Edisi: 1.245
Halaman 2
Integritas |Independen |Kredibel
JAKARTA, KUPANG TIMES - Perusahaan ritel mini market yang menyediakan berbagai kebutuhan rumah tangga, Alfamart cukup akrab ditelinga masyarakat.
saat ini, Alfamart sudah beroperasi di hampir seluruh wilayah Indonesia, berkat tangan dingin Kwok Kwie Fo alias Djoko Susanto, pemilik dari Alfamart dan Alfamidi.
Kesuksesan yang diperoleh Djoko Susanto, tentunya, tidak semudah membalikan telapak tangan dan keberuntungan.
Djoko Susanto mengawali kariernya di perusahaan perakitan radio sebagai pegawai biasa.
Kisah bermula di tahun 1966, usai meninggalkan bangku SMA dan tidak betah bekerja sebagai pegawai di perusahaan tersebut, Djoko memilih membantu bisnis kelontong ibunya bernama Toko Sumber Bahagia di Petojo, Jakarta.
sehari-hari di sana, Djoko menjaga warung yang berjualan kacang tanah, minyak sayur, sabun mandi dan rokok, dari pagi sampai malam.
seiring waktu, warung tersebut hanya berkonsentrasi menjual rokok dalam skala besar.
dan kebetulan mitra utama warung Sumber Bahagia adalah Gudang Garam.
tidak disangka, penjualan di sana mendapatkan hasil positif, bahkan."|Sam Setyautama (Penulis)
pada 1987 Djoko sudah punya 15 jaringan toko grosir dan terpilih sebagai penjual rokok Gudang Garam terbesar.
di tengah jalan, keberhasilan Djoko menjual rokok, menarik perhatian petinggi PT HM Sampoerna, yakni: Putera Sampoerna.
"Pertemuannya dengan Putera Sampoerna, bos PT HM Sampoerna akhir 1986, mengubah nasibnya secara total,
Ia diangkat menjadi direktur penjualan PT Sampoerna yang membawa PT HM Sampoerna ke peringkat kedua terbesar setelah Gudang Garam."|Sam Setyautama (Penulis) dalam Tokoh-Tokoh Etnis Tionghoa Di Indonesia (2008)
Kepiawaiannya memasarkan rokok, membuatnya dipercaya menjadi direktur PT Panarmas yang menjadi distributor rokok Sampoerna.
di posisi inilah, Djoko turut serta memasarkan merek baru Sampoerna bernama Sampoerna A Mild di tahun 1989.
Kelak, rokok ini menjadi salah satu yang populer di Indonesia.
Ketika memasarkan rokok baru tersebut, Djoko mendirikan PT Alfa Retailindo pada 1989 usai mengubah gudang Sampoerna di Jl Lodan No. 80.
"dengan modal IDR 2 Miliar, gudang itu disulap menjadi Toko Gudang Rabat, dengan 40% saham dimiliki Puetera Sampoerna, dan sisanya dimiliki Kwok Kwie Fo (alias Djoko Susanto)."|Sam Setyautama (Penulis)
Toko Gudang Rabat itu jadi cikal bakal Alfa.
awalnya, difungsikan sebagai distributor rokok baru Sampoerna, tetapi perlahan jadi toko kelontong yang menjual berbagai macam barang.
Toko Gudang Rabat kemudian berkembang besar dan memiliki banyak cabang di beberapa kota Indonesia.
pada tahun 1990-an, Gudang Rabat menjelma menjadi retail pesaing Indomaret bentukan Salim Group dengan memiliki 32 gerai.
Namanya kemudian berubah menjadi Alfa Minimart di bawah PT Sumber Alfaria Triyaja pada 18 Oktober 1999.
Alfa Minimart berupaya mirip dengan Indomaret, yakni: minimarket yang bisa dijangkau masyarakat secara dekat, di mana bangunan pertamanya di Jl. Beringin Raya, Tangerang.
Keberadaan Alfa Minimart mendapat respons positif dari masyarakat.
Penjualannya Naik, Djoko Susanto dapat "durian runtuh."
"Alfa dinyatakan go public pada 18 Januari 2000,
saat itu, nilai kapitalisasi pasar Alfa ditaksir mencapai USD 108,29 Juta."|tulis buku Kaum Supertajir Indonesia (2008)
sejak 1 Januari 2003, Alfa Minimart berubah menjadi Alfamart.
Putera Sampoerna memberikan modal dan kemudian Alfamart beranak-pinak, seperti: sekarang.
saat ini total gerai Grup Alfamart mencapai lebih dari 23.000 toko, termasuk gerai yang dikelola anak usaha, seperti: Alfamidi dan Lawson.
BERSUARA KERAS untuk Demokrasi dan Keadilan dan Kejujuran.
• Informasi Artikel:
| Konteks: Sejarah, Bisnis,
| Penulis: W.J.B
| Sumber: berbagai sumber,
| Penerbit: Kupang TIMES

