Edisi: 1.287
Halaman 1
Integritas |Independen |Kredibel
JAKARTA, KUPANG TIMES - Ketua Umum PDI-P, Megawati Soekarnoputri menyoroti peran Kebijakan dan Undang-Undang yang dinilainya memberi “Karpet Merah” bagi eksploitasi alam, sehingga memicu bencana ekologis dan kemanusiaan di berbagai wilayah Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan Megawati, saat dirinya membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I PDI-P di Beach City International Stadium (BCIS), Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (10/01/26).
"Undang-Undang dan Regulasi yang memberi karpet merah pada konsesi besar telah membuka jalan bagi deforestasi, perampasan tanah, dan penghancuran ekosistem."|Megawati (Ketum PDI-P)
Megawati menegaskan, bencana alam yang terjadi, khususnya di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, tidak bisa semata-mata dianggap sebagai peristiwa alam.
Megawati, mengatakan, kerusakan lingkungan merupakan konsekuensi langsung dari kebijakan pembangunan yang mengabaikan daya dukung ekologi.
“Kita harus berani Jujur,
Kerusakan ini juga dilembagakan oleh kebijakan."|Megawati (Ketum PDI-P)
Presiden Ke-5 RI itu, mengatakan, atas nama pembangunan; hutan alam dan wilayah adat dirampas lalu digantikan oleh tanaman monokultur yang miskin daya dukung ekologis.
Akibatnya, kawasan hulu yang seharusnya menjadi penyangga kehidupan kehilangan fungsinya.
“Ketika hujan turun, air tidak lagi terserap,
air kehilangan fungsinya sebagai sumber kehidupan, lalu berubah menjadi kekuatan penghancur."|Megawati (Ketum PDI-P)
Megawati, mengatakan, bencana hujan ekstrem yang terjadi pada 23 November 2025 telah melumpuhkan puluhan kabupaten dan kota di Sumatera.
Ribuan orang meninggal, ratusan dinyatakan hilang, dan ratusan ribu warga terpaksa mengungsi dari tempat tinggalnya.
kondisi tersebut menjadi peringatan keras tentang krisis peradaban ekologis yang sedang dihadapi umat manusia.
Megawati menilai, manusia telah menempatkan dirinya sebagai penguasa alam, bukan sebagai bagian dari kesatuan kehidupan.
Megawati menyinggung krisis iklim global.
untuk pertama kalinya dalam sejarah peradaban, suhu bumi kini lebih panas dibandingkan 100.000 tahun terakhir.
bahkan, ambang batas kenaikan suhu global 1,5 Derajat Celsius telah terlampaui.
“tahun 2023 mencatatkan diri sebagai salah satu tahun terpanas dalam sejarah umat manusia, diperparah oleh fenomena El Nino yang mengguncang sendi-sendi kehidupan global,
memasuki tahun 2024, suhu global bahkan telah melampaui ambang satu setengah derajat Celsius dibandingkan masa pra-industri, sebuah batas kritis yang selama ini diperingatkan oleh ilmu pengetahuan."|Megawati (Ketum PDI-P)
BERSUARA KERAS untuk Demokrasi dan Keadilan dan Kejujuran.
• Informasi Artikel:
| Konteks: Politik, Alam,
| Penulis: W.J.B
| Sumber: DPP PDI-P,
| Penerbit: Kupang TIMES
