Edisi: 1.497
Halaman 2
Integritas |Independen |Kredibel
KUPANG TIMES - Film The Odyssey tidak hanya menyajikan kisah petualangan epik dengan sinematik yang memanjakan mata.
lebih dari itu, film garapan Christopher Nolan itu, menawarkan refleksi tentang kepemimpinan lewat perjalanan Raja Odysseus.
Petualangan sang Raja kembali ke rumah setelah Perang Troya memperlihatkan bagaimana keputusan seorang pemimpin dapat membawa keberhasilan sekaligus konsekuensi besar bagi timnya.
dikutip dari Forbes, berikut, 3 (tiga) Pelajaran Kepemimpinan yang bisa dipetik dari film The Odyssey, antara lain:
1. Jangan Mengejar Kemenangan dengan Mengorbankan Segalanya,
Fokus pada hasil memang penting, tetapi kemenangan yang diraih dengan mengorbankan nilai, hubungan atau anggota tim pada akhirnya dapat menjadi kerugian. Dalam film, Odysseus sering kali mengabaikan peringatan dan masukan demi mencapai tujuannya.
Pola pikir seperti ini dikenal sebagai bottom-line mentality, yaitu: ketika target menjadi satu-satunya prioritas.
Akibatnya, kesalahan cenderung disembunyikan dan proses evaluasi tidak berjalan dengan baik.
Karena itu, pemimpin perlu menetapkan batas yang tidak boleh dilanggar agar keberhasilan tetap sejalan dengan integritas.
2. Ego yang Berlebihan membuat Tim Enggan Bersuara,
Percaya diri adalah kualitas penting bagi pemimpin, namun jika berubah menjadi kesombongan, dampaknya bisa merugikan organisasi.
Keyakinan Odysseus terhadap kemampuannya sendiri membuatnya beberapa kali mengabaikan saran dari orang-orang di sekitarnya.
Ketika pemimpin tidak terbuka terhadap masukan, anggota tim akan merasa pendapat mereka tidak dihargai.
lama-kelamaan, rasa aman untuk menyampaikan ide maupun kritik menghilang.
Padahal, umpan balik sangat penting untuk membantu pemimpin mengenali risiko dan memperbaiki keputusan sebelum terlambat.
3. Kesadaran Diri Jadi Kunci Pertumbuhan,
Perjalanan Odysseus menunjukkan bahwa menjadi pemimpin yang bijaksana membutuhkan proses panjang.
Odysseus baru memahami dampak dari keputusan-keputusannya setelah melalui berbagai kegagalan dan kehilangan.
Ini mengingatkan kita bahwa; kepemimpinan yang baik dimulai dari kesediaan untuk mengevaluasi diri.
meminta masukan secara rutin dan berani mempertanyakan, “Apa yang belum saya lihat.?” dapat membantu pemimpin memahami kelemahan sekaligus meningkatkan kualitas pengambilan keputusan.
BERSUARA KERAS untuk Demokrasi dan Keadilan dan Kejujuran.
• Informasi Artikel:
| Konteks: Edukasi,
| Penulis: W.J.B
| Sumber: Forbes,
| Penerbit: Kupang TIMES

