Edisi: 1.455
Halaman 2
Integritas |Independen |Kredibel
KUPANG TIMES - Film Supergirl (2026) sesungguhnya punya potensi besar menjadi dobrakan dalam menampilkan superhero yang rapuh dan punya celah emosional.
Sayangnya, potensi besar tersebut tersesat dalam eksekusi yang membingungkan.
Film tersebut bukan tontonan yang sepenuhnya mengecewakan.
namun, film produksi DCU tersebut, gagal meninggalkan kesan mendalam atau menyajikan ketegangan yang berarti.
film yang fokus pada sepupu Superman itu, justru terasa membosankan di tengah labirin plot yang gamang dan sajian visual yang teramat pekat.
satu-satunya magnet yang menahan film ini tidak jatuh bebas (film gagal) adalah performa luar biasa actress Milly Alcock sebagai Kara Zor-El.
Alcock dengan cerdas menunjukkan gaya edgy yang berpadu dengan estetika film berkonsep punk rock dan kumuh.
Kara versi Alcock tampil tidak sempurna, Kara merupakan seorang pahlawan yang urakan, sering bangun kesiangan dalam kondisi mabuk, serta menyembunyikan trauma masa lalunya di balik kacamata hitam besar yang eksentrik.
Keputusan casting Alcock sebagai Kara terasa makin solid karena dukungan desain kostum yang detail serta tata produksi yang apik, terutama dalam memadukan efek praktis dan visual untuk riasan para monsternya.
Namun, di sana lah akhir dari segala pujian untuk Supergirl.
masalah mendasar film Supergirl bersumber pada naskah perdana film panjang tulisan Ana Nogueira yang terasa sangat lemah.
alih-alih mengeksplorasi proses Kara keluar dari jerat depresi dan rasa dukanya melalui petualangannya, skripnya justru memperlakukan narasi hanya sebagai wadah kosong untuk menumpuk efek visual.
Transformasi emosional Kara, mulai dari menghentikan lingkaran setan merusak diri sendiri hingga menemukan kembali tujuan hidupnya, terasa seperti asal tempel, bukan hasil perkembangan plot yang organik.
Tim kreatif seperti lebih memilih fokus untuk membuat film ini sangat punk rock, tapi ironisnya berakhir seperti versi hambar perkawinan Guardians of the Galaxy dan Mad Max.
tak hanya itu, perjalanan karakter Ruthye (Eve Ridley) justru konsisten menjadi penggerak utama narasi film perdana Supergirl DCU ini.
Akibatnya, Kara terlihat asing dan berkeliaran tanpa arah dalam filmnya sendiri.
Perjalanan antargalaksi Kara dalam film ini sesungguhnya hanya dua, antara lain: menaklukkan Krem dan menyelamatkan Krypto.
Namun, dua hal itu gagal didalami secara emosional dalam 108 menit durasi film ini.
Isu sederhana digulirkan dalam plot yang tidak cukup menarik, hingga membuat rentetan adegan aksi di dalamnya terasa datar dan hambar.
Kelemahan tersebut ditambah dengan dialog kaku yang ditulis berlebihan, lengkap dengan pengulangan kalimat yang menjengkelkan tanpa urgensi yang jelas.
Nuansa menyenangkan dan percikan magis yang sebelumnya berhasil dibangun oleh James Gunn lewat Superman (2025) sama sekali tidak membekas di sini.
Kelesuan ini turut merembet ke jajaran pemeran pendukung.
Jason Momoa sesungguhnya sangat natural sebagai Lobo.
Kehadiran Lobo (Jason Momoa) dalam film Supergirl terasa terlalu aman dan mudah ditebak.
Matthias Schoenaerts yang mencoba memberikan kedalaman pada sosok antagonis utama, Krem, terlihat gagal membangun koneksi yang kuat dengan penonton.
Padahal, kelompok penjahatnya, The Brigands, digambarkan sebagai klan kejam yang melakukan penculikan dan perdagangan anak perempuan (the brides).
Konsep tersebut sebenarnya berpotensi memperkuat konflik.
Sayangnya, konflik tersebut hanya jadi pemanis.
Adegan Supergirl dengan the brides yang berpotensi menampilkan solidaritas perempuan juga hanya diolah di permukaan dan berlalu begitu saja tanpa bekas.
Kegagalan tersebut disempurnakan penampilan kaku dari Eve Ridley yang membuat perjalanan dan perkembangan emosional karakternya terasa hambar.
Secara keseluruhan, formula yang ditawarkan Supergirl tidak ada yang baru, termasuk efek visualnya, dibandingkan film-film sejenisnya dan terasa sangat melelahkan.
Adegan-adegan action dalam film ini terasa hambar hingga tidak meninggalkan bekas sama sekali ketika keluar studio.
Pada akhirnya, Supergirl gagal terbang tinggi bukan karena kekurangan modal atau buruknya efek visual, melainkan akibat naskah yang rapuh dan arah kreatif yang gamang.
Karakter sepotensial Kara Zor-El jelas pantas mendapatkan panggung yang jauh lebih megah dan narasi yang lebih bertenaga, ketimbang sekadar menjadi pengikut dalam petualangan suram yang menjemukan ini.
cukup tahu • Film Supergirl sudah tayang di Bioskop seluruh Indonesia termasuk Bioskop XXI TransMart Kupang-NTT.
Buruan Beli Tiketnya.. Sebelum Kehabisan.!
BERSUARA KERAS untuk Demokrasi dan Keadilan dan Kejujuran.
• Informasi Artikel:
| Konteks: Hiburan, Artistik,
| Penulis: W.J.B
| Sumber: DCU,
| Penerbit: Kupang TIMES

