Setelah 100 Tahun, Ilmuwan Temukan Spesies Kucing Liar Baru, yang Bersembunyi di Hutan Bolivia.!

Edisi: 1.574
Halaman 1
Integritas |Independen |Kredibel

Potret: Paola Nogales-Ascarrunz|Properti • Leopardus tilcayo yang hidup di penangkaran Suaka Margasatwa Senda Verde, kawasan Nor Yungas-Bolivia. • Individu ini, yang diberi nama panggilan 'Tigrino' adalah kucing yang menjadi titik awal penemuan spesies baru ini setelah diserahkan ke suaka oleh warga setempat yang sebelumnya mengira hewan tersebut adalah kucing kampung. 

KUPANG TIMES – Dunia hewan mamalia sering dianggap sudah terpetakan hampir seluruhnya oleh sains modern, terutama untuk kelompok hewan besar dan mencolok seperti kucing. 

Namun kenyataannya, banyak spesies masih luput dari identifikasi formal karena wilayah jelajahnya yang terpencil, populasinya yang kecil atau kemiripannya yang tinggi dengan spesies lain yang sudah dikenal lebih dulu. 

Kekeliruan identifikasi semacam ini kerap terjadi pada kelompok kucing liar berukuran kecil, yang individunya di alam sulit dipantau dan spesimen museumnya terbatas.

salah satu kasus tersebut baru saja terungkap di Negara Bolivia. 

seekor kucing kecil bertotol yang selama ini dikenal warga setempat dengan nama tilcayo resmi dinyatakan sebagai spesies baru bagi ilmu pengetahuan. 

Penemuan tersebut, dipublikasikan dalam jurnal Current Biology pada 17 September 2026, menjadi spesies kucing liar hidup pertama yang berhasil diidentifikasi dan dideskripsikan dalam lebih dari satu abad terakhir, sejak kucing pampas dideskripsikan pada 1923.

dari Kucing Peliharaan hingga Analisis Genetik, 

Kisah penemuan ini bermula pada 2016, ketika seorang warga di kawasan hutan Yungas-Bolivia, menemukan seekor anak kucing di dekat jalan hutan. 

warga tersebut sempat mengira hewan itu adalah kucing kampung dan memeliharanya di rumah selama sekitar satu tahun. 

Namun perilakunya yang tidak lazim untuk kucing rumahan membuat pemiliknya akhirnya menyerahkan hewan tersebut ke Suaka Margasatwa Senda Verde di lereng subtropis Pegunungan Andes.

ahli biologi asal Bolivia dan National Geographic Explorer, Paola Nogales-Ascarrunz, yang saat itu menjadi sukarelawan di suaka tersebut, tertarik dengan penampilan kucing itu. 

Wajahnya kecil dan menyempit, telinganya pendek dan bulat, serta tubuhnya dipenuhi totol menyerupai macan tutul. 

Paola sempat mengira kucing itu adalah anggota spesies Leopardus tigrinus, kucing tutul kecil yang dideskripsikan pertama kali pada 1775 dan diperkirakan tersebar luas di Amerika Tengah dan Selatan.

Keraguan muncul pada 2019, saat Paola menyiapkan buklet tentang spesies kucing di Bolivia dan membandingkan foto kucing tersebut dengan foto referensi kucing tutul kecil dari Brazil. 

Pola totolnya berbeda, dengan bercak berbentuk tidak beraturan yang lebih besar. 

usai mengembangkan kemampuan analisis genetik, Paola bekerja sama dengan Jonas Lescroart dari Universitas Antwerpen, Belgia, dan Eduardo Eizirik dari Universitas Katolik Kepausan Rio Grande do Sul, Brazil, untuk menelusuri asal-usul genetik kucing tersebut.

Tim Peneliti menganalisis genom dari 38 individu kucing dalam genus Leopardus, termasuk delapan spesimen museum, yang dikumpulkan dari berbagai negara di Amerika Selatan. 

Hasilnya menunjukkan, kucing asal Bolivia itu memiliki garis keturunan yang terpisah secara genetik dari kelompok kucing tutul kecil lain sejak sekitar 1,4 juta tahun lalu, jarak evolusi yang oleh para peneliti dianggap setara dengan pemisahan spesies pada kucing besar. 

