Edisi: 1.454
Halaman 3
Integritas |Independen |Kredibel
KUPANG TIMES - Perwakilan Keluarga dr. Icha, Viktor Manbait mengungkapkan, berdasarkan informasi yang disampaikan oleh orang tua Dokter Icha, Gabriel Pakaenoni, yang bersangkutan meninggal dunia di dalam kamarnya di Kota Kupang, Prov NTT, Jum'at (26/06/26) pukul 18:30 WITA.
dr. Icha mengakhiri hidup di dalam kamarnya menggunakan seutas tali.
tali tersebut melilit leher korban dengan ujung lainnya terikat pada bingkai pintu.
berdasarkan hasil pemeriksaan luar, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan yang tidak wajar pada tubuh korban.
Pihak Keluarga meminta, Jenazah almarhumah tidak dilakukan autopsi.
Jenazah dr. Icha disemayamkan di rumah duka RSS Baumata, Kabupaten Kupang.
almarhumah dr. Icha sebelumnya menjalani perawatan medis selama kurang lebih 6 hari sejak 15 Juni 2026 dan diperbolehkan pulang dengan rawat jalan pada 21 Juni 2026.
Victor menyampaikan terima kasih atas atensi dan dukungan Jurnalis semua yang telah berkontribusi menjaga dan melindungi para medis di rumah sakit dalam menjalankan tugas pelayanan kemanusiaannya.
Lapor Badan Kehormatan DPRD Kab TTU,
sebelumnya, dr. Icha, korban dugaan intimidasi oleh 2 (dua) anggota DPRD Kabupaten TTU melaporkan insiden tersebut ke Badan Kehormatan (BK) DPRD TTU.
Laporan tersebut disampaikan dan diterima oleh Wakil Ketua DPRD TTU.
Laporan tersebut diterbitkan setelah, dr. Icha menyerahkan laporan tertulis yang berisi kronologi lengkap perihal peristiwa tersebut.
Laporan yang sama juga telah disampaikan secara lisan dan tertulis kepada IDI Cabang TTU.
Laporan tertulis kepada BK DPRD TTU ini diserahkan oleh ayah dari dr. Icha, Gabriel Pakaenoni.
Penyerahan laporan tersebut diberikan sebagai bukti keseriusan mengungkap fakta di balik insiden itu.
Gabriel Pakaenoni mengatakan, laporan tersebut disampaikan agar Badan Kehormatan DPRD bisa meneliti dan memproses sesuai mekanisme serta ketentuan yang berlaku.
hal ini dimaksudkan agar tenaga kesehatan yang menjalankan tugas bisa diberikan perlindungan.
Proses yang dilakukan oleh BK DPRD diharapkan dapat menghasilkan keputusan yang menjunjung tinggi etika dan kehormatan lembaga.
di sisi lain, langkah ini diharapkan menjadi pembelajaran agar insiden serupa tidak terjadi lagi.
"Supaya serupa tidak kembali dialami tenaga kesehatan di masa mendatang."|Gabriel (Ayah dari dr. Icha), Kamis (25/06/26)
Diduga Diintimidasi,
sebelumnya, 3 (tiga) orang anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), Therensius Lazakar dan Norbertus Tubani dan Veronika Lake diduga mengintimidasi seorang dokter bernama Icha di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Leona Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Viktor Manbait menjelaskan, Sabtu (13/06/26), seorang pasien anak yang digigit ular dibawa keluarganya ke IGD RS Leona untuk mendapatkan penanganan medis.
Pasien tersebut merupakan pasien rujukan dari RSUD Kefamenanu.
saat tiba di RS Leona, Pasien langsung ditangani oleh dr. Icha yang saat itu bertugas sebagai dokter jaga.
dalam memberikan pelayanan, dr. Icha melakukan pemeriksaan dan berkonsultasi dengan dokter spesialis sesuai standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku.
berdasarkan hasil pemeriksaan dan konsultasi medis dengan dokter ahli bisa sesuai SOP, pasien belum direkomendasikan untuk diberikan vaksin tertentu.
di sisi lain, RSU Leona tidak memiliki stok vaksin yang diminta keluarga pasien.
dr. Icha menjelaskan kondisi kondisi pasien kepada keluarga pasien.
meski sudah dijelaskan, keluarga pasien tidak menerima penjelasan yang diberikan dan meminta agar pasien segera diberikan vaksin.
"dalam situasi tersebut, salah seorang anggota keluarga pasien berbicara dengan nada tinggi kepada dr. Icha dan mengaku sebagai anggota DPRD TTU."|Victor (Paman dari dr. Icha) Minggu (21/06/26)
tidak lama kemudian, seorang pria lain masuk ke ruang IGD dan turut menyampaikan protes dengan nada keras.
Pria tersebut juga mengaku sebagai anggota DPRD Komisi III, Norbertus Tubani.
Victor mengungkapkan, Oknum anggota DPRD TTU itu menunjuk-nunjuk dr. Icha dan menyebut bahwa; dirinya merupakan anggota DPRD TTU yang bermitra dengan Dinas Kesehatan.
dr. Icha berusaha memberikan penjelasan terkait kondisi pasien dan alasan medis yang mendasari tindakan yang diambil.
meskipun demikian, penjelasan tersebut tidak diterima sehingga dr. Icha merasa tertekan dan menangis.
Kejadian tersebut kemudian dilaporkan dr. Icha dengan menelepon Pimpinan RS Leona.
Direktris RSU Leona langsung datang ke IGD untuk menenangkan situasi dan memberikan penjelasan kepada keluarga pasien bahwa; tindakan medis yang dilakukan telah sesuai SOP dan hasil konsultasi dengan dokter spesialis.
"setelah situasi dapat dikendalikan, pasien tetap menjalani observasi di RS Leona."|Victor (Paman dari dr Icha)
Victor mengatakan, pada Minggu (14/06/26) sore, saat hendak kembali bertugas, dr. Icha melihat dua orang yang sebelumnya terlibat dalam peristiwa tersebut berada di lingkungan rumah sakit.
Karena masih dihantui rasa takut dan tertekan akibat kejadian sehari sebelumnya, dr. Icha memilih kembali ke tempat tinggalnya.
sekira pukul 19:00 WITA, rekan-rekan kerja dr. Icha berusaha menghubunginya, namun tidak mendapat respons.
rekan kerjanya memutuskan untuk mendatangi tempat tinggalnya dan menemukan dr. Icha dalam kondisi lemah.
rekan kerjanya kemudian membawa dr. Icha ke RS Leona untuk mendapatkan penanganan medis.
Setelah menerima perawatan medis, dr. Icha mengatakan, dirinya masih mengalami ketakutan dan tekanan psikologis akibat bentakan serta perlakuan yang dialaminya saat bertugas di IGD.
Victor mengatakan, dirinya dan paman dr. Icha lainnya, Olis Pakaenoni pada Selasa (18/06/26) mendatangi Kantor DPRD TTU untuk meminta perlindungan bagi tenaga medis dan menyampaikan keberatan atas tindakan yang diduga dilakukan oleh tiga anggota DPRD tersebut.
BERSUARA KERAS untuk Demokrasi dan Keadilan dan Kejujuran.
• Informasi Artikel:
| Konteks: Sosial, Kesehatan, Hukum,
| Penulis: W.J.B
| Sumber: Keluarga dr. Icha,
| Penerbit: Kupang TIMES

