Edisi: 1.178
Halaman 3
Integritas |Independen |Kredibel
JAKARTA, KUPANG TIMES - 'Kepala BGN, Dadan Hindayana, mengatakan, skema MBG yang hari ini digunakan, sudah dirancang sejak lama oleh Presiden.'
Badan Gizi Nasional menolak ide mengubah skema penyaluran program makan bergizi gratis menjadi bantuan tunai.
Kepala BGN, Dadan Hindayana, mengatakan, skema MBG yang hari ini digunakan, sudah dirancang sejak lama oleh Presiden RI, Prabowo Subianto.
Dadan, menilai, selain itu, pemberian uang tunai semacam itu sudah diwakili oleh program Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang disalurkan Kementerian Sosial.
"Jadi, kita tidak ingin melakukan itu."|Dadan (Kepala BGN) di kantornya, Jakarta, Senin, (22/09/25)
Lulusan Institut Pertanian Bogor itu, berdalih, pemberian uang tunai rentan penyelewengan.
Dadan, mencontohkan satu kasus di Sumatera Utara, ketika salah seorang ibu menggunakan dana bantuan dari Kartu Indonesia Pintar (KIP) milik anaknya untuk membayar hal lain, alih-alih membayar iuran sekolah.
Padahal, tujuan utama dari program makan bergizi gratis ini adalah bagaimana pemerintah ikut intervensi dalam meningkatkan gizi anak.
"Program ini dirancang, kan sudah diskusi lama,
dan program ini adalah untuk intervensi pemenuhan gizi."|Dadan (Kepala BGN)
Dadan, mengatakan, selain itu, skema bantuan tunai tidak mungkin dilakukan, karena pemerintah ingin menciptakan sistem rantai pasok ekonomi desa.
caranya.? dengan membangun permintaan atau demand baru, dalam hal ini melalui dapur MBG.
"satu SPPG itu akan mendorong kemandirian pangan lokal dan ketahanan pangan lokal."|Dadan (Kepala BGN)
Dadan, mencontohkan, setiap SPPG membutuhkan sekitar 5 ton beras per-hari.
Beras tersebut, nantinya diserap dari daerah setempat, maupun daerah penghasil beras.
ini akan membuat petani mendapatkan permintaan tinggi sehingga nilai tukarnya pun terjaga.
"satu SPPG itu kan setiap bulan butuh 5 ton beras,
itu setara dengan 10 ton gabah kering giling,
Jadi berapa hektar.? Ada 2 hektar luas panen yang (dimanfaatkan) satu SPPG."|Dadan (Kepala BGN)
cukup tahu • sebelumnya, deretan permasalahan seperti; keracunan dan selera makan siswa yang berbeda membuat usulan program makan bergizi disalurkan langsung melalui orang tua kembali mengemuka.
Gagasan ini, disampaikan oleh Wakil Ketua Komisi IX DPR-RI dari Fraksi PDI-P, Charles Honoris.
Charles, menyoroti, panjang dan lamanya proses penyajian makanan dalam jumlah banyak, sehingga membuat makanan rentan terkontaminasi bakteri.
oleh karena itu, Charles mendorong BGN mencoba pola lain dalam penyediaan makan bergizi gratis.
"bahkan opsi memberikan uang kepada orang tua murid misalnya,
sehingga orang tua murid bisa menyediakan makanan sendiri untuk anak-anaknya."|Charles (Waket Komisi IX DPR-RI) di Parlemen, Senayan, Jakarta, Jum'at, (19/09/25)
BERSUARA KERAS untuk Demokrasi dan Keadilan dan Kejujuran.
• Informasi Artikel:
| Konteks: Politik, Keuangan,
| Penulis: W.J.B
| Sumber: BGN, Komisi IX DPR-RI,
| Penerbit: Kupang TIMES
