Manuver Soeharto setelah G30S Bisa Gagal, Jika 'Benteng Terakhir' Bung Karno ini Tidak Keburu Dipecat.?

Edisi: 1.548
Halaman 1
Integritas |Independen |Kredibel

      Potret: AN|Properti

KUPANG TIMES – Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Udara Suryadarma “terpaksa” mengundurkan diri dari jabatannya sebagai ekses dari pertempuran Laut Aru dalam misi infiltrasi Trikora ke Irian Barat yang berakibat pada gugurnya Komodor Laut Yos Sudarso, Jum'at, 19 Januari 1962 . 

tragedi yang menyebabkan Kapal TNI-AL KRI Macan Tutul tenggelam akibat diterpedo oleh Kapal Perang Belanda itu, TNI-AU disalahkan karena gagal memberikan perlindungan udara.

maka sebagai wujud pertanggungjawaban dari tragedi pertempuran Laut Aru, Suryadarma memilih mengundurkan diri dan jabatannya digantikan oleh Laksamana Madya Udara Omar Dani yang kelak masuk tahanan politik, karena dianggap telah terlibat dalam aksi G30S/PKI.

Ketika masih menjabat sebagai KASAU, Suryadarma diam-diam ternyata memberikan perhatian yang besar terhadap keselamatan Presiden RI Ir. Soekarno termasuk sudah merancang skenario menyelamatkan Bung Karno ketika sedang menghadapi keadaan darurat, khususnya aksi kudeta.

Persiapan yang telah disiagakan Suryadarma, antara lain: secara tersamar, Suryadarma selaku KSAU selalu menyiagakan satu peleton Pasukan Gerak Tjepat (PGT) TNI AU lengkap dengan persenjataan anti tank di gedung bekas Markas Besar AU yang berlokasi di Merdeka Barat, Jakarta.

Penempatan pasukan PGT yang sudah kenyang pengalaman dalam berbagai medan pertempuran di Irian Barat (misi Trikora) dan Sumatera (misi penumpasan PRRI) adalah untuk melindungi Bung Karno di Istana Negara sekaligus menjaga gedung RRI dari pendudukan tentara pemberontak.

Selain itu, Suryadarma menyiapkan sebuah kendaraan taktis berupa jeep Gaz (buatan Rusia) yang sudah dimodifikasi menjadi kendaraan anti peluru untuk keperluan mengevakuasi Bung Karno apabila diperlukan.

Ketika G30S/PKI meletus pada Jum'at, 1 Oktober 1965, Bung Karno dan para pengawalnya sempat kebingungan untuk mencari tempat menyelamatkan diri dan akhirnya memutuskan untuk menuju ke pangkalan udara Halim Perdana Kusuma tidak menggunakan mobil dinas demi kepentingan penyamaran.

Pada hari itu juga Istana Negara sudah dikepung “pasukan liar” dari salah satu satuan TNI-AD dengan tujuan “mengamankan” Bung Karno.

Gedung RRI juga sudah dikuasi oleh pasukan pemberontakan yang kemudian digunakan untuk mengumumkan maksud dari aksi G30S/PKI.

seandainya Suryadarma masih menjabat KSAU, bisa diprediksi, aksi G30S dipastikan akan mendapatkan perlawanan yang sengit dari pasukan PGT yang memiliki persenjataan lebih lengkap dan moderen.


Suryadarma mengatakan, Bung Karno dari Halim Perdanakusuma seharusnya segera diterbangkan ke pangkalan udara Madiun karena di pangkalan yang merupakan sarang jet-jet tempur AURI (TNI-AU) itu keselamatannya lebih terjamin.

dari Madiun, Bung Karno yang masih mendapat dukungan penuh dari AURI, KKO, dan sejumlah satuan TNI-AD juga bisa melakukan perlawanan terhadap “manuver Mayjen Soeharto."

tapi sayang, Suryadarma yang sebenarnya merupakan benteng terakhir Bung Karno yang setia mengawalnya sejak revolusi Kemerdekaan malah “dipecat” pada tahun 1962.

dan tiga tahun kemudian apa yang dikhawatirkan oleh Suryadarma ternyata sungguh terjadi.

BERSUARA KERAS untuk Demokrasi dan Keadilan dan Kejujuran.

• Informasi Artikel:

| Konteks: Sejarah, 

| Penulis: W.J.B

| Sumber: Buku otobiografi Bapak Angkatan Udara Suryadi Suryadarma/Penerbit Buku Kompas 2017,

| Penerbit: Kupang TIMES

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

Copyright © 2022 The Kupang Times Newsroom.com ™ Design By The Kupang Times Newsroom.com ®