BEM UI Tegas Tolak Pembangunan SPPG di Kampus.!

Edisi: 1.401
Halaman 2
Integritas |Independen |Kredibel

      Potret: KT|Properti

JAKARTA, KUPANG TIMES - 'Ketua BEM UI, Yatalathof Ma'shum Imawan menegaskan keprihatinannya atas rencana pembangunan SPPG di kampus, 

Cermin kekeliruan penentuan kebijakan.'

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI), Yatalathof Ma’shum Imawan, menegaskan, penolakan terhadap rencana pembentukan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di kampus. 

Athof (sapaan akrab) menilai, kebijakan tersebut tidak tepat sasaran bagi perguruan tinggi.

Athof mengatakan, penolakan tersebut bukan berarti menolak program Makan Bergizi Gratis (MBG) secara keseluruhan. 

Athof menjelaskan, program tersebut memiliki landasan akademik yang kuat dan bisa bermanfaat jika dijalankan secara tepat.

masalahnya, jika tidak tepat sasaran, yang dikorbankan adalah fasilitas kampus yang tidak diperbaiki, biaya pendidikan yang makin tinggi, serta kesejahteraan dosen yang tetap terabaikan."|Athof (Ketua BEM UI) saat dikonfirmasi, Senin (04/05/26) 

Athof prihatin dengan rencana pembangunan SPPG di kampus, yang menurutnya mencerminkan kekeliruan dalam menentukan prioritas kebijakan pendidikan tinggi.

Jika pengambil kebijakan menyadari kebutuhan utama kampus, seharusnya yang didorong adalah peningkatan dana riset dan kesejahteraan dosen, agar menghasilkan lulusan yang berkualitas."|Athof (Ketua BEM UI)

Athof menilai, kebijakan tersebut cenderung berorientasi jangka pendek. 

yang penting kebutuhan dasar terpenuhi, tapi ke depan lulusan tetap akan kesulitan bersaing di dunia kerja jika kualitas pendidikan tidak dibenahi."|Athof (Ketua BEM UI)

Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UI itu, mengkritik para pengambil kebijakan pendidikan tinggi yang dinilai tidak fokus pada akar persoalan.

Negara gagal menciptakan lapangan kerja, tetapi justru menyalahkan kampus dan mahasiswa."|Athof (Ketua BEM UI)

Athof mengatakan, pendekatan seperti ini membuat pemerintah mendorong pendirian SPPG di kampus, alih-alih memperbaiki kualitas pendidikan tinggi agar selaras dengan kebutuhan pasar kerja.

Athof mengibaratkan kondisi tersebut seperti nakhoda yang salah mengambil arah. 

Kebijakan pendidikan tinggi saat ini seperti kapal yang diarahkan keliru, lalu kesalahan itu dibebankan kepada kampus dan mahasiswa."|Athof (Ketua BEM UI)


Sementara itu, Ketua BEM FISIP UI, Raffael Harefa mengatakan, kebutuhan mendesak civitas akademika saat ini adalah peningkatan kesejahteraan, termasuk gaji dosen dan biaya kuliah yang kian mahal.

Kalau tiba-tiba kampus diberi fasilitas dapur, ini menunjukkan prioritas yang keliru,

Para pemangku kepentingan masih menghadapi banyak persoalan mendasar."|Raffael (Ketua BEM Fisip UI) 

Raffael menilai, program MBG masih memerlukan banyak evaluasi dalam pelaksanaannya.

“menurut kami, langkah tersebut jadi terkesan terburu-buru,

seharusnya kesejahteraan civitas akademika diprioritaskan terlebih dahulu."|Raffael (Ketua BEM Fisip UI) 

cukup tahu • Universitas Hasanuddin (Unhas) menjadi kampus pertama yang membangun SPPG. 

Fasilitas tersebut diresmikan oleh Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana bersama Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Brian Yuliarto.

sebelumnya, Brian meminta perguruan tinggi untuk terlibat aktif dalam program pemerintah, termasuk dalam pembentukan SPPG, dan tidak hanya menjadi penonton.

BERSUARA KERAS untuk Demokrasi dan Keadilan dan Kejujuran.

Informasi Artikel:

| Konteks: Pendidikan, 

| Penulis: W.J.B

| Sumber: BEM UI, BEM Fisip UI, 

| Penerbit: Kupang TIMES

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

Copyright © 2022 The Kupang Times Newsroom.com ™ Design By The Kupang Times Newsroom.com ®