2022 menyusul kegagalan kritis dan komersial dari Resident Evil: Welcome to Raccoon City (2021) dan pembatalan serial televisi Netflix pada tahun 2022.
Cregger resmi bergabung pada Januari 2025, dan PlayStation Productions dari Sony Pictures bergabung dalam produksi.
Empat studio, termasuk Warner Bros. • Pictures dan Netflix, mengajukan tawaran untuk hak film tersebut, dengan Columbia Pictures yang menang pada bulan Maret.
syuting dimulai pada Oktober 2025 di Praha.
BERSUARA KERAS untuk Demokrasi dan Keadilan dan Kejujuran.
• Informasi Artikel:
| Konteks: Hiburan,
| Penulis: W.J.B (tim)
| Sumber: PlayStation Productions,
| Penerbit: Kupang TIMES


