Edisi: 1.339
Halaman 3
Integritas |Independen |Kredibel
KUPANG TIMES - Konflik memasuki hari Kelima saat gelombang serangan udara militer AS-Israel memberikan masalah besar pada pertahanan militer Iran.
drone militer Iran juga memberikan tekanan pada pertahanan militer AS, Israel dan para mitranya, seperti: Qatar, Arab Suadi, Bahrain hingga Uni Emirat Arab.
hasil pertempuran tersebut, sangat bergantung pada Negara mana yang kehabisan amunisi terlebih dahulu.
Drone serang satu arah milik militer Iran, Shahed-136 merupakan rudal jelajah kecil dan sederhana, terus menyerang fasilitas milik AS di seluruh Timur Tengah, Senin (02/03/26).
Drone tersebut dalam beberapa hari terakhir telah menyerang pangkalan militer AS, infrastruktur minyak, dan bangunan sipil, sejak serangan Udara AS dan Israel terhadap Iran dimulai pada Sabtu (28/02/26)
di sisi lain, rudal pertahanan udara Patriot buatan AS sebagian besar berhasil menghentikan Shahed Iran dan rudal balistik lainnya, dengan tingkat intersepsi lebih dari 90%, menurut Kementerian Pertahanan UEA.
Namun, penggunaan rudal senilai USD 4 Juta digunakan untuk menghancurkan drone senilai USD 20 Ribu.
senjata murah dapat menghabiskan sumber daya yang seharusnya dialokasikan untuk ancaman yang jauh lebih kompleks.
akibatnya, militer Iran berpotensi kehabisan amunisi dalam hitungan hari atau minggu.
siapa pun yang dapat bertahan lebih lama akan mendapatkan keuntungan serius.
proksi regional Iran terlihat melemah, akibat perang di Gaza dan fasilitas pembangunan rudal mengalami kerusakan akibat serangan militer Israel-AS sebelumnya dalam perang 12 hari pada bulan Juni 2025 lalu.
sejak saat itu, Iran ditekan untuk meningkatkan peringatannya tentang konsekuensi dan biaya perang, apalagi menghadapi kekuatan militer Amerika Serikat yang memiliki sumber daya tidak terbatas.
selain itu, Iran tahu bahwa; para sekutunya tidak bisa berbuat banyak dan secara luas menentang perang yang berkepanjangan dan kacau.
Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei yang tewas dalam serangan udara hari Sabtu kemarin, memperingatkan, serangan militer AS akan menyebabkan kehancuran kebakaran infrastruktur militer dan sipil yang lebih luas yang melibatkan seluruh wilayah dan berpotensi meciptakan gelombang protes warga sipil.
"Strategi pelemahan (attrition strategy) masuk akal secara operasional dari perspektif Iran,
mereka memperhitungkan bahwa; pihak bertahan akan kehabisan rudal pencegat mereka dan kemauan politik negara-negara Teluk akan runtuh dalam menekan AS dan Israel untuk menghentikan operasi, sebelum mereka kehabisan rudal dan drone."|Kelly Grieco, Peneliti dari lembaga think-tank Stimson Center.
Persediaan rudal pencegat Patriot Qatar akan bertahan selama empat hari dengan tingkat penggunaan saat ini, menurut analisis internal yang dilihat oleh Bloomberg News.
Pemerintah Doha, Qatar mendesak agar konflik segera diakhiri.
Iran diperkirakan memiliki sekitar 2.000 rudal balistik setelah konflik tahun 2025 lalu dengan Israel.
Kemungkinan besar mereka memiliki jumlah rudal Shahed yang jauh lebih besar, yang menurut analisis Becca Wasser, kepala pertahanan di Bloomberg Economics, mampu diproduksi oleh Rusia, produsen utama lainnya, dengan kecepatan beberapa ratus unit per-hari.
Teheran telah menembakkan lebih dari 1.200 proyektil sejak awal konflik tahun ini, dengan banyak — mungkin sebagian besar — di antaranya adalah rudal Shahed.
