REVIEW Film: 'The Odyssey.'

Edisi: 1.476
Halaman 2
Integritas |Independen |Kredibel

      Potret: Universal Studio|Properti

KUPANG TIMES - Christopher Nolan pernah mengatakan, dirinya menggunakan pendekatan berbeda saat mengadaptasi kisah epos klasik Odyssey untuk film terbarunya, 'The Odyssey.'

Nolan ingin cerita ribuan tahun itu bisa terasa segar, dan lebih dekat dengan masyarakat modern. 

hasilnya, Nolan sukses menggapai tujuan tersebut dalam film berdurasi tiga jam kurang dua menit itu. 

Mengadaptasi karya sastra Yunani Kuno • dengan bahasa dan nalar yang jauh berbeda dari bahasa komunikasi manusia modern • tentu bukan hal mudah. 

belum lagi soal makhluk mitologi, monster, dan segala drama manusia zaman itu.

Namun, Christopher Nolan berhasil melewati tantangan tersebut • sama seperti Odysseus yang kembali ke pelukan Penelope setelah 20 tahun berjuang pulang • tanpa kehilangan kemegahan dan kolosal kisah perjuangan prajurit Yunani Kuno.

selain itu, Nolan membawakan kisah asli Homer yang brutal dengan lebih manusiawi untuk tingkat manusia modern. 

memang ada banyak bagian yang dibuang, tetapi itu tidak mengurangi inti perjuangan Odysseus kembali bersama isteri yang ia cintai.

Keputusan Nolan yang menulis naskahnya lebih linier dibandingkan karya-karya sebelumnya juga adalah keputusan 'manusiawi.'

hal itu membuat kisah ribuan tahun Homer itu menjadi lebih mudah untuk dipahami, selain karena menggunakan bahasa percakapan yang lebih sederhana.

hanya saja, meski naskah tulisan Nolan jauh lebih manusiawi dan mudah dipahami dibandingkan kisah aslinya, film ini masih belum mengisi penuh relung emosi seperti dirinya memuaskan penayangan dan nalar penonton.

ada sejumlah bagian cerita yang belum berkesan secara emosi, garis filosofis yang terasa dibuat-buat, hingga sekuens yang gagal menghasilkan momen emosional untuk diingat meski sudah dimulai dengan fondasi yang menjanjikan.

Nolan sebenarnya memberikan ruang yang cukup bagi setiap tokoh untuk berkembang sehingga mereka bukan hanya pelengkap penderita perjalanan pulang Odysseus. 

hampir seluruh karakter memiliki motivasi, konflik, dan emosi yang jelas, membuat setiap keputusan yang mereka ambil terasa penting bagi kelangsungan cerita.

Anne Hathaway yang memerankan Penelope adalah contoh paling sukses dalam memanfaatkan ruang itu. 

Aktris peraih Oscar itu mampu menunjukkan kekecewaan, kerinduan, keyakinan, dan keteguhan istri yang ditinggal suami puluhan tahun dengan sempurna.

tanpa banyak dialog yang berlebihan, Hathaway mampu menyampaikan emosi Penelope melalui ekspresi yang halus namun membekas.

Anne Hathaway dan Matt Damon juga berhasil membangun chemistry sebagai pasangan suami-istri yang hangat dan saling mencintai hingga benar-benar terlihat dunia milik pasangan, namun kemudian malah berpisah untuk waktu yang lama.

hanya saja, kerinduan dan kekecewaan segunung seorang istri justru mendapatkan Nolan dengan percakapan yang jauh dari kata romantis dan menyentuh. • bahkan lini Odysseus saat menyamar kepada anaknya, Telemachus, terasa lebih berbobot emosinya dibandingkan dengan Penelope.

Padahal Matt Damon yang sudah tampil solid sebagai prajurit Yunani Kuno bendera hijau sejak awal. • bahkan dirinya juga tidak ditempatkan pada posisi yang megah di pertarungan pamungkas. 

