REMAJA Perempuan Lebih Mudah DEPRESI Akibat Media Sosial.!

Edisi: 1.455
Halaman 1
Integritas |Independen |Kredibel

      Potret: KT|Properti • ilustrasi

KUPANG TIMES - 'Para Peneliti observasi kebiasaan ribuan remaja untuk melihat dampak durasi penggunaan media sosial terhadap kondisi psikologis mereka.'

Penelitian terbaru dari Murdoch Children's Research Institute (MCRI) and Deakin University, Australia, mendapati remaja perempuan sebagai individu paling rentan mengalami gangguan kesehatan mental akibat penggunaan media sosial. 

Kesimpulan tersebut diperoleh, usai meneliti hampir 1.200 anak muda di Melbourne dalam kurun waktu 10 tahun.

para peneliti melakukan observasi kebiasaan ribuan remaja tersebut untuk melihat dampak durasi penggunaan media sosial terhadap kondisi psikologis mereka. 

hasilnya, saat memasuki usia 17 dan 18 tahun, laki-laki dan perempuan menghabiskan waktu lebih dari dua jam sehari di depan layar smartphone mereka.

meski sama-sama menggunakan media sosial, risiko yang ditimbulkan akibat aktivitas mereka di dunia maya terlihat sangat kontras. 

Penelitian tersebut, memetakan risiko depresi bagi perempuan akibat penggunaan media sosial lebih tinggi dua kali lipat dibanding laki-laki.

awal masa remaja menonjol sebagai fase kritis ketika tingkat penggunaan media sosial yang lebih tinggi terkait erat dengan risiko masalah kesehatan mental yang lebih besar."|Nandi Vijayakumar, salah satu Peneliti, dikutip dari Earth, Senin (22/06/26) 

Kondisi tersebut bukan terjadi tanpa sebab, berdasarkan hasil observasi tersebut, anak perempuan biasanya mencapai fase pubertas satu atau dua tahun lebih dulu dari pada anak laki-laki, dan bagian otak yang menangani perasaan yang kuat masih dalam masa pertumbuhan. 

semua ini terjadi tepat saat mereka membuka akun media sosial pertamanya, dan menghadapi perbandingan, konflik, dan konten yang tidak baik.

Studi di Inggris yang dikutip penelitian ini juga menemukan hal yang hampir sama. 

Gadis-gadis berusia 11 hingga 13 tahun yang lebih sering menggunakan media sosial melaporkan merasa kurang puas dengan kehidupan setahun kemudian, sementara remaja yang lebih tua tidak menunjukkan perubahan seperti itu.

Namun, di sisi lain, para peneliti tidak sepenuhnya sepakat dengan pendapat bahwa; 'media sosial membawa dampak buruk terhadap para remaja.'

masih ada nilai-nilai positif yang terkandung dalam platform tersebut, jika digunakan dan dikelola dengan baik oleh penggunanya. 

Penelitian ini juga menjelaskan, banyak remaja mendapatkan penghasilan dan dukungan pertemanan yang kuat melalui platform online tersebut.

Seorang peneliti yang ikut terlibat dalam studi ini, Susan Sawyer menyoroti regulasi teranyar tentang media sosial yang diterbitkan oleh pemerintah Australia. 

Susan menilai, regulasi ini terbentuk dari polemik dampak buruk media sosial terhadap kekhawatiran kesehatan mental para remaja di negara tersebut.

hal ini memperkuat perlunya batasan yang sesuai dengan usia, program pendidikan dan literasi yang lebih baik, serta panduan orang tua yang lebih jelas."|Sawyer, salah satu Peneliti

BERSUARA KERAS untuk Demokrasi dan Keadilan dan Kejujuran.

Informasi Artikel:

| Konteks: Kesehatan, Hukum, 

| Penulis: W.J.B

| Sumber: Children's Research Institute and Deakin University-Australia, Earth, 

| Penerbit: Kupang TIMES

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

Copyright © 2022 The Kupang Times Newsroom.com ™ Design By The Kupang Times Newsroom.com ®