Tahukah Anda.? Dulu Kota Kupang Punya Stasiun Pembangkit Listrik Sendiri (de Eerste Elektrische Centrale te Koepang), sebelum ada PLN.!

Edisi: 1.321
Halaman 2
Integritas |Independen |Kredibel

Potret: Australian War Memorial|Properti • Stasiun Pembangkit Listrik Kota Kupang

KUPANG TIMES - Jika anda melihat foto-foto yang dipublikasi oleh 'Australian War Memorial' pada tahun 1945, sebagian besar bangunan di kota Kupang menggunakan atap genteng dengan konstruksi tembok. 

Namun, ada satu bangunan di kota Kupang yang berbeda dan unik.! karena tidak memiliki atap genteng seperti bangunan lainnya, dan itu adalah Gedung Stasiun Pembangkit Listrik. 

Pemilik Gedung tersebut adalah seorang pengusaha etnis Tionghoa yang bernama Tjiong Koen Siong (Koendrat Sulung Budi).

Pada tahun 1930-1940, Tjiong Koen Siong dikenal sebagai seorang pengusaha kaya, yang mendukung organisasi Timorsch Verbond dan beberapa organisasi lain dalam pergerakannya. 

Gedung Theater Sunlie (pernah berubah nama menjadi 'Royal' dan saat ini dikenal dengan 'Bioskop Raya') selalu disediakan oleh Tjiong Koen Siong bagi tokoh-tokoh politik di Timor en Onderhoorigheden untuk mengadakan pertemuan, orasi, dan lain-lain. 

selain urusan politik, gedung Sunlie juga menampilkan beberapa atraksi pertunjukan, seperti: sirkus • opera • drama • tari-tarian dan lain-lain [Gerry van Klinken 2015:134-135].

Desain Stasiun Pembangkit Listrik, 

Bangunan unik tersebut diarsiteki atau digambar oleh Ir. Soekarno, saat dalam pengasingan di Ende. 

Ir. Soekarno bersama istrinya Inggit Garnasih dan keluarga tiba di Ende dengan KM van Riebeeck pada 14 Januari 1934. 

Ir. Soekarno menjalani masa pengasingan di Ende selama kurang lebih 4 tahun 8 bulan. 

Pada 18 Oktober 1938, Militer Belanda memindahkan Ir. Soekarno bersama keluarganya ke tempat pengasingan di Bengkulu. 

Selama pengasingan di Ende, Ir. Soekarno hanya memperoleh tunjangan yang tidak besar dari Pemerintah Hindia Belanda. 

oleh karena itu, untuk menghidupi keluarganya, Ir. Soekarno menerima jasa arsitektur • menjadi pedagang kain • menekuni seni lukis drama • dan lain-lain, untuk menambah penghasilan [Asian Textile 2021].

Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu cucu dari Tjiong Koen Siong yang bernama Muljadi Pineng Sulung, gedung Stasiun Pembangkit Listrik digambar oleh Ir. Soekarno pada awal pengasingan di Ende. 

Ketika itu, Tjiong Koen Siong memiliki kenalan, seorang teman dekat dari Ir. Soekarno. 

melalui teman dekatnya, Tjiong Koen Siong meminta bantuan kepada Ir. Soekarno untuk merancang bangunan Stasiun Pembangkit Listrik di Kupang, dan akhirnya Ir. Soekarno menyetujui tentang Soekarno. [Sumber: Interview dengan Muljadi Pineng Sulung, salah satu cucu dari Tjiong Koen Siong].

Tjiong Koen Siong mendapat izin pembangunan dan penggunaan jalur transmisi dan distribusi pekerjaan kelistrikan di Ibukota Kupang dari pemerintah Hindia Belanda melalui surat nomor: J.C. n°.103- G.B. • 18 Desember 1936 [Netherlands Departement van Koloniën 1936:146; Dutch East Indies 1936:260]. 

Bangunan Stasiun Pembangkit Listrik di Kupang (Elektrische Centrale te Koepang) mulai dibangun pada tahun 1937 dan mulai beroperasi pada September 1938 dengan tiga (3) mesin pembangkit listrik.

