Edisi: 1.451
Halaman 2
Integritas |Independen |Kredibel
JAKARTA, KUPANG TIMES - 'Bentuk pembredelan media kini dan dahulu tidak jauh berbeda.
Sama-sama ingin menekan kebebasan pers. Bedanya pelakunya kini lebih pengecut.'
Direktur Utama Tempo Media Group, Arif Zulkifli alias Azul menilai, tekanan terhadap media massa saat ini tidak jauh berbeda dengan era Orde Baru.
Perbedaannya hanya pada cara, tetapi tujuannya sama: 'membatasi kebebasan pers.'
Arif mengatakan, jika pada masa Orde Baru tekanan dilakukan secara terbuka melalui pembredelan atau pencabutan izin terbit. • masa Reformasi bentuknya lebih terselubung, seperti: serangan digital dan doxing terhadap Jurnalis maupun Media.
“seperti doxing terhadap wartawan dan media.. Sampai hari ini kami masih berjuang melawannya."|Azul (Dirut Tempo Media Group) dalam diskusi “Ngopi Media Talks: Beredel, Dulu dan Kini” di Studio TV Tempo, Jakarta Selatan, Senin (22/06/26)
Mantan Pemimpin Redaksi Tempo periode 2013–2019 itu, menyoroti, tekanan yang datang melalui pemilik media.
Arif mengatakan, tekanan semacam itu, berpotensi mengganggu independensi ruang redaksi.
“Independensi bisa terpengaruh dengan berbagai ancaman, misalnya bisnis lain diganggu."|Azul (Dirut Tempo Media Group)
Pemimpin Redaksi Tempo saat ini, Setri Yasra, menambahkan bahwa; bentuk pembredelan modern kerap muncul dalam wujud serangan digital yang sulit dilacak pelakunya.
Setri mencontohkan pengalaman Tempo yang beberapa kali melaporkan serangan terhadap situs mereka ke kepolisian.
namun, hingga kini belum ada pengungkapan pelaku.
“Serangan digital terhadap Tempo terjadi hampir setiap hari.. bahkan tiga jam lalu situs kami terkena serangan DDoS."|Setri (Pemred Tempo)
Setri mengatakan, intensitas serangan meningkat dalam lima tahun terakhir.
Setri menilai, ada upaya sistematis untuk menimbulkan rasa takut di ruang redaksi.
Selain serangan digital, tekanan juga datang melalui jalur hukum.
Setri menyebut Tempo pernah digugat ke pengadilan oleh pihak yang tidak menerima putusan Dewan Pers terkait sengketa pemberitaan.
Namun, gugatan tersebut akhirnya ditolak pengadilan.
meski demikian, Setri menegaskan, redaksi Tempo tidak akan gentar.
Setri memastikan, kerja jurnalistik tetap berpegang pada verifikasi dan fakta di lapangan, tanpa memandang siapa pun pihak yang terlibat.
“Siapa pun, entah presiden, politikus, atau pihak lain, akan kami beritakan berdasarkan fakta."|Setri (Pemred Tempo)
Setri menegaskan, pemberitaan Tempo tidak berpihak pada kepentingan tertentu.
“Kami bekerja secara profesional dan tanpa tendensi."|Setri (Pemred Tempo)
cukup tahu • Diskusi “Media Talks: Beredel, Dulu dan Kini” digelar untuk memperingati perlawanan terhadap pembredelan Majalah Tempo, Editor, dan Detik oleh pemerintah pada 21 Juni 1994.
Selain Azul dan Setri, acara ini juga menghadirkan mantan Pemimpin Redaksi Tempo Bambang Harymurti, Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid, Direktur Eksekutif SAFEnet Nenden Sekar Arum, serta Co-founder Malaka Project Cania Citta.
BERSUARA KERAS untuk Demokrasi dan Keadilan dan Kejujuran.
• Informasi Artikel:
| Konteks: Sejarah, Hukum, Politik,
| Penulis: W.J.B
| Sumber: TCO,
| Penerbit: Kupang TIMES