Berdasarkan temuan tersebut, kucing tutul kecil resmi diberi nama ilmiah Leopardus tilcayo, mengikuti nama lokal yang selama ini digunakan warga setempat.

hingga saat ini, satu-satunya individu L. tilcayo yang diketahui hidup adalah kucing jantan berusia 10 tahun yang menjadi awal penemuan ini dan kini masih tinggal di Suaka Margasatwa Senda Verde. 

Informasi tentang biologi dan perilaku spesies ini masih terbatas. 

Sisa hewan pengerat kecil dalam sampel kotorannya mengindikasikan mamalia kecil kemungkinan menjadi bagian dari makanannya, sementara rekaman kamera jebak menunjukkan kucing ini cenderung lebih aktif pada malam hari.

Lima Spesies Kucing Tutul dan Implikasinya bagi Konservasi, 

Penemuan L. Tilcayo tidak berdiri sendiri. • Studi yang sama juga menemukan kelompok kucing tutul kecil atau tiger cat, yang sebelumnya dianggap terdiri dari satu hingga dua spesies, sebenarnya mencakup lima garis keturunan yang berbeda secara genetik. 

Penelitian ini turut mendeskripsikan satu subspesies baru di kawasan Yungas Peru, yang diberi nama Leopardus tigrinus antisuyo, merujuk pada wilayah Antisuyu yang dahulu menjadi bagian dari Kekaisaran Inka.

Perubahan status taksonomi ini berkonsekuensi langsung bagi upaya konservasi. Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN) saat ini masih memperlakukan kelompok tiger cat sebagai dua spesies berstatus rentan dengan populasi menurun. 

Para peneliti telah membagikan temuan mereka kepada IUCN, yang rencananya akan mengevaluasi kelima garis keturunan itu secara terpisah. 

Evaluasi ulang ini berpotensi mengubah status konservasi masing-masing spesies, termasuk kemungkinan L. tilcayo dinyatakan lebih terancam ketika dinilai sendiri.

Gambar: Nogales-Ascarrunz|et al. (2026), Current Biology Properti • Peta sebaran genetik kelompok kucing tutul kecil (tiger cat) di Amerika Tengah dan Selatan berdasarkan studi genom terbaru, menunjukkan lima garis keturunan berbeda termasuk Leopardus tilcayo (wilayah berwarna biru di Bolivia). • Gambar juga menampilkan tengkorak spesimen museum L. tigrinus tigrinus asal Guyana yang digunakan dalam analisis DNA (kanan atas), serta individu hidup L. tilcayo di Bolivia (kanan bawah). 

Paola mengatakan, Kebutuhan akan penilaian yang lebih akurat dinilai penting mengingat kondisi hutan Yungas, salah satu ekosistem yang paling terancam di kawasan tersebut. 

hutan pegunungan tersebut menghadapi tekanan yang terus bertambah akibat deforestasi, perluasan lahan pertanian, kebakaran yang dipicu aktivitas manusia, serta pertambangan. 

Pemulihan area hutan yang rusak akibat kebakaran, perlindungan hutan alami yang tersisa, dan pemeliharaan konektivitas antar habitat disebut sebagai prioritas mendesak bagi kelangsungan spesies ini maupun satwa lain di Yungas.

secara lebih luas, temuan ini juga berdampak pada klasifikasi keluarga kucing atau Felidae secara keseluruhan. 

saat ini terdapat 41 spesies kucing yang diakui secara resmi di dunia, mencakup kucing liar besar maupun kecil serta kucing domestik. 

dengan tambahan L. tilcayo dan pemisahan tiger cat menjadi lima spesies, jumlah tersebut berpotensi bertambah menjadi 44 spesies atau lebih. 

Eduardo Eizirik menyatakan, penemuan ini menunjukkan masih banyak spesies yang belum terdeskripsikan di dunia, yang berisiko punah sebelum sempat ditemukan oleh sains.


BERSUARA KERAS untuk Demokrasi dan Keadilan dan Kejujuran.

• Informasi Artikel:

| Konteks: Flora Fauna, Sains, 

| Penulis: W.J.B

| Sumber: Nogales-Ascarrunz, P., Lescroart, J., Eizirik, E., et al. (2026). Phylogenomics and museomics reveal five distinct species of tiger cats in South America. Current Biology. https://doi.org/10.1016/j.cub.2026.08.059

| Penerbit: Kupang TIMES

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

Copyright © 2022 The Kupang Times Newsroom.com ™ Design By The Kupang Times Newsroom.com ®