Nolan merasakan kebablasan memanusiakan karakter pejuang yang masih keturunan dewa itu.

padahal, adegan puncak melawan puluhan orang itu adalah kesempatan yang tepat untuk menunjukkan keperkasaan Odysseus, sekaligus menjadi tantangan terakhir atas ambisinya untuk pulang kembali ke keluarga. 

dalam hal ini, Nolan seolah lupa bahwa; selemah-lemahnya manusia, ia bisa menjadi 'dewa' ataupun 'iblis' bila harus berjuang untuk hal yang sangat ia cintai.

selain Anne Hathaway, Tom Holland juga sukses tampil membawakan Telemachus. 

bisa dibilang, Holland paling cocok dengan karakter anak seorang penguasa yang terpaksa tumbuh menjadi anak yatim dan harus membuktikan dirinya 'cukup berharga' untuk menggantikan sosok ayahnya.

Holland bisa membawakan kesan hangat dan polos yang membuat posisi Telemakus terasa lebih alami seperti nepo baby. • termasuk interaksinya dengan Hathaway yang seolah-olah mereka berdua adalah ibu dan anak asli.

Aktor Robert Pattinson juga sukses memanfaatkan ruang pengembangan karakter dari Nolan. 

sebagai Antinous, Pattinson mulus menjadi sosok antagonis sekaligus berkarisma dan intimidatif tanpa harus berakting berlebihan.

sedikit catatan mungkin untuk Zendaya sebagai Athena. 

Nolan terlihat ingin memberikan jembatan logistik terkait luka batin masa lalu Odysseus lewat karakter 'pembisik' prajurit tersebut. 

Sayangnya, hal itu justru menimbulkan pertanyaan baru akan identitas sejati dari Athena, terlepas dari kepercayaan Nolan akan keberadaan dewa-dewi seperti pada naskah asli Homer.

Christopher Nolan yang selama ini dikenal dengan imajinasi 'logis' juga membuktikan memiliki fantasi liar dalam menggambarkan Circe, berbagai monster, hingga momen mendebarkan yang tersebar di sepanjang film.

tidak perlu diragukan lagi keahlian teknis yang diboyong Nolan dalam The Odyssey. 

Nolan tetap mempertahankan kemahirannya dalam menyajikan pengalaman sinematik dalam layar lebar, yang sekaligus menjaga reputasinya sebagai sutradara dengan jaminan film ciamik.

meski terasa tidak adil karena film ini menggunakan kamera IMAX 70 mm yang mana gambarnya baru muncul secara utuh hanya di 40 lokasi di dunia • dan tentu saja bukan di Indonesia, The Odyssey masih bisa dirasakan kemegahannya.

tim desain produksi, tim efek, tim kostum, tim tata rias, Ludwig Göransson yang bertindak sebagai konduktor musik, termasuk Hoyte van Hoytema yang memegang di belakang kamera, semuanya sukses mewujudkan visi naskah Christopher Nolan. • bahkan kemegahan dan kolosalnya The Odyssey mengingatkan akan Cleopatra (1963) yang produksinya hampir membuat studio Hollywood bangkrut.

Kesetiaan Nolan dalam efek praktis yang diwujudkan dalam film ini adalah nilai tambah. 

banyak adegan terasa memiliki bobot fisik yang nyata karena mengandalkan lokasi asli, pencahayaan alami, serta penggunaan efek praktis alih-alih bergantung pada CGI. 

hasilnya, dunia The Odyssey terasa lebih hidup dan membumi, meski dipenuhi unsur mitologi.

dengan berbagai sajian tersebut, The Odyssey dari Christopher Nolan menjadi bukti baru bahwa; kisah dari peradaban di masa lalu masih bisa disajikan dengan cara modern dan dapat dikonsumsi oleh masyarakat kiwari, meski ceritanya sederhana soal orang yang cuma kepingin pulang.

hanya saja yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah apakah hanya Christopher Nolan yang mampu membawakan kemegahan sekaligus tragedi epos masa lalu, ataukah akan ada Nolan-Nolan berikutnya yang bisa menyajikan hal yang menyamai atau bahkan lebih baik?
 
BERSUARA KERAS untuk Demokrasi dan Keadilan dan Kejujuran.

Informasi Artikel:

| Konteks: Hiburan, Artistik, 

| Penulis: W.J.B

| Sumber: Universal Studio, 

| Penerbit: Kupang TIMES

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

Copyright © 2022 The Kupang Times Newsroom.com ™ Design By The Kupang Times Newsroom.com ®