Potret: Sulung Budi|Properti • Tjiong Koen Siong

Rumah Terbakar, 

Muljadi Pineng Sulung, mengatakan, Blue print atau gambar asli dari gedung Stasiun Pembangkit Listrik yang digambar oleh Ir. Soekarno telah terbakar, ketika rumah pribadi Tjiong Koen Siong di Kampung Solor, mengalami kebakaran, pada tahun 1940.

Rumah tersebut, saat ini dikenal dengan Apotek Kota [Sumber: Interview dengan Muljadi Pineng Sulung, salah satu cucu dari Tjiong Koen Siong]. 

usai Kebakaran, Tjiong Koen Siong dan keluarga memutuskan pindah rumah dari kampung Solor ke Fontein. 

Stasiun Pembangkit Listrik, 

Eksistensi Stasiun Pembangkit Listrik swasta tersebut sangat berarti bagi masyarakat kota Kupang, sebab dari kegelapan menjadi terang, walaupun hanya menerangi kota Kupang pada malam hari selama beberapa jam berdasarkan kontrak dengan pemerintah Hindia Belanda. 

Pada era pemerintahan Hindia Belanda di Kupang, gedung perusahaan pembangkit listrik diberi nama 'Elektrische Centrale.'

Perusahaan swasta 'Elektrische Centrale' kemudian mulai berubah nama menjadi 'EMTO' pasca penyerahan kedaulatan di Kupang dari pemerintah Hindia Belanda kepada pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS) pada akhir tahun 1949. 

EMTO kemudian berdiri sendiri sebagai perusahaan pembangkit listrik swasta di Kupang yang sangat vital sampai pada tahun 1965.

Negara Ambil Alih, 

Pelaksanan peleburan EMTO ke dalam Perusahaan Listrik Negara (PLN) Eksploitasi VII Cabang Kupang baru mulai dilakukan pada 1 Oktober 1965. 

Peleburan tersebut didasarkan pada Undang-Undang No. 9 tahun 1960 tentang nasionalisasi perusahaan asing yang bersifat vital, yaitu: semua perusahaan swasta di seluruh Indonesia diambil alih oleh pemerintah dan dilebur menjadi Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Pada tahun 1966, gedung tersebut dimanfaatkan kembali oleh PT. Sulung Budi untuk menjadi agen penyalur bahan bakar minyak (BBM), dan terakhir sebagai dealer resmi ban mobil merk 'GOODYEAR.'

Gedung pembangkit listik pertama di Kupang yang terletak di Jl. Siliwangi, Kel. Bonipoi, Kota Kupang itu, dari dulu sampai sekarang belum berubah, baik diri sisi eksterior maupun interior. 


Potret: AWM|Properti • Pemukiman Penduduk Tionghoa di Jl. Siliwangi Kota Kupang 1930-1940

itulah sedikit cerita tentang salah satu gedung bersejarah sebagai heritage city yang terletak di Jl. Siliwangi Kel. Bonipoi- Kota Kupang.

BERSUARA KERAS untuk Demokrasi dan Keadilan dan Kejujuran.

Informasi Artikel:

| Konteks: Sejarah, 

| Penulis: SP

| Editor: W.J.B

| Sumber:  1889 • Dutch East Indies. Staatsbladen van Nederlandsch Indie (1884-1888) • 1936 Dutch East Indies. Javasche Courant, Officieel Nieuwsblad • 1936 Netherlands Departement van Koloniën. Indisch verslag • 2015 Gerry van Klinken. The Making of Middle Indonesia: Kelas Menengah di Kota Kupang 1930an-1980an • 2020 Interview dengan Muljadi Pineng Sulung, salah satu cucu dari Tjiong Koen Siong pada 20 Agustus 2020 • 2021 Asian Textile, Ende Regency 2 • Australian War Memorial • Sonny Pellokila (Sejarawan), 

| Penerbit: Kupang TIMES

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

Copyright © 2022 The Kupang Times Newsroom.com ™ Design By The Kupang Times Newsroom.com ®