Belum Terima Bantuan, Warga Ladur-NTT Cegat Mobil Pembawa Bantuan.?

Edisi: 1.508
Halaman 1
Integritas |Independen |Kredibel

      Picture: AI-G|Properti • ilustrasi AI

KUPANG TIMES - 'warga desa di Kecamatan Cibal, Manggarai, belum mendapatkan bantuan dari pemerintah di hari kelima usai gempa di Pulau Flores-NTT, Sabtu (15/08) 26). • Terpaksa Cegat Mobil Pembawa Bantuan.'

Sejumlah Warga di lokasi terdampak gempa mulai menghadang mobil logistik, menuntut pemerataan pasokan kebutuhan dasar yang dianggap lambat sampai ke wilayah mereka.

Mobil Rescue Badan Amil Zakat Nasional Nusa Tenggara Barat (Baznas NTB) dihentikan puluhan warga Desa Ladur di jalan nasional lintas Trans Ruteng-Reo di Kabupaten Manggarai-NTT, Rabu (19/08/26) sore. 

sambil membentangkan spanduk, puluhan warga Desa Ladur dan Desa Riung, Kabupaten Manggarai-NTT meminta sopir memberikan sejumlah sembako yang sedang diangkut. 

"Kami luput dari perhatian pemerintah."|Hironimus Yance (Warga) sambil membacakan tulisan di spanduk tersebut, Rabu (19/08/26) 

Puluhan warga kemudian menurunkan sejumlah paket sembako seperti: Beras, Minyak hingga Ikan dari Mobil Baznas NTB. 

Hironimus mengatakan, hal itu merupakan bagian dari aksi memblokade jalan untuk menghentikan mobil pembawa bantuan sembako dari Kabupaten Ruteng ke Kabupaten Reo.

Puluhan warga Desa Ladur dan Riung terpaksa melakukan blokade, karena belum tersentuh bantuan dari pemerintah desa dan pusat sejak gempa melanda Flores, Sabtu (15/08/26). 

Padahal, jarak antara posko pengungsian di Lapangan Barangkolong, di Kabupaten Reo dan Desa Riung hanya sekitar 27 Kilometer atau 15 menit menggunakan Kendaraan. 

Posko Barangkolong adalah pusat penerimaan dan penyaluran bantuan logistik di Manggarai.

"Pemerintah belum pernah juga meninjau kondisi kami,

Kami merasa dianaktirikan."|Hironimus (Warga) 

Hironimus mengatakan, masyarakat membutuhkan berbagai bantuan mulai dari makanan, tenda, hingga obat-obatan. 

"Rumah kami rusak.. di tenda banyak lansia dan anak-anak."|Hironimus (Warga) 

BPS mencatat warga Desa Ladur dihuni 1.670 jiwa, sedangkan Desa Riung mencapai 1.971 jiwa. 

Pejabat Baznas NTB S Komarudin mengaku tidak masalah beberapa bantuan itu diambil warga. 

Logistik tersebut semula digunakan untuk penanganan bencana di Posko Baznas Tanggap Bencana (BTB) di Pondok Pesantren Pancasila, Reo, Kabupaten Manggarai.

"Kami paham karena situasi sedang berat."|Komarudin (Pejabat Baznas NTB) saat di lokasi, Rabu (19/08)26) malam. 

Warga Desa Ladur, Opang Neru mengatakan, bantuan dari pemerintah daerah sudah tiba di kecamatan Cibal. 

Namun, belum didistribusikan sampai saat ini. 

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 19 Agustus 2026, korban meninggal dunia akibat gempa bumi M7,7 di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur tercatat sebanyak 71 orang. 

selain itu, terdapat 284 orang luka berat dan 475 orang luka ringan dan ribuan warga terdampak serta mengungsi di ratusan titik.

Tanggapan Komisi IV DPR-RI, 

Pemerintah bersama BNPB dan lembaga terkait terus berupaya menyalurkan bantuan.

namun, laporan ketidakmerataan distribusi memicu keresahan warga di sejumlah titik pengungsian.

hal tersebut diungkap Wakil Ketua Komisi IV DPR-RI dari Fraksi PAN, Ahmad Yohan.

Yohan mengungkapkan, saat ini sudah banyak warga penyintas gempa bumi di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur yang menghadang mobil pembawa bantuan di tengah jalan.

aksi tersebut dilakukan, karena warga merasa tidak ada keadilan dalam pendistribusian bantuan dari pemerintah.

sekarang ini banyak sekali warga yang di pinggir-pinggir jalan itu mengadang mobil-mobil bantuan yang masuk, mengadang di tengah jalan, karena mereka merasa bahwa selama ini tidak ada keadilan dalam penyebarannya, pembagiannya."|Yohan (Legislator RI) dalam dialog Sapa Indonesia Pagi Kompas TV, Kamis (20/08/26).

