Serangan Militer AS-Israel Menewaskan Kepala Intelijen Iran, Majid Khademi.!

Edisi: 1.373
Halaman 1
Integritas |Independen |Kredibel

      Potret: DW|Properti

TEL-AVIV, KUPANG TIMES - Menteri Pertahanan Israel (IDF), Israel Katz mengonfirmasi bahwa; Israel Defence Force berada di balik operasi militer yang menewaskan Kepala intelijen Korps ganda Revolusi Iran (IRGC) Majid Khademi.

dalam pernyataannya di Telegram, IDF mengungkapkan, kematian Khademi merupakan "pukulan berat lainnya" bagi IRGC.

cukup tahu • biasanya, Pemerintah Iran baru mengakui tewasnya para komandan senior setelah Militer Israel atau Amerika Serikat lebih dulu mengklaim serangan tersebut. 

Namun kali ini berbeda—Iran justru mengumumkannya lebih awal.

Khademi baru 4 (empat) hari menjabat sebagai kepala intelijen IRGC, menggantikan Mohammad Kazemi, yang tewas dalam serangan Israel pada 15 Juni 2025.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengonfirmasi bahwa; kepala intelijennya, Majid Khademi, tewas dalam serangan gabungan Israel–AS

IRGC mengumumkan hal itu melalui pernyataan resmi yang dipublikasikan sejumlah media Iran.

dalam pernyataan tersebut, disebutkan, Khademi tewas pada Senin pagi dan IRGC menuduh Militer Israel dan Amerika Serikat sebagai pihak yang menargetkannya.

Khademi sebelumnya menggantikan Mohammad Kazemi, yang tewas dalam serangan Israel pada 15 Juni 2025, saat perang Iran–Israel berlangsung selama 12 hari.

pada bulan Februari 2026 lalu, menyusul gelombang protes anti-pemerintah yang mematikan pada Januari 2026, Khademi menuduh Presiden AS, Donald Trump memicu apa yang disebut pejabat Iran sebagai strategi "pembunuhan terencana"—sebuah upaya yang, menurut mereka (IRGC), bertujuan meningkatkan jumlah korban untuk membenarkan intervensi militer asing.

saat itu, Khademi menuding, bahwa; lebih dari 10 dinas intelijen asing—termasuk Unit 8.200, divisi siber dan intelijen militer Israel—terlibat dalam gelombang protes besar yang melanda Iran.

dilansir dari Human Rights Activists News Agency yang berbasis di AS, sedikitnya 7.000 orang tewas dalam penumpasan demonstrasi pada Januari 2026 lalu.

Siapa itu Majid Khademi.?

Majid Khademi kerap muncul di media dengan dua identitas—kadang disebut sebagai Majid Khademi, dan di waktu lain diperkenalkan sebagai Majid Hosseini.

Khademi dikenal sebagai sosok militer yang menduduki berbagai posisi strategis di bidang keamanan.

meski kemudian dipindahkan dari unit perlindungan intelijen Kementerian Pertahanan ke struktur intelijen IRGC, Khademi sebenarnya sudah memiliki rekam jejak panjang di Garda Revolusi sebelum perpindahan tersebut.

setelah Organisasi Intelijen IRGC dibentuk, nama Majid Khademi (atau Hosseini) beberapa kali disebut sebagai salah satu kandidat kuat penerus Hossein Taeb, kepala intelijen IRGC saat itu—setidaknya hingga 2014.

Majid Khademi pernah menjabat sebagai wakil direktur Organisasi Perlindungan Intelijen IRGC, sebelum akhirnya dipromosikan menjadi kepala lembaga tersebut.

Khademi kemudian diangkat sebagai kepala unit perlindungan intelijen Kementerian Pertahanan pada Mei 2018, menggantikan Asghar Mir-Jafari—yang juga merupakan perwira IRGC.

sekitar sepuluh hari sebelum serangan gabungan AS dan Israel, Khademi berbicara kepada media yang berafiliasi dengan kantor Pemimpin Tertinggi Iran mengenai gelombang protes besar pada Januari.

saat itu Khademi menyatakan bahwa; "setidaknya 10 dinas intelijen asing" terlibat dalam kerusuhan Januari tersebut.

Khademi menjelaskan, beberapa badan keamanan negara sahabat juga telah memperingatkan mengenai rencana tersebut.

Khademi menegaskan, musuh belum menghentikan upaya untuk menyerang Iran—dan meskipun tidak sedang menyiapkan serangan militer langsung, mereka kini memfokuskan strategi pada penciptaan kekacauan internal dan ketidakstabilan di dalam negeri.

dalam wawancara tersebut, Khademi menyinggung pertemuannya dengan Ali Khamenei sebelum gelombang protes Januari pecah.

pada pertemuan tersebut, Khademi melaporkan perkembangan perang 12 hari yang baru saja terjadi.

Khademi mengungkapkan, pemimpin tertinggi Iran saat itu berpesan kepadanya:

"Perhatikan pekerjaan intelijen.. masa sekarang mirip dengan era tahun 1960."|Ali Khamenei

era 1960-an dalam konteks Iran merujuk pada masa awal Republik Islam yang ditandai oleh perang serta penindasan keras terhadap kelompok oposisi.

pada periode ini, ribuan tahanan politik dieksekusi, dan tindakan represif dilakukan secara sistematis terhadap mereka yang dianggap menentang negara.

Puncak gelombang eksekusi terjadi pada musim panas 1988, ketika ribuan narapidana yang telah kehilangan hak-hak dasar mereka dieksekusi di berbagai penjara Iran.

Peristiwa tersebut kemudian menjadi salah satu episode paling kelam dalam sejarah hak asasi manusia di negara tersebut.