Hal itu menunjukkan bahwa; mereka mungkin menyimpan rudal balistik yang lebih merusak untuk serangan berkelanjutan.
"Unit militer kita sekarang sebenarnya independen dan agak terisolasi dan mereka bertindak berdasarkan instruksi, instruksi umum yang diberikan kepada mereka sebelumnya."|Araghchi, veteran Korps Garda Revolusi Islam, dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera pada hari Minggu (01/03/26)
sementara di pihak AS, para perencana perang kemungkinan besar belum memindahkan cukup amunisi ke wilayah tersebut untuk melanjutkan serangan selama empat minggu, seperti yang targetkan Presiden AS, Donald Trump.
dalam Konferensi Pers, Senin kemarin, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth mengatakan, "ini bukan Irak, ini bukan konflik tanpa akhir."
secara defensif, militer Iran hanya memiliki sedikit amunisi yang tersisa untuk berperang.
serangan udara militer AS-Israel pada jam-jam awal perang menghancurkan sejumlah fasilitas baterai rudal yang paling modern yakni: S-300 buatan Rusia.
Pesawat Tempur AS-Israel melewati wilayah udara Iran tanpa kesulitan.
di sisi lain, AS dan mitra regionalnya sebagian besar menggunakan sistem pertahanan udara Patriot buatan Lockheed Martin Corp, yang menembakkan rudal PAC-3.
meskipun Pentagon telah mendorong peningkatan produksi, Lockheed mengatakan, hanya sekitar 600 rudal PAC-3 yang diproduksi pada tahun 2025.
berdasarkan jumlah rudal dan drone yang dilaporkan ditembak jatuh, ribuan rudal pencegat kemungkinan besar telah ditembakkan di Timur Tengah sejak Sabtu kemarin.
Arab Saudi dan Uni Emirat Arab juga mengoperasikan Thaad, sistem Lockheed yang dirancang untuk menghancurkan rudal yang lebih canggih dan bergerak lebih cepat di tepi atmosfer.
rudal-rudal tersebut, kemungkinan besar tidak akan digunakan untuk melawan target lain, dan harga rudal tersebut cukup mahal, sekitar USD 12 Juta per-rudal.
militer AS menggunakan patroli jet tempur yang menggunakan rudal Advanced Precision Kill Weapon System (APWS), yang harganya USD 20 Ribu hingga USD 30 Ribu per-unit ditambah biaya operasional Jet.
sistem pertahanan anti-drone yang dirancang khusus kurang umum di wilayah ini.
Penggunaan laser, meriam otomatis atau bahkan drone lainnya dapat menjadi cara yang lebih murah untuk melindungi kota-kota dan instalasi, sehingga sistem yang mahal dapat digunakan untuk masalah yang lebih besar.
Laser Iron Beam yang dikembangkan oleh perusahaan pertahanan Israel, Rafael Advanced Defense Systems, dimaksudkan untuk mengatasi masalah ini, tetapi tim Pertahanan Israel mengatakan, laser tersebut belum digunakan dalam konflik.
Jika intensitas serangan Iran saat ini terus meningkat, maka persediaan PAC-3 di wilayah tersebut dapat menipis dalam beberapa hari.
menurut sumber rahasia yang mengetahui masalah tersebut dan meminta untuk tidak disebutkan namanya, karena membahas detail sensitif.
"Jika senjata ofensif berkurang, kekacauan dapat terjadi."|sumber rahasia
sementara itu, persediaan rudal dan drone Iran mungkin akan berkurang dan rezim itu sendiri mungkin tetap utuh, meskipun dalam kekacauan,
"ini tampaknya merupakan hasil yang mungkin terjadi berdasarkan 60 Jam pertama perang ini."|Ankit Panda, Peneliti senior di Carnegie Endowment for International Peace, Senin (02/03/26)
BERSUARA KERAS untuk Demokrasi dan Keadilan dan Kejujuran.
• Informasi Artikel:
| Konteks: Opini, Militer, Politik,
| Penulis: W.J.B
| Sumber: Bloomberg News,
| Penerbit: Kupang TIMES