Yohan khawatir akan timbul tindakan tidak terpuji apabila tidak ada koordinasi yang baik antara pemerintah pusat dan daerah terkait penyaluran bantuan ini.

Kita khawatir, ini kalau tidak dikoordinasi dengan baik antara pemerintah pusat dengan pemda, dengan kepala desa, warga tidak terjamah dengan baik bantuan-bantuan ini, akan menimbulkan kerusuhan-kerusuhan dan tindakan anarki dari warga yang merasa ada ketidakadilan dan kurang perhatian dari kita semua."|Yohan (Legislator RI)

Akses Rawan dan Trauma Warga, 

sebelumnya, gempa berkekuatan M7,7 diketahui mengguncang Pulau Flores-NTT, Sabtu (15/08/26) lalu. 

saat mengunjungi Maumere dalam rangka peninjauan lokasi gempa, Yohan mengungkapkan, dirinya telah mendatangi 50 titik atau posko penanganan gempa bumi di sejumlah daerah di daratan Flores selama 3 (tiga) hari terakhir.

dari peninjauan tersebut, Yohan mendapati sejumlah jalan yang masih tertutup longsoran. 

Yohan mengatakan, jalur tersebut memang masih bisa dilalui, tetapi tebing di sekitarnya berpotensi runtuh, jika terjadi gempa susulan. 

selain itu, Yohan mengatakan, bantuan sembako belum merata dan menjangkau seluruh titik pengungsian warga terdampak.

Saya kemarin ketika 50 titik juga saya melihat bahwa; bantuan sembako ini belum sampai ke banyak titik."|Yohan (Legislator RI)

Yohan mengatakan, sebagian warga yang rumahnya hancur akibat gempa juga dilaporkan mengalami trauma mendalam, terutama di daerah Waso, Ronting, Manggarai Timur, dan sebagian Kabupaten Ngada.

yang pertama bagi warga yang kemarin rumahnya hancur sekitar di daerah Waso, Ronting, dan Manggarai Timur dan sebagian di Kabupaten Ngada itu mengalami trauma yang luar biasa,

Pertama, rumahnya hancur, semua yang mereka miliki rusak, kemudian mereka harus berpindah dari rumahnya, sehingga kegelisahan itu luar biasa."|Yohan (Legislator RI)

Kendala Posko Mandiri dan Isu Tsunami, 

Faktor lain yang memicu trauma luar biasa bagi masyarakat—khususnya yang tinggal di pesisir—adalah rentetan gempa susulan serta isu tsunami yang beredar di tengah warga.

Kondisi tersebut membuat pembentukan posko bersama menjadi terkendala karena masyarakat memilih membangun tenda mandiri di dataran yang lebih tinggi.

Sehingga inilah yang melahirkan banyak posko-posko mandiri atau tenda-tenda mandiri karena menghindari laut, karena isu soal tsunami ini membuat seluruh rakyat agak trauma dan takut,

inilah yang membuat kita kesulitan membuat posko bersama, 

masih banyak warga memilih aman dengan cara pandangnya sendiri, itu kemudian pergi agak jauh dari bibir pantai, banyak yang membangun di tempat-tempat ketinggian, kejauhan,

sehingga tidak terkoordinasi dengan baik, inilah yang membuat bantuan-bantuan sembako ini belum merata terbaik kepada seluruh masyarakat."|Yohan (Legislator RI)

Harapan dan Kebutuhan Mendesak di Pengungsian, 

meski demikian, Yohan mengapresiasi langkah pemerintah pusat, termasuk kementerian dan lembaga, yang sudah banyak turun langsung memantau lokasi terdampak. 

Yohan berharap, kunjungan tersebut dapat segera menyelesaikan berbagai persoalan krusial yang dihadapi masyarakat di posko pengungsian.

Pertama soal makannya warga-warga kita yang ada di posko-posko baik tenda yang dibangun bersama maupun yang mandiri, kemudian soal kesehatan, 

Saya melihat kemarin, karena ini banyak kampung yang jauh, sehingga cuma ada tenda, sanitasinya belum ada, WC-nya belum ada, air minum juga kesulitan, belum dilengkapi dengan paramedis ya."|Yohan (Legislator RI)

BERSUARA KERAS untuk Demokrasi dan Keadilan dan Kejujuran.

Informasi Artikel:

| Konteks: Sosial, 

| Penulis: W.J.B

| Sumber: Komisi IV DPR-RI, BNPB, Baznas NTB, 

| Penerbit: Kupang TIMES

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

Copyright © 2022 The Kupang Times Newsroom.com ™ Design By The Kupang Times Newsroom.com ®