Edisi: 1.292
Halaman 2
Integritas |Independen |Kredibel
JAKARTA, KUPANG TIMES - Risiko Retraumatisasi mengintai pembaca buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans, terutama bagi mereka yang memiliki sejarah luka serupa di masa lalu.
Psikolog memperingatkan, tanpa kesiapan mental, menyelami detail kisah trauma orang lain justru bisa membuka kembali "kotak pandora" luka lama yang belum sembuh total.
Segera kenali tanda-tanda retraumatisasi agar kondisi kesehatan mental anda tidak semakin terpuruk.
saat Kisah Trauma membuka Luka Lama,
dalam memoar Broken Strings, Aurelie Moeremans mengajak pembaca menyelami sisi tergelap hidupnya.
"Namaku Aurelie, dan ini adalah kisahku,
Ikuti aku kembali ke tempat dan waktu yang membentuk diriku, bahkan ke momen-momen yang dulu sempat ingin kulupakan."|Aurelie (Penulis) dalam kutipan bukunya.
Namun, bagi sebagian orang, perjalanan "kembali ke tempat dan waktu" tersebut bisa memicu respons psikologis yang berbahaya.
Psikolog RS Dr. Oen Solo Baru, Yustinus Joko Dwi Nugroho, S.Psi., M.Psi., menjelaskan, membaca detail grooming atau intimidasi dapat mengaktifkan memori traumatis pembaca secara paksa.
"Retraumatisasi terjadi ketika seseorang terpapar kembali pada pemicu trauma sehingga ia merasa seolah-olah kejadian buruk di masa lalunya terulang kembali saat ini."|dr. Yustinus (Psikolog) dikutip dari Kompas.com, Selasa (13/01/26).
Tanda Retraumatisasi,
berbeda dengan rasa sedih biasa, retraumatisasi memiliki dampak yang lebih mendalam dan menetap.
Yustinus, mengungkapkan tanda-tanda yang harus anda waspadai, antara lain:
• Munculnya Flashback: Pikiran terus-menerus kembali ke kejadian buruk masa lalu secara mendadak dan tidak terkendali.
• Kecemasan Intens: Merasa sangat gelisah, waspada berlebihan (hypervigilance), atau ketakutan tanpa alasan yang jelas setelah membaca.
• Gangguan Tidur: Mengalami mimpi buruk atau kesulitan tidur karena pikiran terus terpicu oleh isi buku.
• Respons Fisik Ekstrem: Jantung berdebar hebat, sesak napas, hingga serangan panik yang sulit diredam.
Fenomena tersebut berkaitan dengan cara otak menyimpan ingatan trauma.
dr. Yustinus mengatakan, trauma tidak tersimpan sebagai narasi runtut, melainkan dalam bentuk sensasi fisik dan emosi mentah.
"saat sistem saraf cermin (mirror neuron) menangkap penderitaan Aurelie, otak pembaca yang pernah terluka bisa langsung 'mencocokkan' rasa sakit tersebut dengan luka lamanya sendiri,
Akibatnya, sistem pertahanan tubuh aktif kembali seolah ada ancaman nyata."|dr. Yustinus (Psikolog)
Langkah Penyelamatan Mental,
Jika anda merasa mulai terpuruk atau kehilangan kendali emosi, Yustinus menyarankan langkah-langkah berikut:
• Hentikan Bacaan Segera: Jangan memaksakan diri menyelesaikan buku karena rasa penasaran; keselamatan mental Anda lebih utama.
• Lakukan Teknik Grounding 5-4-3-2-1: Sebutkan 5 benda yang dilihat, 4 yang disentuh, 3 suara yang didengar, 2 aroma yang dicium, dan 1 rasa di mulut untuk kembali ke realita saat ini.
• Cari Bantuan Profesional: Jika gejala kecemasan menetap lebih dari dua hari, segera konsultasikan dengan psikolog untuk mendapatkan penanganan tepat.
Kisah Aurelie Moeremans yang kini telah bahagia bersama suaminya, Tyler Bigenho, adalah bukti bahwa; pemulihan itu mungkin terjadi.
Namun, pemulihan tersebut membutuhkan proses yang bijak dan tidak terburu-buru.
"Healing bukan tentang seberapa kuat kita menahan sakit, tapi seberapa bijak kita bisa menjaga diri kita sendiri.
Jangan biarkan luka lama terbuka tanpa dukungan yang cukup."|dr. Yustinus (Psikolog)
BERSUARA KERAS untuk Demokrasi dan Keadilan dan Kejujuran.
• Informasi Artikel:
| Konteks: Kesehatan, Sosial,
| Penulis: W.J.B
| Sumber: Psikolog RS Dr. Oen Solo Baru, Yustinus Joko Dwi Nugroho, S.Psi., M.Psi.,
| Penerbit: Kupang TIMES
