Benarkah Bung Karno Tahu Rencana G30S Bahkan Berniat Sembunyikan Jejak Para Jenderal yang Diculik.?

Edisi: 1.549
Halaman 1
Integritas |Independen |Kredibel


KUPANG TIMES – Jum'at, 1 Oktober 1965 siang hari, sesuai yang tertulis dalam buku berjudul: 'Maulwi Saelan Penjaga Terakhir Soekarno' • Penerbit: Buku Kompas 2014 • seorang Agen Polisi bernama Sukitman, dalam keadaan bingung berada di depan Kantor PENAS di By-Pass, Jakarta Timur, ditemukan oleh Patroli Resimen Tjakrabirawa di bawah pimpinan Kapten Eko.

Sukitman melakukan Patroli setiap pagi di perumahan Perwira di Pasar Rebo dan kembali siangnya melewati gedung PENAS yang berada di seputar Halim Perdanakusuma.

Sukitman dibawa ke Markas Tjakrabirawa di sebelah Istana (sekarang gedung Bina Graha) untuk diperiksa dan diinterogasi.

ternyata, sewaktu penculikan para Jenderal 1 Oktober 1965, Sukitman sedang bertugas, dirinya dipaksa dan dibawa ke Lubang Buaya, yang akhirnya ditemukan oleh Patroli Tjakrabirawa.

pada Sabtu, 2 Oktober 1965, Sukitman berikut hasil pemeriksaannya, sesuai prosedur diserahkan kepada Kodam V Jaya (Pangdam waktu itu adalah Mayjen Umar Wirahadikusuma).

Kemudian, Kodam V Jaya menyerahkan Sukitman kepada Kostrad.

Sementara itu, pada 2 Oktober 1965, terkait peristiwa G30S, Presiden RI Ir. Soekarno memanggil semua Panglima Angkatan Bersenjata bersama Waperdam II Leimena dan para pejabat penting lainnya dengan maksud segera menyelesaikan persoalan apa yang disebut Gerakan 30 September.

tindakan Bung Karno itu merupakan langkah standar karena dirinya adalah selaku Panglima Tertinggi ABRI.

“pada tanggal 3 Oktober 1965 pagi, saya menghadap Presiden Soekarno, menyampaikan laporan tentang perkembangan terakhir termasuk penemuan seorang agen polisi, 

Presiden sedih sekali atas nasib para jenderal yang diculik, khususnya Jenderal Ahmad Yani, Jenderal yang amat disayanginya, 

Karena nasib para jenderal dan seorang perwira pertama belum diketahui, Presiden memerintahkan saya untuk mencari tahu nasib mereka."|Maulwi, yang menjabat sebagai pengawal pribadi Bung Karno dan Wakil Komandan pasukan Tjakrabirawa.

setelah mempelajari keterangan Agen Polisi Sukitman, Maulwi bersama Letnan Kolonel Ali Ebram dan Sersan Udara PGT Poniran menumpang Jip Toyota No. 2 berangkat menuju Halim Perdanakusuma.

mereka terlebih dahulu melapor dan bertemu dengan Kolonel AU/PNB Tjokro, perwira piket Halim Perdanakusuma. 

“Saya sampaikan maksud kedatangan saya, 

Kami dibantu seorang anggota TNI AU berpangkat letnan muda penerbang, mencari lokasi yang diceritakan oleh agen polisi tesebut."|Maulwi

Jip Toyota selalu membawa satu set generator listrik berkekuatan 1 PK yang sewaktu-waktu dapat digunakan karena pada waktu itu arus listrik sering mati-hidup.

mereka menemukan sebuah rumah atau pondok kecil di Lubang Buaya yang didekatnya terdapat sebuah pohon besar.

dilakukan pencarian di sekitarnya dan ditemukan sebidang tanah yang sudah tidak digunakan, tetapi terlihat tanda mencurigakan seperti baru dipakai.

di tempat itu, tumpukan dedaunan dikorek-korek dan terlihat permukaan sebuah sumur tua.

Karena tidak memiliki peralatan untuk menggali tanah, mereka meminta bantuan warga sekitar untuk menggali sumur itu.

tak berapa lama, muncul pasukan RPKAD dipimpin Mayor C.I. Santoso dengan membawa agen polisi Sukitman sebagai petunjuk jalan, dan ikut pula ajudan Jenderal Ahmad Yani, Kapten CPM Subardi.

“Setelah mendapat penjelasan dari kami dan dicocokkan dengan keterangan agen polisi tersebut, 

penggalian dilanjutkan."|Maulwi

Penggalian sulit dilakukan, karena lubang sumur itu hanya pas untuk satu orang, Proses penggalian memakan waktu lama.

hari mulai gelap, belum ditemukan tanda-tanda yang mencurigakan. 

Generator milik Tjakrabirawa dihidupkan untuk menerangi proses penggalian.

lewat tengah malam mulai tercium bau tidak sedap. 

setelah penggalian cukup dalam dan terus digali, akhirnya ditemukan sebuah tangan.

Penggalian dihentikan sementara, karena orang-orang tidak tahan dengan bau yang keluar dari sumur.

setelah berunding dengan C.I. Santoso, disepakati untuk melaporkan hal itu kepada Pangkostrad Mayjen Jenderal Soeharto guna instruksi selanjutnya.

dan, untuk penggalian selanjutnya, diperlukan tenaga dan peralatan khusus misalnya masker dan tabung oksigen seperti yang dimiliki Pasukan Katak KKO.

"saat itu sudah pukul 03:00am (dini hari), Rombongan saya pulang untuk Salat Subuh dan istirahat, karena mulai merasa flu,

Selanjutnya, saya perintahkan Letnan Kolonel Marokeh Santoso, Kepala Staf Resimen Tjakrabirawa, untuk menggantikan dan mewakili saya, 

Jadi, tidak benar sama sekali, berita yang mengatakan bahwa; Presiden Soekarno mengetahui peristiwa penculikan G30S itu,

dan, tidak pernah ada perintah Presiden kepada kami untuk menghilangkan jejak para Jenderal yang diculik."|Maulwi

BERSUARA KERAS untuk Demokrasi dan Keadilan dan Kejujuran.

• Informasi Artikel:

| Konteks: Sejarah, 

| Penulis: W.J.B

| Sumber: Buku Kompas 2014, IS, 

| Penerbit: Kupang TIMES

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

Copyright © 2022 The Kupang Times Newsroom.com ™ Design By The Kupang Times Newsroom.com ®