Presiden AS, Donald Trump: "Buka Selat Hormuz atau pembangkit listrik Iran akan dihancurkan."

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah merilis unggahan yang penuh dengan tulisan tegas di media sosial .

dalam unggahan tersebut, Trump mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan Iran, apabila tidak membuka Selat Hormuz bagi semua kapal, Selasa (07/04/26).

seperti ancaman sebelumnya, Trump mengatakan, dirinya akan membuat Iran seperti "neraka." 

Namun, kepada media AS, Trump menyatakan ada "peluang besar" tercapainya kesepakatan dengan Teheran.

Iran mengejek ultimatum Trump, sekaligus menyebut pernyataan Trump "tidak berdaya, gugup, dan bodoh."

Ancaman baru Trump mengemuka setelah dirinya mengumumkan, Pilot pesawat Jet tempur AS yang ditembak jatuh di Iran telah berhasil diselamatkan dalam operasi di wilayah negara tersebut.

Trump, pilot F-15 itu telah diselamatkan tak lama setelah pesawat yang diawakinya ditembak jatuh, Jum'at (03/04/26). 

Insiden tersebut terjadi setelah lebih dari sebulan perang.

Iran terus membalas gempuran udara AS dan Israel dengan serangan terhadap berbagai fasilitas AS di negara-negara Teluk yang bersekutu dengan kedua negara tersebut.

Iran juga menghambat arus lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang biasanya dilalui kapal-kapal yang mengangkut sekitar seperlima minyak dan gas dunia. 

hal ini memicu lonjakan harga minyak global dan kekhawatiran terhadap inflasi yang lebih tinggi di seluruh dunia.

Gangguan tersebut mendorong Trump untuk mengultimatum Iran untuk membuka kembali selat tersebut.

pada Minggu (05/04/26), Trump merilis ultimatum menggunakan platform Truth Social miliknya.

Paragraf di bawah ini mengandung bahasa yang sangat keras.

Trump menulis: "Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik, dan Hari Jembatan, semuanya digabung menjadi satu, di Iran. tidak akan ada yang seperti itu.!! Buka Selat sialan itu, kalian bajingan gila atau kalian akan hidup di Neraka – LIHAT SAJA.! Segala puji bagi Allah. Presiden DONALD J. TRUMP"

setelah itu, ia mengatakan kepada Fox News bahwa ada "peluang besar" kesepakatan akan tercapai pada Senin (06/04), tetapi ia mempertimbangkan untuk "meledakkan semuanya dan mengambil alih minyak" jika kesepakatan mengakhiri perang tidak segera dicapai.

Presiden AS itu kembali mengunggah – "Selasa, pukul 20.00 Waktu Timur.!"

Trump telah beberapa kali menunda tenggat ultimatum pembukaan Selat Hormuz.

pada 21 Maret, Trump mengancam akan "melenyapkan" pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tidak "TERBUKA SEPENUHNYA" dalam waktu 48 jam.

pada 23 Maret, Trump mengatakan, tidak akan melancarkan serangan selama lima hari lagi—hingga 28 Maret—karena pembicaraan "baik" dan "produktif" dengan Iran sedang berlangsung.

Iran membantah telah berkontak dengan pemerintahan Trump.

Saat tenggat mendekat, Trump kembali memundurkan tenggat selama 10 hari, hingga 6 April. 

Kemudian, waktu diundur lagi hingga Selasa (07/04/26).

Mahdi Tabatabaei, juru bicara kantor presiden Iran, mengatakan Selat Hormuz "akan dibuka kembali" ketika "sebagian dari biaya tol transit digunakan untuk memberikan kompensasi atas semua kerusakan yang disebabkan" oleh perang.

Iran telah mengindikasikan rencana untuk mengenakan biaya kepada kapal-kapal yang melintasi selat tersebut.

Jenderal Ali Abdollahi Aliabadi dari komando militer pusat Iran mengatakan ancaman Trump adalah tindakan yang "tidak berdaya, gugup, tidak seimbang, dan bodoh" seraya menambahkan bahwa "gerbang neraka akan terbuka" bagi pemimpin AS tersebut.

sementara itu, Israel telah menyerang lokasi-lokasi infrastruktur sipil Iran—sebuah fasilitas petrokimia—pada Sabtu (04/04). 

menurut pejabat pertahanan, Israel menunggu persetujuan AS untuk menyerang lebih banyak fasilitas energi Iran pekan depan.

serangan AS-Israel juga menghantam Bandara Internasional Qasem Soleimani di barat daya Iran pada Minggu (05/04).

Iran membalasnya dengan meluncurkan drone dan rudal ke Israel dan sekutu AS di kawasan Teluk.

sebuah gedung hunian di Kota Haifa, Israel, dihantam rudal balistik pada Minggu (05/04/26), empat orang terluka.

Pada hari yang sama, otoritas di Abu Dhabi mengatakan mereka sedang memerangi kebakaran di fasilitas petrokimia Borouge yang disebabkan oleh puing-puing yang jatuh dari rudal Iran.

Kuwait mengatakan serangan drone Iran telah merusak fasilitas minyak dan petrokimia. Pabrik industri dan bahan bakar juga menjadi sasaran di Bahrain.

BERSUARA KERAS untuk Demokrasi dan Keadilan dan Kejujuran.

Informasi Artikel:

| Konteks: Politik, Hukum, Militer, 

| Penulis: W.J.B

| Sumber: BBC World, IDF, 

| Penerbit: Kupang TIMES

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

Copyright © 2022 The Kupang Times Newsroom.com ™ Design By The Kupang Times Newsroom.com ®